Fenomena hilangnya figur ayah secara emosional atau fatherless kini menjadi perhatian serius dalam pembahasan tumbuh kembang anak di Indonesia. Data Pendataan Keluarga sementara pada 2025 dari Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan angka fatherless di Indonesia mencapai 25,8%.
Kajian kolaborasi Kemendukbangga/BKKBN dan IPB University pada 2024-2025 juga memperlihatkan keterlibatan ayah masih berada pada tingkat sedang. Polanya cenderung lebih kuat pada pemenuhan kebutuhan ekonomi, sementara dukungan emosional kepada anak belum optimal.
Dampak pada ketahanan mental anak
Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN, Irma Ardiana, menegaskan bahwa ketidakhadiran ayah secara psikologis memberi dampak besar pada perkembangan mental anak. Ia menilai kondisi ini berkaitan dengan munculnya istilah strawberry generation, yakni generasi yang tampak kuat dari luar tetapi rapuh saat menghadapi tekanan.
Irma menyebut kehadiran ayah yang aktif, hangat, dan terlibat secara emosional menjadi faktor protektif penting dalam perkembangan psikososial anak dan remaja. Sebaliknya, ketidakhadiran ayah meningkatkan risiko berbagai persoalan perkembangan.
Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah disebut lebih rentan mengalami depresi, kecemasan, dan krisis identitas. Kondisi itu juga dapat membuka risiko perilaku destruktif, termasuk penyalahgunaan narkoba dan seks bebas.
Ancaman bagi kualitas generasi muda
Jika dibiarkan, fenomena fatherless dinilai dapat melemahkan ketahanan mental generasi muda. Dampaknya bukan hanya pada individu, tetapi juga pada kualitas sumber daya manusia yang diharapkan produktif dan berdaya saing.
Irma menilai situasi ini bisa menghambat pencapaian target pembangunan manusia unggul sesuai Asta Cita 4. Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu momentum bonus demografi Indonesia bila ketahanan psikososial anak dan remaja tidak diperkuat.
Peran ayah terbukti penting secara ilmiah
Sekretaris Utama BKKBN, Budi Setiyono, menegaskan bahwa manfaat keterlibatan ayah telah terbukti secara ilmiah. Ia merujuk riset ahli pendidikan William H Jeynes melalui meta-analisis terhadap 66 penelitian yang menemukan korelasi positif kuat antara keterlibatan ayah dan prestasi akademik anak.
Budi mengatakan anak yang mendapat dukungan langsung dari ayah cenderung menunjukkan hasil belajar yang lebih baik. Temuan itu memperkuat pandangan bahwa peran ayah tidak bisa dipandang sekadar pelengkap dalam proses pengasuhan.
Kajian ilmiah lain juga menunjukkan keterlibatan ayah berpengaruh besar pada pembentukan karakter anak. Hasil penelitian yang konsisten memperlihatkan bahwa kehadiran ayah memiliki kontribusi nyata dalam perkembangan anak.
Dukungan emosional membentuk sosial-emosional anak
Meta-analisis berskala besar yang melibatkan 66 studi dan lebih dari 154.000 anak juga menunjukkan hubungan signifikan antara keterlibatan ayah dan perkembangan sosial-emosional anak. Semakin tinggi keterlibatan ayah, semakin matang pula kondisi mental dan emosional anak.
Budi menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh dengan sosok ayah yang hangat dan terlibat dalam keseharian cenderung memiliki kompetensi sosial yang lebih baik. Mereka juga menunjukkan stabilitas emosional yang lebih kuat dibandingkan anak yang tidak memperoleh pendampingan serupa.
Dalam konteks keluarga, temuan ini menegaskan bahwa kehadiran ayah bukan hanya soal nafkah, tetapi juga soal kelekatan, pendampingan, dan dukungan psikologis. Peran itu menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang tidak mudah rapuh saat menghadapi tekanan hidup.
Source: www.beritasatu.com






