Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan serangan militer terbaru ke wilayah Iran dilakukan sebagai balasan atas kematian tiga personel militer AS di Timur Tengah. Pernyataan itu menempatkan operasi tersebut sebagai respons langsung Washington terhadap gugurnya anggota militernya di kawasan.
Trump juga kembali menggarisbawahi satu tuntutan utama terhadap Teheran, yakni Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Pemerintah AS, menurut dia, akan terus mengambil langkah untuk memastikan tujuan itu tercapai.
Balasan atas tiga personel militer AS
Pernyataan Trump disampaikan saat ia tiba di Pangkalan Militer Gabungan Andrews, Maryland, pada Minggu. Ia menyebut tiga anggota militer AS yang tewas sebagai patriot dan mengatakan serangan kembali dilakukan pada malam hari.
“Kami kembali menyerang mereka dengan sangat keras malam ini. Tindakan ini kami lakukan demi tiga patriot hebat yang telah gugur,” kata Trump, seperti dikutip Antara.
Trump mengklaim operasi tersebut menimbulkan kerusakan besar di sejumlah lokasi di Iran. Namun, ia tidak menjelaskan sasaran spesifik yang diserang maupun rincian dampak dari operasi militer itu.
Ketiadaan rincian mengenai target membuat skala kerusakan yang diklaim Trump belum tergambar secara lebih jelas. Yang disampaikan secara terbuka adalah alasan serangan itu dikaitkan dengan kematian tiga personel militer Amerika Serikat.
Tekanan terhadap program nuklir Iran
Di luar alasan pembalasan, Trump menggunakan kesempatan itu untuk kembali menegaskan posisi pemerintahannya mengenai kemampuan nuklir Iran. Ia menyatakan Washington tidak akan membiarkan Teheran memiliki senjata nuklir.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa serangan militer dan isu nuklir ditempatkan dalam satu garis kebijakan AS terhadap Iran. Trump menilai langkah Washington tidak cukup hanya berhenti pada upaya mencegah pengembangan kemampuan militer tertentu.
Menurut Trump, Amerika Serikat siap bergerak lebih jauh untuk menuntaskan persoalan yang dihadapinya dengan Iran. Ia juga membuka kemungkinan operasi militer berlanjut apabila langkah itu dinilai perlu.
Posisi tersebut memperlihatkan nada yang lebih keras dalam pendekatan Washington. Trump tidak merinci bentuk tindakan lanjutan yang dapat diambil maupun batasan operasi yang sedang atau akan dilakukan.
Klaim soal Selat Hormuz dan kekuatan Iran
Trump turut mengklaim bahwa Amerika Serikat kini memiliki kendali atas jalur pelayaran strategis Selat Hormuz. Dalam pernyataannya, ia menilai Iran tidak lagi berada pada posisi yang kuat.
Selat Hormuz disebut Trump dalam konteks penilaian terhadap posisi strategis Iran setelah serangan. Ia tidak memaparkan rincian mengenai bentuk kendali AS atas jalur pelayaran tersebut.
Trump juga menilai kemampuan militer Iran telah melemah. Meski demikian, ia mengakui Iran masih mempunyai persediaan rudal dan pesawat nirawak atau drone.
Menurut Trump, jumlah persediaan rudal dan drone itu tidak lagi signifikan. Penilaian tersebut menjadi bagian dari argumennya bahwa posisi militer Iran telah mengalami pelemahan.
Laporan www.medcom.id menyebut Trump tidak menjelaskan secara terperinci lokasi yang terdampak atau ukuran kerusakan dari serangan terbaru itu. Karena itu, pernyataan yang tersedia berpusat pada klaim Trump mengenai balasan atas tiga personel AS, tekanan terhadap isu nuklir, serta penilaian Washington atas kekuatan Iran.
Trump menegaskan Amerika Serikat siap melanjutkan operasi bila dianggap diperlukan. Sikap itu menandakan isu keamanan personel AS, kemampuan militer Iran, dan larangan kepemilikan senjata nuklir tetap menjadi pokok pernyataan pemerintahannya.
