
Airbus bersama tujuh perusahaan lain bersiap membentuk konsorsium baru untuk mengembangkan jet tempur generasi berikutnya di Berlin pada Kamis. Langkah ini muncul setelah proyek FCAS Franco-Jerman dibatalkan pekan ini dan langsung menjadi sorotan sebagai upaya Jerman mencari jalan baru di tengah kebutuhan memperkuat pertahanan Eropa.
Konsorsium itu memakai nama “Team Gen 6” dan berisi mayoritas pemain industri Jerman. Selain Airbus, anggotanya adalah MBDA, Hensoldt, Diehl Defence, MTU Aero Engines, Liebherr, Autoflug, dan Rohde & Schwarz.
Kepala divisi pertahanan Airbus, Michael Schoellhorn, mengatakan perusahaan-perusahaan itu siap memikul tanggung jawab. Ia juga menegaskan bahwa mereka memiliki keahlian, teknologi, kapasitas, dan tekad untuk membangun jet tempur generasi keenam.
Langkah cepat setelah FCAS runtuh
Pembubaran FCAS dilakukan Berlin dan Paris pada Senin setelah berbulan-bulan tegangnya hubungan antara dua kontraktor utama, Airbus dan Dassault. Program yang juga melibatkan Spanyol itu semula dipandang sebagai proyek andalan kerja sama pertahanan Eropa.
FCAS dirancang untuk menggantikan Rafale milik Prancis dan Eurofighter yang digunakan Jerman dan Spanyol. Target awalnya, pesawat pertama masuk layanan sekitar 2040 dengan sistem digital terpadu yang menghubungkan jet tempur, drone, sensor, dan teknologi lain.
Kanselir Friedrich Merz menyebut pembatalan FCAS menghapus hambatan lama. Ia juga mengatakan keputusan itu membuka peluang baru bagi industri untuk terus maju melalui pendekatan alternatif dalam pengembangan pesawat tempur modern.
Menurut Merz, sejumlah aspek inti dari FCAS tetap akan dilanjutkan. Aspek itu mencakup sistem digital terintegrasi yang menjadi salah satu fondasi teknis program tersebut.
Pemerintah Jerman belum mengunci opsi baru
Meski konsorsium baru mulai bergerak, Berlin belum berkomitmen pada proyek pengganti FCAS. Juru bicara pemerintah pada Rabu hanya mengatakan bahwa ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka.
Schoellhorn menolak anggapan bahwa dukungan terhadap proposal Airbus berarti Jerman menjauh dari kerja sama Eropa. Ia menegaskan bahwa perusahaan-perusahaan itu tidak mendorong Jerman berjalan sendiri.
“Kami berpikir dalam kerangka Eropa, tetapi kami ingin industri Jerman memainkan peran yang signifikan dan bertanggung jawab,” ujarnya. Posisi itu menjadi penting karena proyek baru ini diposisikan sebagai alternatif, bukan sebagai pemutusan hubungan dengan mitra Eropa.
Kedelapan perusahaan itu sudah mengirimkan dokumen posisi kepada Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius. Dokumen tersebut memaparkan visi mereka untuk jet baru dan meminta Berlin memastikan pemberian kontrak secara lengkap dan tepat waktu pada paruh kedua 2026.
Masih ada pilihan lain di meja Berlin
Pistorius mengatakan pada Selasa bahwa proyek delapan perusahaan itu “masuk akal dan merupakan salah satu kemungkinan”. Namun, ia juga menegaskan Jerman masih menimbang opsi lain, termasuk membeli lebih banyak jet tempur F-35 buatan Amerika Serikat atau bergabung dengan proyek pengembangan pesawat lain yang masih berjalan.
Secara teori, calon mitra lain bisa mencakup Swedia melalui Saab atau kelompok perusahaan dari Britania Raya, Italia, dan Jepang. Opsi-opsi itu menunjukkan bahwa arah program pesawat tempur Jerman belum diputuskan sepenuhnya.
FCAS sendiri sudah lama diguncang masalah, dan ketegangan memuncak pada pertengahan 2025 ketika Dassault mendorong kontrol yang lebih besar atas program. Langkah itu memicu kekhawatiran di Berlin dan di Airbus bahwa pihak mereka akan tersisih dari kontrak, sementara perbedaan kebutuhan militer Prancis dan Jerman ikut memperumit proyek sejak awal.









