Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bersifat sementara dan akan terus dijaga stabilitasnya melalui berbagai tindakan intervensi pasar. Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny, menyatakan bahwa meskipun rupiah sempat menyentuh level Rp 16.700 per dolar AS, situasi tersebut masih terkelola dengan baik dan dianggap sebagai fluktuasi jangka pendek.
Sebagai komitmen menjaga rupiah agar tetap kondusif dan dipercaya oleh investor, BI secara aktif melakukan intervensi di pasar keuangan. Intervensi itu dilakukan dengan menggunakan beberapa instrumen utama, seperti Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF), Non-Deliverable Forward (NDF), dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Kegiatan ini berlangsung tidak hanya di pasar domestik, tetapi juga meluas ke kawasan Asia, Eropa, dan Amerika Serikat guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Intervensi Bank Indonesia untuk Menstabilkan Rupiah
- Pasar Spot
- Pasar DNDF
- Pasar NDF
- Pembelian SBN di pasar sekunder
Menurut BI, penggunaan berbagai instrumen tersebut sangat efektif dalam menahan volatilitas nilai tukar rupiah. BI memastikan akan terus berada di pasar dengan mengoptimalkan alat yang tersedia agar pergerakan rupiah tetap terkendali dan cenderung menguat.
Kondisi fundamental Indonesia dipercaya mendukung prospek penguatan rupiah. Pertumbuhan ekonomi Tanah Air yang semakin stabil mencerminkan daya tahan ekonomi yang baik di tengah ketidakpastian global. Selain itu, inflasi yang terjaga rendah dan stabil menjadi faktor positif yang menguatkan daya beli rupiah. Cadangan devisa Indonesia yang masih besar juga berperan penting sebagai bantalan untuk menjaga stabilitas nilai tukar terhadap tekanan eksternal.
Faktor Pendukung Penguatan Rupiah:
- Pertumbuhan ekonomi yang stabil
- Inflasi rendah dan terkendali
- Cadangan devisa yang besar
- Daya tarik pasar Surat Berharga Negara (SBN)
Bank Indonesia percaya prospek ekonomi Indonesia tetap cerah. Menurut pernyataan Gubernur BI, pasar negara berkembang seperti Indonesia memiliki nilai lebih karena pertumbuhan ekonominya yang bagus dan inflasi yang terkendali. Cadangan devisa yang memadai memberikan kepercayaan tambahan kepada investor internasional untuk berinvestasi dalam SBN, memperkuat posisi rupiah di pasar global.
Di sisi lain, data terbaru menunjukkan rupiah sempat melemah pada pembukaan perdagangan hari Jumat, 7 November 2025, di level Rp 16.711 per dolar AS, turun 0,04 persen dibanding hari sebelumnya yang berada pada Rp 16.701 per dolar AS. Meskipun demikian, dinamika nilai tukar rupiah ini masih wajar mengingat adanya tekanan dari penguatan dolar AS secara global. Beberapa mata uang di Asia pun menunjukkan pergerakan yang bervariasi terhadap dolar AS.
BI tetap optimistis bahwa dengan intervensi yang konsisten dan kondisi fundamental yang kuat, rupiah memiliki kecenderungan untuk kembali menguat. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa fluktuasi terkini belum mengubah tren jangka panjang stabilitas rupiah.
Bank Indonesia terus memantau perkembangan pasar dan akan menggunakan berbagai strategi yang diperlukan demi menjaga stabilitas nilai tukar. Dengan demikian, pelaku pasar dan investor memperoleh kepastian bahwa rupiah tetap menjadi mata uang yang dapat diandalkan di tengah situasi ekonomi global yang dinamis.
