Krisis Perawat Onkologi di Indonesia: Jumlah Terbatas Hadapi Lonjakan Pasien Kanker

Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis perawat onkologi yang serius. Hanya sekitar 60 perawat spesialis onkologi yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, padahal jumlah pasien kanker terus meningkat setiap tahunnya.

Perawat onkologi memegang peran vital dalam menjaga keamanan dan kualitas layanan pasien kanker. Mereka bertanggung jawab mulai dari pelaksanaan kemoterapi hingga perawatan paliatif yang memerlukan perhatian khusus.

Lucia Erniawati selaku Direktur Access Communications and Health System Values Strategy Roche menjelaskan bahwa program pelatihan perawat onkologi telah berjalan selama empat tahun. Kolaborasi dilakukan bersama RS Kanker Dharmais dan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia untuk meningkatkan kompetensi perawat.

Saat ini, sekitar 200–300 perawat sedang menjalani pelatihan dasar onkologi, dan sebagian sudah lulus. Namun, jumlah ini masih jauh dari kebutuhan nasional yang mendesak.

Sudah ada sekitar 60 perawat spesialis onkologi lulusan UI yang tersebar di berbagai rumah sakit. Universitas Gadjah Mada juga sedang menyiapkan program pelatihan serupa guna mempercepat peningkatan jumlah perawat spesialis.

Kurikulum keperawatan onkologi dasar kini masuk dalam standar pembelajaran Kementerian Kesehatan. Semua rumah sakit dengan layanan onkologi diwajibkan melatih perawatnya agar memiliki keahlian dasar onkologi. Namun, implementasi masih berjalan secara bertahap.

Di MRCCC Siloam Hospitals, CEO dr. Edy Gunawan mengungkapkan bahwa jumlah perawat onkologi masih sangat terbatas. Saat ini hanya ada empat orang perawat onkologi yang bertugas di rumah sakit tersebut.

Pelatihan perawat onkologi tidak bisa dilakukan secara internal tanpa sertifikasi resmi. Program pelatihan ini memiliki kuota dan batch terbatas, sehingga perlu dukungan lebih luas untuk meningkatkan kapasitas.

Penanganan kemoterapi memerlukan keahlian khusus karena obat yang digunakan sangat sitotoksik dan berisiko tinggi. Perawat harus mengetahui cara penggunaan alat pelindung diri dan prosedur penanganan obat agar terhindar dari kontaminasi.

Tanpa standar kompetensi yang seragam, kualitas layanan kemoterapi antar rumah sakit bisa berbeda. Hal ini menjadi perhatian penting agar pasien mendapatkan perawatan yang aman dan efektif.

Kerjasama antara Siloam Hospitals dan Roche Indonesia bertujuan meningkatkan standar perawatan kanker, khususnya kanker payudara. Salah satunya adalah memperbanyak jumlah perawat onkologi yang kompeten dalam menangani pasien.

MRCCC menargetkan dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, 70 persen perawatnya adalah spesialis onkologi. Target ini membutuhkan waktu karena pelatihan harus berjalan paralel dengan layanan keperawatan lain seperti hemodialisis dan gawat darurat.

Saat ini, sudah ada tujuh training center keperawatan onkologi dasar di tingkat nasional. Pelatihan ini diselenggarakan di sejumlah rumah sakit pemerintah, termasuk RS Kanker Dharmais dan RSUP Dr. Sardjito.

Training center ini bertanggung jawab melatih perawat secara berkelanjutan agar kapasitas nasional meningkat seiring dengan meningkatnya kebutuhan layanan kanker.

Ketersediaan perawat onkologi yang memadai sangat penting untuk mengimbangi pertumbuhan jumlah pasien kanker. Tanpa tenaga terlatih yang cukup, risiko standar layanan yang tidak merata dan beban kerja meningkat menjadi tantangan besar.

Perawat onkologi tidak hanya bertugas mendampingi dokter secara klinis. Mereka juga menjadi bagian dari tim multidisiplin yang membantu pasien mulai dari diagnosis hingga perawatan paliatif.

Selain aspek medis, perawat onkologi juga memberikan edukasi dan dukungan emosional secara intensif kepada pasien dan keluarga. Hal ini sangat membantu perjalanan panjang pasien kanker yang kompleks dan membutuhkan perhatian menyeluruh.

Baca selengkapnya di: www.suara.com

Berita Terkait

Back to top button