Bank Sentral AS (The Fed) yang mulai menurunkan Fed Fund Rate memberikan dampak signifikan berupa meningkatnya aliran modal ke pasar berkembang atau emerging markets, termasuk Indonesia. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, dalam konferensi pers APBN KiTA Oktober 2025 di Jakarta menyatakan bahwa prospek pemangkasan suku bunga oleh The Fed akan menjadi katalis positif bagi investasi asing masuk ke berbagai negara berkembang.
Pemulihan Ekonomi Global dan Dampaknya pada Emerging Market
Menurut Purbaya, meskipun tensi geopolitik seperti perang dagang antara AS dan China serta shutdown pemerintahan AS masih berlangsung, indikator ekonomi global menunjukkan perbaikan yang mulai terlihat. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) global tetap mencerminkan pertumbuhan ekspansif di sektor manufaktur, khususnya di kawasan Asia. Negara seperti India, Arab Saudi, dan Thailand bahkan mencatat pertumbuhan manufaktur yang solid. Sementara, beberapa negara maju menunjukkan perlambatan.
Kondisi ini memberikan peluang besar bagi penurunan suku bunga The Fed, yang pada gilirannya dapat memperkuat aliran modal ke negara-negara emerging market. Indonesia termasuk salah satu tujuan utama dalam pergerakan modal tersebut. Purbaya mengungkapkan, “Ekspansi pasar juga mencerminkan peluang tinggi penurunan suku bunga oleh The Fed. Ini bisa menjadi katalis positif bagi aliran modal ke emerging market, termasuk ke Indonesia.”
Pasar Keuangan Domestik Menguat
Di pasar domestik, meskipun nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sekitar 2,8 persen secara year-to-date, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat menguat signifikan sebesar 16,6 persen. Ini menunjukkan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia yang tetap baik.
Lebih lanjut, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun mengalami penurunan tajam sebesar 88 basis points. Penurunan ini jauh lebih dalam dibandingkan dengan negara-negara lain, menandakan persepsi risiko terhadap pasar obligasi Indonesia telah menurun. Purbaya menilai kondisi ini sebagai sinyal positif yang mencerminkan efektivitas bauran kebijakan nasional dalam menjaga stabilitas pasar keuangan dan daya tarik investasi.
“Yield SBN turun 88 basis points menandakan kepercayaan yang bagus terhadap surat utang kita. Kondisi ini menguntungkan karena ketika menerbitkan surat utang baru, biaya bunga (cost of capital) menjadi lebih rendah,” jelas Purbaya.
Hati-hati terhadap Sentimen Non-Ekonomi
Meski prospek ekonomi menunjukkan tren positif, Menkeu menegaskan bahwa Indonesia harus tetap waspada terhadap risiko eksternal, khususnya sentimen non-ekonomi yang masih sangat sensitif. Kebijakan fiskal AS dan gejolak geopolitik bisa memicu volatilitas harga aset global, seperti emas yang berperan sebagai aset safe haven ketika investor mencari perlindungan.
“Sentimen global sangat rentan terhadap faktor non-ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia harus tetap cermat,” kata Purbaya.
Manfaat bagi Indonesia dari Perlambatan Perang Dagang
Purbaya juga memandang potensi positif dari ketegangan dagang antara AS dan China yang terjadi berulang kali. Menurutnya, Indonesia dan beberapa negara emerging lainnya berpeluang mendapatkan manfaat karena aliran modal dan investasi yang beralih dari negara-negara besar menuju pasar negara berkembang, yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi.
Dengan penurunan Fed Fund Rate sebagai titik awal, arus modal asing yang meningkat diprediksi akan memperkuat posisi Indonesia sebagai destinasi investasi. Ini sekaligus mendukung stabilitas keuangan dan pembangunan jangka panjang, terutama di tengah kompleksitas geopolitik dan ekonomi global saat ini.
Ringkasan Dampak Penting Penurunan Fed Fund Rate
- Aliran modal asing lebih deras ke emerging market, termasuk Indonesia.
- PMIs manufaktur di kawasan Asia dan pasar berkembang tetap ekspansif.
- IHSG menguat signifikan meski rupiah mengalami tekanan.
- Yield SBN 10 tahun turun tajam, mengindikasikan penurunan risiko investasi.
- Indonesia tetap waspada terhadap sentimen non-ekonomi global.
Dengan kondisi tersebut, Indonesia berada dalam posisi yang cukup menguntungkan untuk menarik lebih banyak investasi dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di tengah dinamika global yang terus berubah. Bank Indonesia dan pemerintah diharapkan terus mempertahankan kebijakan yang adaptif dan responsif agar daya tarik pasar domestik tetap terjaga.
Source: www.viva.co.id
