Beberapa kota besar di Amerika Utara menjadi saksi pro dan kontra terhadap serangan militer yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Peristiwa ini memicu demonstrasi yang melibatkan komunitas Iran di negeri tersebut, dengan ragam reaksi yang penuh nuansa.
Di Los Angeles, pusat diaspora Iran terbesar di Amerika Serikat, ribuan warga Iran-Amerika merayakan kabar kematian Khamenei. Mereka mengusung bendera era Shah dan poster Donald Trump, serta mengenakan kaus bertuliskan “Free Iran”. Perayaan ini mengiringi pengumuman Trump yang membenarkan operasi serangan tersebut.
Sementara itu, di Toronto, Kanada, suasana lebih ambivalen. Banyak warga Iran yang merasa lega atas berakhirnya rezim yang dianggap represif, sekaligus khawatir akan nasib rakyat di dalam negeri. Fartach Razmjoo menggambarkan harapannya agar keadaan ini memicu keberanian warga Iran untuk bangkit menuntut perubahan permanen.
Trump sendiri menyerukan agar rakyat Iran mengambil alih pemerintahan mereka, sebuah ajakan yang mendapat sambutan beragam di kalangan diaspora. Di New York, demonstran anti-perang mengecam serangan tersebut dan mengkritik kebijakan Trump yang dinilai tidak memikirkan kebaikan rakyat Iran.
Aktivis Layan Fuleihan menegaskan bahwa pemboman bukanlah jalan untuk membebaskan rakyat Iran. Ia menyoroti dampak sanksi ekonomi yang diperketat, yang menyebabkan rakyat biasa kesulitan memenuhi kebutuhan pokok mereka. Brent Gray, seorang insinyur di Washington, juga menyoroti kurangnya persetujuan kongres terhadap tindakan militer ini.
Kelompok aktivis ANSWER menyatakan akan menggelar demonstrasi nasional menentang perang yang mereka anggap ilegal dan tanpa provokasi. Hal ini menambahkan dimensi kompleks dalam reaksi warga internasional terhadap konflik yang sedang berlangsung.
Di Boston, situasi sangat kontras dengan Los Angeles. Sejumlah warga Iran-Amerika malah menunjukkan dukungan kuat dengan merayakan operasi militer tersebut dan bahkan menginjak bendera Iran sambil mengibarkan bendera Amerika dan Israel. Mereka meyakini kebebasan bagi rakyat Iran akan tercapai lewat cara ini.
Sebagian komunitas di Atlanta menganggap aksi militer ini sebagai “Operasi Penyelamatan Iran” dan harapannya adalah perubahan yang membawa kebebasan bagi bangsa mereka. Namun, kekhawatiran muncul dari mereka yang masih memiliki keluarga di Iran, terutama setelah terputusnya akses internet yang menyebabkan komunikasi menjadi sulit.
Roozbeh Farahanipour, pemilik restoran di Westwood, Los Angeles, mengungkapkan perasaan campur aduk. Ia mengingat bagaimana rakyat Irak juga sempat merayakan perang pada masa lalu, dan berharap hasilnya akan berbeda kali ini dengan perubahan yang lebih bermakna dan damai.
Secara keseluruhan, reaksi komunitas Iran di Amerika Utara terhadap kematian Khamenei dan serangan militer sangat beragam, mencerminkan dinamika politik dan emosional yang rumit. Peristiwa ini menggarisbawahi harapan sekaligus kekhawatiran besar bagi masa depan Iran dan pengalaman diaspora yang terlibat langsung dalam narasi ini.
