Turki akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi North Atlantic Treaty Organization atau NATO untuk pertama kalinya dalam 22 tahun. Pertemuan para kepala negara dan pemerintahan anggota aliansi itu dijadwalkan berlangsung di Ankara selama dua hari, Selasa hingga Rabu.
KTT ini menjadi agenda besar bagi Turki karena akan menghadirkan 32 negara anggota NATO, para pemimpin negara undangan, hampir 100 menteri, diplomat senior, perwakilan organisasi internasional, serta ribuan tamu asing. Forum tersebut dipandang penting karena berlangsung di tengah meningkatnya tantangan keamanan global dan perubahan dinamika pembagian beban di dalam aliansi.
Ankara Kembali Jadi Pusat Perhatian NATO
KTT di Ankara menjadi KTT NATO ke-36 tingkat kepala negara dan pemerintahan. Forum ini disebut sebagai salah satu pertemuan yang dapat memengaruhi arah masa depan aliansi sekaligus arsitektur keamanan global.
Turki terakhir kali menjadi tuan rumah KTT NATO pada 2004 di Istanbul. Saat itu, pertemuan tersebut dipandang sebagai momen penting dalam transformasi NATO setelah berakhirnya Perang Dingin.
Kini, lebih dari dua dekade kemudian, Ankara kembali dipercaya menjadi lokasi pertemuan ketika situasi keamanan global dinilai semakin tidak pasti. Kondisi ini membuat KTT memiliki bobot politik dan strategis yang lebih besar bagi negara-negara anggota.
Isu Pembagian Beban Jadi Sorotan Utama
Salah satu tema utama yang akan dibahas ialah pembagian beban atau burden sharing di antara negara-negara anggota NATO. Isu ini mengemuka seiring meningkatnya tuntutan terhadap kemampuan pertahanan kolektif aliansi.
Pembahasan tersebut dinilai penting karena NATO terus menghadapi tekanan untuk memastikan kontribusi yang seimbang dari seluruh anggotanya. Dalam konteks itu, pertemuan di Ankara akan menjadi ajang untuk menyelaraskan pandangan soal tanggung jawab bersama dalam menjaga keamanan kawasan.
Kehadiran Pemimpin dan Mitra Indo-Pasifik
Para pemimpin dari 32 negara anggota NATO dijadwalkan hadir dalam pertemuan tersebut, termasuk Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Selain itu, para menteri luar negeri dan menteri pertahanan negara anggota juga akan mengikuti berbagai sesi pembahasan.
Turki juga mengundang negara-negara mitra di kawasan Indo-Pasifik, yakni Australia, Jepang, Selandia Baru, dan Korea Selatan. Undangan ini memperlihatkan upaya NATO memperluas pembahasan terhadap keterkaitan isu keamanan di kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik.
Kehadiran para mitra tersebut menegaskan bahwa pembahasan di Ankara tidak hanya berfokus pada persoalan internal aliansi, tetapi juga pada hubungan antara tantangan keamanan di berbagai kawasan. Dalam situasi global yang dinamis, KTT NATO di Ankara diperkirakan menjadi forum penting untuk membaca arah kebijakan pertahanan dan kerja sama keamanan ke depan.
Source: www.beritasatu.com






