Asuransi properti tetap menjadi penopang besar industri asuransi umum Indonesia, dengan premi mencapai Rp10,96 triliun hingga April 2026. Namun, besarnya pasar tersebut belum berarti seluruh aset masyarakat dan pelaku usaha sudah memiliki perlindungan yang memadai.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) melihat peluang pertumbuhan berikutnya justru berada pada segmen yang selama ini belum terlindungi secara optimal. Rumah tinggal, UMKM, ruko, gudang, serta usaha komersial berskala kecil menjadi sasaran perluasan penetrasi pada semester II/2026.
Premi Besar Ditopang Luasnya Aset yang Dilindungi
Ketua Umum AAUI Budi Herawan menilai kekuatan lini harta benda berasal dari luasnya basis objek pertanggungan. Hampir seluruh kegiatan ekonomi menggunakan aset fisik yang membutuhkan perlindungan terhadap risiko.
Objek tersebut mencakup pabrik, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, hotel, rumah sakit, pergudangan, kawasan industri, fasilitas energi, hingga rumah tinggal. Satu risiko pada sektor komersial atau industri juga dapat melibatkan nilai pertanggungan besar karena mencakup bangunan, mesin, persediaan, dan fasilitas pendukung.
Nilai aset yang meningkat serta biaya penggantian yang lebih tinggi membuat kebutuhan perlindungan terus berkembang. Kondisi ini membuat lini properti tetap penting bagi aktivitas investasi dan pembiayaan.
Banyak aset properti juga terkait dengan kredit perbankan atau pembiayaan. Aset yang digunakan sebagai agunan pada umumnya perlu diasuransikan, sehingga permintaan perlindungan properti cenderung relatif stabil.
Budi mengatakan kebutuhan tersebut menjadikan asuransi properti sebagai bagian penting dari aktivitas pembiayaan maupun investasi. Pernyataan itu disampaikan kepada finansial.bisnis.com pada Juli 2026.
Data Premi dan Klaim hingga April 2026
| Periode | Premi Harta Benda | Klaim Harta Benda |
|---|---|---|
| April 2026 | Rp10,96 triliun | Rp4,28 triliun |
Data Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan lini harta benda masih menjadi salah satu kontributor utama pada industri asuransi umum gabungan. Pada periode April 2026, klaim lini tersebut tercatat Rp4,28 triliun.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono memandang prospek perlindungan properti masih positif. Pandangan itu didukung berlanjutnya pembangunan infrastruktur, pertumbuhan sektor properti, serta meningkatnya kebutuhan perlindungan aset oleh masyarakat dan dunia usaha.
Produk Sederhana dan Distribusi Digital Jadi Fokus
AAUI mendorong pengembangan produk yang lebih sederhana dan sesuai dengan kebutuhan pemilik aset. Perlindungan properti dapat dipadukan dengan risiko banjir, gempa bumi, gangguan usaha, atau perlindungan atas isi bangunan.
Pendekatan tersebut dinilai dapat membuat asuransi lebih relevan bagi pemilik rumah, pelaku UMKM, dan usaha kecil. Produk yang mudah dipahami juga berpotensi memperluas akses pada kelompok yang belum memiliki perlindungan optimal.
Perluasan pasar tidak hanya bergantung pada produk, tetapi juga saluran distribusi. AAUI melihat kerja sama dengan perbankan, perusahaan pembiayaan, pengembang properti, pengelola kawasan industri, perusahaan teknologi, dan platform digital dapat memperkuat jangkauan industri.
Distribusi digital serta skema embedded insurance juga disebut dapat memudahkan masyarakat mengakses perlindungan. Dalam skema ini, perlindungan asuransi dapat terintegrasi dengan layanan atau transaksi yang berkaitan dengan aset dan pembiayaan.
Pertumbuhan Premi Harus Tetap Sehat
Di tengah peluang ekspansi, Budi mengingatkan bahwa kenaikan premi tidak boleh mengabaikan kualitas bisnis. Industri perlu menjaga disiplin underwriting, melakukan penilaian risiko secara akurat, dan menetapkan tarif yang mencerminkan risiko.
Pengendalian akumulasi risiko serta dukungan reasuransi yang memadai juga menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan portofolio. AAUI menekankan pertumbuhan premi seharusnya tidak hanya besar secara nominal, tetapi juga menghasilkan portofolio yang berkualitas dan berkelanjutan.
Dengan basis aset yang luas dan kebutuhan perlindungan yang terus berkembang, lini harta benda masih menyimpan ruang ekspansi besar. Tantangan industri berikutnya adalah mengubah aset yang belum terlindungi menjadi pasar baru tanpa mengorbankan kehati-hatian dalam pengelolaan risiko.
