Samsung Electronics menembus valuasi pasar $1 triliun setelah harga sahamnya melonjak lebih dari empat kali lipat dalam setahun terakhir. Kenaikan ini didorong permintaan yang meledak untuk chip memori yang dipakai dalam infrastruktur kecerdasan buatan atau AI.
Lonjakan terbaru datang saat saham Samsung melonjak 14 persen pada Rabu. Pencapaian itu menjadikan Samsung perusahaan Asia kedua setelah Taiwan Semiconductor Manufacturing Co. yang mencapai level valuasi tersebut.
Momentum Samsung langsung mengguncang pasar saham Korea Selatan. Kenaikan saham perusahaan itu ikut mengangkat indeks Kospi lebih dari 6 persen dan mendorongnya menembus level 7.000 untuk pertama kalinya.
Kenaikan ini memperlihatkan peran sentral Samsung dalam ledakan AI global. Bersama SK Hynix dan TSMC, perusahaan tersebut kini berada di jantung perubahan yang menempatkan Asia sebagai fondasi penting ekosistem AI dunia.
Permintaan terhadap chip canggih dan kapasitas komputasi yang terus membesar memicu reli luas saham teknologi kawasan. SK Hynix dan TSMC juga telah mencetak rekor tertinggi baru seiring investor bertaruh bahwa kebutuhan chip AI akan bertahan lama.
Dave Mazza, chief executive officer Roundhill Investments di New York, menilai ambang $1 triliun bukan sekadar simbol. Menurut dia, level itu mencerminkan penilaian pasar bahwa peran memori dalam tumpukan infrastruktur AI bersifat struktural, bukan lagi siklus biasa.
Penguatan valuasi Samsung juga ditopang kinerja bisnis semikonduktornya yang melonjak tajam. Beberapa hari sebelumnya, divisi chip perusahaan membukukan laba kuartal Maret tertinggi dalam sejarah setelah melonjak 48 kali lipat dan melampaui ekspektasi.
Peningkatan itu datang dari pesanan pusat data AI yang menghasilkan margin besar. Para analis memperkirakan divisi tersebut masih akan memperpanjang tren laba rekor dalam beberapa kuartal ke depan karena harga kontrak chip terus menanjak di tengah pasokan yang terbatas.
Sam Konrad, investment manager di Jupiter Asset Management, mengatakan peluang investasi di Samsung masih menarik bahkan bagi investor yang merasa sudah terlambat masuk. Ia menilai pasar memori saat ini masih kekurangan pasokan, dan Samsung sendiri menyebut keseimbangan suplai dan permintaan pada 2027 akan lebih ketat dibanding 2026.
Pandangan itu memperkuat narasi bahwa harga NAND dan DRAM masih berpotensi naik. Di pasar, keyakinan ini ikut mendorong perubahan persepsi bahwa bisnis memori sedang memasuki super-cycle permintaan yang mematahkan pola lama boom and bust.
Arus dana asing dan efek ke pasar Korea
Reli Samsung juga tampak ditopang arus dana global. Media lokal menyebut adanya kerja sama antara Interactive Brokers dan Samsung Securities yang memungkinkan investor AS membeli saham Korea secara langsung.
Pada Rabu, investor global tercatat membeli bersih saham Kospi senilai 3,1 triliun won atau sekitar $2,1 miliar. Arus masuk tersebut juga membantu mengangkat nilai won Korea Selatan lebih dari 1 persen terhadap dolar AS, menjadikannya mata uang dengan kinerja terbaik di Asia pada hari itu.
Kenaikan Samsung dan SK Hynix sangat penting bagi pasar domestik karena bobot gabungan keduanya di indeks Kospi melampaui 43 persen. Reli dua saham itu ikut menjadikan Korea Selatan salah satu pasar paling panas di dunia saat ini.
Pengaruhnya bahkan meluas ke tingkat regional. Kenaikan saham kedua perusahaan ikut membantu mendorong indeks saham Asia ke rekor tertinggi sepanjang masa.
Mark Davids, APAC head of the emerging markets and Asia Pacific equities team di JPMorgan Asset Management, mengatakan penguatan laba korporasi secara agregat kini terutama datang dari sektor teknologi. Ia menyebut laba Samsung mencerminkan periode yang sangat tidak biasa ketika perusahaan-perusahaan seperti ini dapat mencetak keuntungan yang sangat besar.
Masih ada tantangan di balik euforia
Meski bisnis chip sedang bersinar, Samsung belum sepenuhnya bebas dari tekanan. Pertumbuhan laba unit semikonduktor berbanding terbalik dengan penurunan di bisnis ponsel dan layar yang menghadapi kenaikan harga material serta komponen.
Perusahaan juga menghadapi tekanan internal akibat lonjakan keuntungan dari AI. Karyawan disebut menuntut porsi yang lebih besar, dan pekerja mengancam mogok umum selama 18 hari pada akhir bulan ini.
Di luar itu, Samsung juga disebut tengah masuk dalam pembicaraan eksploratif dengan Apple. Apple dikabarkan mendiskusikan kemungkinan memakai Samsung untuk memproduksi prosesor utama perangkatnya di Amerika Serikat sebagai opsi tambahan selain mitra lama, TSMC.
Prospek saham Samsung sendiri masih dinilai positif oleh pasar. Berdasarkan estimasi analis sell-side yang dihimpun Bloomberg, saham perusahaan diperkirakan masih berpotensi naik sekitar 22 persen dalam 12 bulan ke depan.
Menariknya, saham Samsung kini diperdagangkan pada 6 kali proyeksi laba satu tahun ke depan. Angka itu jauh di bawah level 14,4 kali yang sempat tercatat pada Oktober, menunjukkan bahwa reli besar yang terjadi masih dipandang belum sepenuhnya menghapus ruang kenaikan menurut sebagian pelaku pasar.
