Sebuah gedung apartemen modern di Florence, Italia, yang dikenal dengan julukan "Black Cube" kini menjadi sorotan tajam karena desain arsitekturnya yang dianggap sangat buruk dan tidak sesuai dengan karakter kota. Bangunan ini menimbulkan kontroversi yang begitu serius hingga memicu penyelidikan polisi terkait proses perizinan dan pembangunan yang dinilai penuh kejanggalan.
Black Cube, secara resmi bernama Teatro Luxury Apartments, berdiri tak jauh dari Sungai Arno, berdampingan dengan vila-vila bernuansa klasik yang berwarna kuning mentega dan krim. Gedung ini menampilkan fasad berwarna gelap dengan material kuningan yang dipoles, kontras mencolok dengan bangunan sekitar yang bersejarah dan tradisional. Warga lokal seperti Stefano Pieri menilai gedung tersebut “brutto” atau jelek karena sama sekali tidak sesuai dengan konteks lingkungan sekitar.
Kawasan Bersejarah Terancam
Apartemen ini dibangun di lokasi bekas Teatro Comunale, tak jauh dari kedutaan AS dan stasiun kereta Santa Maria Novella. Gedung itu menawarkan 150 unit sewa jangka pendek untuk mahasiswa dan profesional berpendapatan tinggi. Fasilitasnya mencakup restoran mewah, spa, dan parkir bawah tanah, yang dikelola oleh jaringan Star Hotels. Namun, kemewahan ini tidak mampu mengurangi ketidakpuasan warga dan keluarga bangsawan setempat yang telah lama tinggal di Florence.
Pihak kejaksaan setempat kini tengah memeriksa minimal 12 orang yang diduga terlibat dalam pelanggaran proses perizinan, perencanaan tata kota, dan pengalihan hak milik lahan yang terjadi sejak 2013 saat pemerintah kota dijabat oleh Matteo Renzi. Properti ini awalnya dikelola oleh institusi negara, kemudian dilelang dan berpindah tangan ke perusahaan investasi asal Italia dan selanjutnya ke konsorsium antara Blue Noble dan Hines dalam dana Future Living yang dikelola oleh Savills di London. Pihak pengembang Hines menegaskan bahwa semua izin konstruksi sudah sesuai prosedur.
Protes dari Keluarga Bangsawan Bersejarah
Keluhan semakin keras ketika 16 keluarga bangsawan berusia ratusan tahun yang masih memiliki properti di Florence mengirim surat terbuka kepada walikota. Mereka mendesak moratorium pembangunan mewah di sekitar area industri bekas dekat stasiun kereta Leopolda agar kerusakan visual kota bisa dihentikan. Surat itu menegaskan, “Kita harus menyelamatkan Florence dari ‘kubus hitam’ berikutnya. Jangan biarkan kota kami menjadi korban penghancuran.”
Salah satu tokoh penentang adalah arsitek Roberto Budini Gattai, yang dijuluki "Nobleman Komunis" karena perannya memimpin protes. Selain itu, Claude Marie Agnès Cathérine d’Orléans, seorang bangsawan Perancis dan mantan Duchess of Aosta yang menetap di Florence, juga ikut menandatangani surat protes tersebut. Ia secara tegas menyebut Black Cube dan Social Hub lain di kota itu sebagai “monstrosities” dan menilai desainnya tidak mempertimbangkan arsitektur klasik kota yang kaya sejarah.
Tanggapan Warga dan Tantangan Ke depan
Warga Florence merasa terpinggirkan oleh pembangunan gedung mewah yang tidak sesuai gaya mereka. Seorang warga, Jacopo Palorni, mengemukakan bahwa gedung itu jelas bukan untuk warga asli Florence. Bersama istrinya, ia terpaksa pindah dari pusat kota ke pinggiran karena harga properti yang semakin tidak terjangkau. Palorni mengeluh bahwa partisipasi publik sangat minim dengan tidak adanya tanggapan atas keluhan mereka selama proses pembangunan berlangsung.
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana ketegangan antara perkembangan modern dan pelestarian budaya serta estetika kota bersejarah. Florence yang telah dikenal dengan landmark seperti Palazzo Vecchio, Campanile Giotto, dan Kubah Brunelleschi, kini menghadapi dilema tata kota yang sulit dipecahkan. Pemerintah dan masyarakat bekerja sama mengawasi setiap langkah pembangunan agar masa depan kota tetap harmonis dengan warisan sejarahnya.
