Mali diguncang serangan terkoordinasi yang menewaskan Menteri Pertahanan Jenderal Sadio Camara, menurut sumber yang dikutip Al Jazeera. Serangan itu menyasar sejumlah lokasi militer di berbagai wilayah dan memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas keamanan di negara tersebut.
Kematian Camara dilaporkan terjadi setelah kediamannya di kota garnisun Kati ikut menjadi sasaran pada rangkaian serangan serentak yang dilancarkan kelompok afiliasi al-Qaeda dan pemberontak Tuareg. Ketiadaan Camara disebut menjadi pukulan besar bagi angkatan bersenjata Mali, mengingat posisinya yang sangat menonjol dalam pemerintahan militer.
Sosok kunci dalam junta militer
Camara dikenal sebagai figur sentral dalam pemerintahan militer yang mengambil alih kekuasaan setelah dua kudeta beruntun pada 2020 dan 2021. Nicolas Haque dari Al Jazeera, yang banyak melaporkan dari Mali, menyebut Camara sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di lingkaran elite militer berkuasa.
Haque juga mengatakan Camara sempat dipandang sebagian pihak sebagai calon pemimpin Mali di masa depan. Kematian itu, menurutnya, menjadi “pukulan besar bagi pasukan bersenjata” di tengah meningkatnya tekanan keamanan.
Serangan terjadi di wilayah yang dijaga ketat
Haque menjelaskan bahwa serangan terhadap kediaman Camara dilakukan dengan bom mobil bunuh diri di Kati, yang berjarak sekitar 15 kilometer di barat laut Bamako. Wilayah itu dikenal sebagai salah satu lokasi paling aman dan paling dijaga di negara tersebut.
Meski begitu, para penyerang tetap mampu menembus titik yang selama ini dianggap sangat diperkuat. Haque menyebut pelaku berasal dari Jama’at Nusrat al-Islam wal-Muslimin, kelompok yang terkait al-Qaeda, bersama pejuang Tuareg dari Front Pembebasan Azawad.
Serangan meluas ke sejumlah kota
Selain Kati, kelompok bersenjata juga menyerang beberapa lokasi lain di Mali. Serangan dilaporkan terjadi di Bamako, Gao, Kidal di utara, serta kota pusat Sevare.
Suasana paling genting masih dilaporkan di Kidal, tempat warga disebut masih mendengar suara tembakan berat dan ledakan keras. Haque mengatakan operasi itu masih berlangsung lebih dari 24 jam setelah dimulai.
Tekanan terhadap otoritas militer
Setelah ofensif itu, Presiden sementara Assimi Goita berada di bawah sorotan. Sejumlah analis menilai otoritas tampak tidak siap menghadapi gelombang kekerasan terbaru yang datang secara terkoordinasi dan meluas.
Haque mengatakan Goita berada dalam kondisi selamat dan berada di lokasi aman. Ia juga menyebut Goita segera dipindahkan saat serangan terjadi dan masih memegang komando militer.
Kecaman internasional
Serangan di Mali memicu kecaman dari berbagai pihak internasional. Uni Afrika, sekretaris jenderal Organisasi Kerja Sama Islam, dan Biro Urusan Afrika Amerika Serikat sama-sama mengecam serangan yang menyasar berbagai wilayah di negara itu.
Rangkaian serangan ini menyoroti kerentanan keamanan Mali, termasuk di area yang selama ini dianggap paling terlindungi seperti Kati. Dengan situasi yang masih bergerak dan suara tembakan dilaporkan belum sepenuhnya reda di beberapa wilayah, militer Mali kini menghadapi tekanan besar untuk memulihkan kendali di tengah ancaman yang terus meluas.
