Amerika Serikat pernah memakai istilah Menteri Perang karena nama itu memang lahir jauh lebih dulu daripada Departemen Pertahanan. Istilah tersebut terkait dengan masa awal pembentukan militer AS, lalu diganti pada 1949 saat pemerintahan Harry Truman memilih identitas yang lebih mencerminkan tugas menjaga perdamaian dan melindungi kedaulatan.
Perubahan itu kembali jadi sorotan setelah Donald Trump pada 2025 menandatangani perintah eksekutif untuk mengembalikan nama Departemen Pertahanan menjadi Departemen Perang. Langkah ini juga membuat Pete Hegseth menggunakan gelar Menteri Perang dan mendorong perubahan dokumen resmi, papan nama, hingga alamat digital dari defense.gov menuju war.gov.
Dari Departemen Perang ke Departemen Pertahanan
Nama Departemen Perang bukanlah istilah baru dalam sejarah Amerika Serikat. Presiden George Washington pertama kali memakai nama itu saat membentuk struktur awal angkatan bersenjata, sebelum akhirnya sistem militer AS mengalami reorganisasi besar setelah Perang Dunia II.
Pada 1947, Presiden Harry Truman mendorong penyatuan matra Darat, Laut, dan Udara lewat Undang-Undang Keamanan Nasional. Dua tahun kemudian, tepatnya pada Agustus 1949, nama Departemen Pertahanan dipilih sebagai simbol pendekatan yang lebih defensif dan dianggap selaras dengan situasi dunia pascaperang.
Tabel berikut menunjukkan garis besar perubahannya.
| Periode | Nama lembaga |
| Masa awal AS | Departemen Perang |
| 1949 | Departemen Pertahanan |
| 2025 | Departemen Perang kembali digunakan melalui perintah eksekutif |
Mengapa Trump menghidupkan lagi nama lama itu?
Trump menilai nama Departemen Perang lebih cocok dengan kondisi geopolitik saat ini. Ia menyebut Amerika Serikat memiliki militer terkuat di dunia dan karena itu seharusnya memakai nama yang mencerminkan kekuatan ofensif, bukan sekadar pertahanan.
Dalam pernyataannya sebelum penandatanganan kebijakan itu, Trump mengatakan nama tersebut “jauh lebih tepat” untuk situasi global sekarang. Sumber CNN yang dikutip dalam artikel referensi menyebut langkah ini bukan cuma perubahan label, melainkan sinyal pergeseran doktrin militer AS dari defensif ke lebih agresif.
Apa makna perubahan istilah ini bagi Pentagon?
Perubahan nama juga membawa pesan politik dan militer yang kuat. Pete Hegseth menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah “pemulihan” identitas militer AS, bukan hanya mengganti papan nama atau dokumen resmi.
Hegseth menjelaskan bahwa arah baru ini ingin membentuk prajurit sebagai pejuang aktif, bukan hanya pasukan yang bertahan dari ancaman. Ia merangkum visi itu dengan kalimat, “Membesarkan para pejuang, bukan hanya pembela.”
Secara praktis, perubahan tersebut menyentuh banyak hal administratif. Berikut beberapa yang disebut dalam laporan referensi:
- Korespondensi resmi pemerintah mulai memakai istilah Departemen Perang.
- Papan nama kantor dan identitas digital Pentagon ikut disesuaikan.
- Domain defense.gov diarahkan ke war.gov.
- Akronim DOD bergeser menjadi DOW.
- Seluruh lembaga negara diminta menyesuaikan terminologi baru dalam komunikasi resmi.
Apakah Presiden bisa mengubah nama itu sendiri?
Di titik inilah perdebatan hukum muncul. Secara historis, perubahan nama lembaga militer di AS biasanya dilakukan lewat proses resmi Kongres, bukan hanya perintah eksekutif presiden.
Trump sendiri sempat mengakui belum yakin apakah Kongres harus dilibatkan, meski ia tetap melangkah dengan penandatanganan perintah eksekutif. Karena itu, status permanen perubahan nama ini masih menyisakan pertanyaan tentang batas kewenangan eksekutif dalam mengubah struktur dasar pemerintahan.
Menurut artikel referensi, Hegseth juga diminta menyiapkan langkah legislatif agar perubahan nama tersebut bisa menjadi permanen menurut hukum federal. Artinya, meski instruksi presiden bisa cepat dijalankan secara administratif, pengesahan jangka panjang tetap membutuhkan landasan politik dan hukum yang lebih kuat.
Mengapa nama “Pertahanan” dipilih sejak 1949?
Nama Departemen Pertahanan muncul sebagai produk kompromi politik dan strategi internasional Amerika setelah Perang Dunia II. Pada masa itu, Washington ingin menampilkan citra bahwa kekuatan militer AS digunakan untuk mencegah konflik dan melindungi keamanan, bukan untuk menekankan perang sebagai identitas utama negara.
Pemilihan kata “pertahanan” juga sejalan dengan pembentukan struktur komando terpadu di bawah kendali sipil. Dalam konteks itu, istilah defense memberi pesan bahwa militer harus berada di bawah kontrol pemerintahan demokratis dan diarahkan untuk stabilitas, bukan ekspansi agresif.
Mengapa isu ini kembali penting sekarang?
Kembalinya istilah Departemen Perang menunjukkan arah ideologis yang berbeda dari tradisi pasca-1949. Ketika Trump dan Hegseth mendorong istilah itu, mereka tidak hanya mengubah simbol, tetapi juga mengirim sinyal tentang cara pandang baru terhadap kekuatan militer AS di tengah ketegangan global.
Kebijakan ini juga sejalan dengan langkah Hegseth yang menghidupkan kembali sejumlah simbol militer lama, termasuk penamaan ulang pangkalan dan penghapusan beberapa nama yang dinilai tidak sejalan dengan tradisi konservatif Pentagon. Dalam konteks itu, perubahan nama menjadi bagian dari usaha yang lebih luas untuk mengembalikan identitas lama militer AS.
Pada akhirnya, Amerika Serikat memakai lagi nama Menteri Perang bukan karena istilah itu baru, melainkan karena pemerintah saat ini ingin mengubah pesan yang dibawa lembaga militernya. Dari dulu hingga sekarang, perdebatan utamanya tetap sama: apakah kekuatan militer AS harus dipresentasikan sebagai alat pertahanan, atau sebagai instrumen perang yang siap menyerang lebih dulu.
