Narendra Modi akan memulai kunjungan dua harinya ke Israel, menandai momen penting dalam hubungan bilateral yang telah berkembang pesat selama beberapa dekade. Kunjungan ini berlangsung sembilan tahun setelah kunjungan perdananya ke Israel, yang merupakan kunjungan pertama seorang Perdana Menteri India ke negara tersebut.
Meskipun India telah memperkuat hubungan di bidang pertahanan, keamanan, perdagangan, dan teknologi dengan Israel, posisi resmi India terhadap konflik Israel-Palestina tetap mendukung solusi dua negara. Namun, sikap India di panggung internasional terkadang tampak berhati-hati dan berimbang, mengingat dukungan historisnya terhadap perjuangan Palestina.
Sejarah Awal Hubungan India dengan Israel dan Palestina
Pada era 1930-an dan 1940-an, India secara tegas menolak pembentukan negara Israel dan lebih memihak perjuangan kemerdekaan Palestina. Di bawah kolonialisme Inggris, Palestina berada di bawah administrasi Inggris dan India menentang Deklarasi Balfour yang menjanjikan tanah bagi Yahudi di sana. Mahatma Gandhi bahkan menegaskan bahwa “Palestina milik Arab seperti Inggris milik orang Inggris.” India juga memberikan suara menentang Rencana Pembagian Palestina oleh PBB pada 1947 dan menolak keanggotaan Israel di PBB setahun kemudian.
Pada 1950-an, India akhirnya mengakui Israel secara resmi tetapi tetap enggan menjalin hubungan diplomatik langsung karena kekhawatiran terhadap reaksi negara-negara Arab. India bahkan melarang penggunaan paspor untuk perjalanan ke Israel selama lebih dari tiga dekade.
Dekade 1960-an hingga 1980-an: Hubungan Tersembunyi dan Dukungan Terbuka kepada Palestina
Meski mendukung Palestina secara terbuka, India mulai menjalin hubungan rahasia dengan Israel terutama di bidang militer. Pada perang India-Tiongkok 1962, Israel mengirimkan persenjataan rahasia untuk India dengan batasan agar tidak menonjolkan keterlibatan Israel. Selama perang India-Pakistan 1965 dan 1971, bantuan senjata dari Israel tetap mengalir.
Namun di sisi lain, India juga menguatkan dukungannya terhadap Palestina dengan mengakui Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai wakil tunggal rakyat Palestina pada 1974 dan membuka kantor PLO di India setahun kemudian. Pemimpin PLO, Yasser Arafat, bahkan sempat menyebut Perdana Menteri India, Indira Gandhi, sebagai “saudarinya” saat kunjungan pada 1983.
Pada 1988, India menjadi salah satu negara non-Arab pertama yang mengakui negara Palestina.
Era 1990-an: Normalisasi Hubungan dengan Israel
Setelah berakhirnya Perang Dingin dan dimulainya reformasi ekonomi di India, hubungan formal antara India dan Israel dimulai pada awal 1990-an. Pada Januari 1992, kedua negara mendirikan kedutaan dan menjalin hubungan diplomatik resmi. Ini terjadi setelah pertemuan antara PM India, PV Narasimha Rao, dan Yasser Arafat yang menyepakati penghormatan terhadap keputusan India tersebut.
Israel turut membantu India secara militer dalam Perang Kargil 1999 dengan menyediakan perlengkapan laser-guided bomb dan rudal.
Era 2014 dan Seterusnya: Kerjasama Terbuka di Bawah Pemerintahan Modi
Sejak Narendra Modi memimpin mulai 2014, hubungan India-Israel makin terbuka dan erat. Pada 2015, Presiden Pranab Mukherjee menjadi presiden India pertama yang mengunjungi Israel. Kunjungan Modi ke Israel pada 2017 memperkuat kemitraan di bidang teknologi, inovasi, kewirausahaan, pertahanan, dan keamanan.
Kerjasama militer semakin intens dengan partisipasi Angkatan Udara India dalam latihan multilateral di Israel serta kolaborasi antara perusahaan pertahanan besar seperti Elbit Systems dan Rafael dengan grup-industri India seperti Adani dan Tata Advanced Systems.
Perdagangan bilateral juga meningkat tajam. Dari omzet awal $200 juta pada 1992, nilai perdagangan kedua negara melonjak menjadi sekitar $6,5 miliar pada 2024. India mengekspor batu mulia, diesel otomotif, bahan kimia, mesin, dan peralatan listrik ke Israel. Sebaliknya, Israel memasok energi, mesin kimia, dan peralatan transportasi ke India. Kesepakatan Bilateral Investment Treaty (BIT) turut memperkuat hubungan ekonomi tersebut.
Posisi India dalam Isu Palestina dan Diplomasi Regional
India secara resmi tetap mendukung pembentukan negara Palestina yang merdeka melalui solusi dua negara. Namun, sikap India lebih berhati-hati dalam mengkritik kebijakan Israel terhadap Gaza dan sering memilih abstain dalam beberapa resolusi PBB terkait konflik tersebut.
India baru-baru ini ikut mengecam rencana perluasan wilayah Israel di Tepi Barat yang diduduki dengan bergabung bersama lebih dari 100 negara lain. Pernyataan bersama menegaskan bahwa langkah tersebut melanggar hukum internasional dan menghambat upaya perdamaian.
Meski demikian, kritik dari partai oposisi muncul atas kunjungan Modi ke Israel yang dianggap mengorbankan dukungan historis India kepada Palestina. Modi diperkirakan akan bersikap diplomatis dalam membahas isu Palestina saat kunjungannya.
Ahli strategi menilai kebijakan India merupakan upaya menjaga keseimbangan strategis. India berusaha menjalin hubungan baik dengan Israel, sementara juga mempertahankan ikatan dengan Palestina dan negara-negara Arab penting dalam kawasan, yang vital untuk keamanan energi dan tenaga kerja migran India.
Faktor Geopolitik dan Strategi India di Timur Tengah
Hubungan India dengan Israel dan Palestina tidak bisa dipisahkan dari konteks geopolitik yang lebih besar. Terdapat keseimbangan antara keuntungan jangka pendek seperti perdagangan dan kerjasama militer, serta tujuan jangka panjang menjadi kekuatan global yang berpengaruh di Timur Tengah.
India juga memantau dinamika kekuatan regional, berusaha menghindari dominasi tunggal Israel sambil membangun koneksi dengan negara seperti Iran, yang memiliki hubungan dekat dengan India dan bersaing dengan pengaruh AS di kawasan.
Kunjungan Modi kali ini juga dipandang sebagai cara India mengintegrasikan kerja sama bilateral yang erat dengan Israel ke dalam strategi kawasan yang lebih luas, tanpa mengorbankan sumbangsihnya dalam perdamaian regional. Dengan demikian, kunjungan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan bilateral sekaligus menjaga hubungan diplomatik yang seimbang di Timur Tengah yang rumit.
Informasi ini menegaskan bagaimana India memainkan peran penting dalam kawasan tersebut melalui pendekatan diplomasi yang hati-hati dan pragmatis, dalam menghadapi tantangan dan peluang yang terus berubah di area dengan konflik geopolitik yang kompleks.





