Proses banding atas kasus penyalahgunaan dana Uni Eropa oleh Marine Le Pen mencapai babak terbaru di Paris. Jaksa Prancis mengajukan permintaan agar Le Pen dikenai larangan selama lima tahun untuk mencalonkan diri dalam jabatan publik, namun mereka menyarankan agar larangan itu tidak diberlakukan segera.
Larangan tersebut, jika disetujui pengadilan banding, membuka peluang bagi Le Pen untuk tetap berpartisipasi dalam pemilihan presiden tahun 2027. Pengadilan tidak wajib mengikuti permintaan jaksa, sehingga keputusan akhir tetap dinantikan dalam beberapa bulan ke depan.
Pada putusan awal bulan Maret tahun sebelumnya, Le Pen mengalami kekalahan berat karena dijatuhi larangan mencalonkan diri selama lima tahun secara langsung. Pengadilan menyatakan bahwa ia terlibat langsung dalam skema penyalahgunaan dana sebesar lebih dari 4 juta euro milik Uni Eropa yang digunakan untuk membayar staf partai sayap kanan jauh di Prancis.
Jaksa menegaskan tuduhan tersebut dan mendesak agar pengadilan banding menjatuhkan hukuman penjara selama empat tahun kepada Le Pen. Dari hukuman tersebut, tiga tahun dapat ditangguhkan, sementara satu tahun dijalani di rumah dengan masa pengawasan elektronik.
Selain Le Pen, tokoh lain dari partai Rassemblement National (RN) juga dinyatakan bersalah atas pengalihan dana Parlemen Eropa. “Dia yang menandatangani kontrak dan menetapkan aturan internal partai,” kata Thierry Ramonatxo, jaksa dari kantor kejaksaan Paris. Le Pen membantah melakukan kesalahan apa pun dalam persidangan banding tersebut.
Berbeda dengan putusan pertama, jaksa tidak meminta agar larangan atau hukuman langsung diberlakukan sebelum semua jalur banding selesai. Jika putusan pengadilan banding tetap memutus bersalah dan Le Pen mengajukan kasasi ke Cour de Cassation, dia berpotensi tetap mencalonkan diri dalam pemilu presiden.
Cour de Cassation menjanjikan untuk menyelesaikan putusan atas kasasi sebelum pemilu yang dijadwalkan berlangsung pada April atau Mei. Namun, putusan final yang membebankan vonis bersalah dekat dengan waktu pemilu bisa membawa risiko politik yang signifikan bagi Le Pen dan RN.
Marine Le Pen sendiri telah tiga kali maju dalam pemilihan presiden. Jika dia tidak bisa bertarung pada 2027, posisi calon presiden RN kemungkinan besar akan diambil oleh Jordan Bardella. Bardella, berusia 30 tahun, berhasil memperluas basis dukungan RN, terutama kalangan pemilih muda.
Namun, sejumlah analis meragukan pengalaman Bardella yang masih terbatas untuk memenangkan pemilihan presiden, yang mengharuskan menarik dukungan dari pemilih yang lebih luas. Situasi ini menimbulkan pertanyaan tentang masa depan politik Le Pen dan RN menjelang kontestasi politik paling penting di Prancis.
