Benjamin Netanyahu mendapat sorakan keras saat berpidato di upacara kelulusan militer di Israel selatan. Dalam momen itu, ia juga didesak mundur dari jabatan perdana menteri di tengah gelombang protes yang terus meluas di berbagai kota Israel.
Sorakan tersebut muncul saat Netanyahu berbicara di upacara kelulusan perwira tempur di pangkalan militer Bahad 1, sekolah pelatihan perwira tentara Israel. Harian Yedioth Ahronoth, seperti dilansir Anadolu Agency, melaporkan bahwa teriakan itu terdengar di tengah pidato resmi tersebut.
Dalam pidatonya, Netanyahu mengeklaim Israel sedang berada di puncak perang regional yang berkelanjutan. Ia juga menyebut Israel telah berhasil mengubah aturan main di kawasan, menghancurkan penghalang rasa takut, dan menunjukkan kekuatan cengkeraman besinya.
Namun, suasana di luar panggung mencerminkan tekanan politik yang makin besar. Para demonstran di sejumlah kota menuntut pemilihan umum dini dan menyalahkan pemerintah Netanyahu atas kegagalan terkait serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 serta dampak perang di Jalur Gaza dan wilayah yang lebih luas.
Peringatan politik terhadap Netanyahu juga datang dari luar negeri. Awal pekan ini, beredar kabar bahwa pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump berupaya mengganti pemerintahan Netanyahu setelah berulang kali bersitegang soal Iran.
Channel 12 pada Minggu (21/6) melaporkan bahwa para pejabat di pemerintahan Trump menilai kabinet Netanyahu perlu diganti karena unsur-unsurnya dianggap terlalu garis keras. Laporan itu juga menyebut pemerintah AS telah menyatakan keprihatinan atas kelompok garis keras dalam pemerintahan Netanyahu dan berupaya membangun basis dukungan populer baru sebelum pemilihan umum Israel.
Di sisi lain, hasil jajak pendapat yang dirilis surat kabar Israel Maariv pada Jumat (19/6) menunjukkan oposisi dapat membentuk pemerintahan jika pemilihan digelar saat itu. Dalam survei itu, oposisi unggul 61 kursi dibandingkan 49 kursi untuk blok Netanyahu.
Jajak pendapat yang sama juga mengindikasikan partai-partai Arab akan meraih 10 kursi dalam pemilu yang dijadwalkan Oktober mendatang. Hasil itu menambah gambaran bahwa posisi politik Netanyahu sedang menghadapi tekanan dari jalanan, parlemen, dan juga dinamika di tingkat internasional.
Source: www.cnnindonesia.com






