5,16 Miliar Anomali Siber Mengintai, ITSEC Asia Kirim Benteng Digital Ke Indonesia Timur

Author: Qoo Media

Bayang-bayang ancaman siber di Indonesia makin nyata saat BSSN mencatat lebih dari 5,16 miliar anomali trafik di ruang siber nasional sepanjang 2025. Angka itu menjadi alarm keras bahwa pertahanan digital tidak cukup hanya mengandalkan pencegahan, karena respons insiden yang cepat kini sama pentingnya untuk menahan dampak serangan.

Situasi itu mendorong PT ITSEC Asia Tbk (IDX: CYBR) bergerak lebih jauh bersama Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI). Keduanya menggelar Roadshow Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS) di Makassar sebagai titik penting untuk penguatan pertahanan digital Indonesia Timur.

Makassar jadi titik strategis

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Novotel Makassar Grand Shayla itu mempertemukan pemangku kebijakan, praktisi, dan pemimpin industri. Makassar dipilih sebagai kota kedua dalam rangkaian GNKS 2026 setelah Banten pada akhir April lalu.

Dalam forum tersebut, peserta tidak hanya mendengar paparan, tetapi juga masuk ke agenda Executive Tabletop Exercise. Format ini dirancang agar pengambil keputusan memahami dinamika penanganan krisis siber secara lebih nyata.

Simulasi krisis lima tahap

GNKS dikemas secara interaktif dengan lima tahapan simulasi krisis yang saling berlapis. Peserta memulai dari memahami peta ancaman, lalu menyusun strategi mitigasi, mengeksekusi keputusan saat simulasi berjalan, mempresentasikan langkah strategis, dan menutupnya dengan evaluasi bersama.

Pendekatan ini membuat peserta melihat bagaimana serangan siber bisa berkembang menjadi krisis besar. Dari sana, mereka dilatih untuk merespons dengan lebih tepat dan terukur.

Tiga alat yang dibawa pulang

Selain pengalaman simulasi, peserta juga memperoleh tiga instrumen proteksi yang bisa diterapkan di perusahaan masing-masing. Instrumen itu mencakup Security Flow, Security Design Concept, serta Security Skills Assessment & Recognition.

Security Flow berfungsi memetakan prioritas pengamanan berdasarkan probabilitas dampak insiden. Security Design Concept memberi cetak biru tentang alur data yang aman, batas kepercayaan sistem, dan otentikasi berlapis, sedangkan Security Skills Assessment & Recognition dipakai untuk mengukur kesiapan kompetensi tim internal menghadapi serangan.

President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, menegaskan bahwa ancaman siber kini sudah menjadi isu korporat di tingkat manajemen. Ia menyebut serangan siber bisa langsung melumpuhkan operasional bisnis, merusak layanan konsumen, dan menghancurkan reputasi perusahaan.

Dorongan untuk ekonomi digital

Dukungan juga datang dari Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas. Ia menilai perluasan kapasitas keamanan siber merupakan fondasi utama untuk menjaga roda ekonomi digital nasional tetap berputar dengan aman.

Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, menyoroti pentingnya pemerataan edukasi siber ke wilayah di luar Pulau Jawa. Ia menilai Makassar sangat strategis karena menjadi penggerak ekonomi di Indonesia Timur dan layak menjadi pusat penyebaran gerakan GNKS.

Gerakan ini tidak berhenti di Makassar. Sepanjang 2026, ITSEC Asia bersama ADIGSI berkomitmen melanjutkan edukasi ke Pontianak, Bali, Yogyakarta, dan Medan untuk membangun benteng pertahanan siber yang lebih solid.

Source: www.gadgetdiva.id
Terbaru