Kurang minum dalam waktu lama dapat membuat urine lebih pekat dan meningkatkan risiko gangguan pada saluran kemih. Kondisi ini tidak langsung menyebabkan gagal ginjal, tetapi bisa memicu masalah yang perlahan memengaruhi fungsi organ tersebut.
Ginjal bekerja menyaring sekitar 189 liter darah setiap hari untuk membuang limbah serta kelebihan cairan melalui urine. Karena itu, kecukupan cairan menjadi salah satu kebiasaan sederhana yang penting untuk mendukung kesehatan ginjal.
Takaran air putih tidak selalu sama untuk setiap orang
Asupan air putih yang umum disarankan bagi orang dewasa adalah sekitar delapan gelas berukuran 230 mililiter, atau setara kurang lebih 2 liter per hari. Namun, kebutuhan tiap orang dapat berbeda karena dipengaruhi kondisi tubuh dan jumlah cairan yang hilang.
Spesialis penyakit dalam dr Aru Ariadno, Sp.PD-KGEH, menyebut kebutuhan air putih sehari sekitar 2 liter per hari. Ia juga menekankan bahwa jumlah tersebut tetap bergantung pada kondisi badan masing-masing.
Angka 2 liter tersebut berbeda dengan total kebutuhan cairan harian karena cairan juga dapat berasal dari makanan dan minuman lain. Menurut Mayo Clinic, total asupan cairan dari air, minuman, sup, serta makanan tinggi air sekitar 3,7 liter untuk pria dan 2,7 liter untuk wanita.
| Kelompok | Total Asupan Cairan Harian | Sumber Cairan |
|---|---|---|
| Pria | Sekitar 3,7 liter | Air, minuman, sup, dan makanan tinggi air |
| Wanita | Sekitar 2,7 liter | Air, minuman, sup, dan makanan tinggi air |
| Orang dewasa | Sekitar 2 liter air putih | Kurang lebih 8 gelas ukuran 230 ml |
Mengapa kekurangan cairan dapat membebani ginjal
Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia atau PERNEFRI, dr Pringgodigdo Nugroho, menjelaskan bahwa dampak jarang minum air putih muncul secara bertahap. Kekurangan cairan kronis dapat menjadi jalan bagi masalah lain yang kemudian memperburuk fungsi ginjal.
Saat tubuh kekurangan cairan, urine mengandung mineral dan produk limbah dalam konsentrasi lebih tinggi. Kidney Research UK menjelaskan kondisi tersebut dapat memicu pembentukan kristal yang berkaitan dengan batu ginjal dan penyakit ginjal tertentu.
Risiko lain yang perlu diperhatikan adalah infeksi saluran kemih berulang. Saat cairan tidak cukup, zat pembentuk batu juga dapat menjadi lebih terkonsentrasi sehingga peluang terbentuknya batu ginjal meningkat.
health.detik.com melaporkan, dehidrasi jangka panjang bukan penyebab langsung gagal ginjal. Meski demikian, infeksi berulang dan batu ginjal yang tidak ditangani dapat mengganggu fungsi ginjal dalam jangka panjang.
Warna urine dapat menjadi petunjuk awal
Warna urine dapat membantu mengenali apakah tubuh kemungkinan sudah mendapat cairan yang cukup. National Kidney Foundation menyebut urine kuning jernih umumnya menandakan hidrasi yang baik, sedangkan kuning gelap dapat mengarah pada kekurangan cairan.
| Warna Urine | Kemungkinan Arti | Hal yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|---|
| Kuning jernih | Tubuh terhidrasi dengan baik | Pertahankan asupan cairan sesuai kebutuhan |
| Kuning gelap | Kemungkinan dehidrasi | Perhatikan kecukupan cairan tubuh |
| Merah muda hingga merah tua | Dapat menunjukkan hematuria atau darah dalam urine | Perlu perhatian karena dapat terkait gangguan ginjal |
| Merah atau cokelat tua | Dapat berkaitan dengan batu ginjal atau infeksi saluran kemih | Tidak boleh diabaikan |
Ahli bedah urologi Dr Nipun AC mengingatkan warna merah dan cokelat tua tidak boleh dianggap sepele. Selain batu ginjal dan infeksi saluran kemih, warna tersebut dapat menjadi tanda awal kanker kandung kemih maupun kanker ginjal.
Jangan pula minum air secara berlebihan
Menjaga hidrasi bukan berarti minum air sebanyak-banyaknya dalam waktu singkat. Dehidrasi dapat terjadi saat cuaca panas, banyak berkeringat, demam, diare, atau muntah, sedangkan kelebihan cairan juga membawa risiko tersendiri.
Overhidrasi dapat muncul ketika seseorang mengonsumsi air berlebihan atau saat ginjal menahan terlalu banyak cairan di dalam tubuh. Jika volume air melampaui kemampuan ginjal untuk membuangnya, kadar elektrolit dapat menjadi terlalu encer.
Kondisi itu dapat memicu keracunan air dan menyebabkan hiponatremia, yaitu kadar natrium di bawah batas normal. Ketika natrium turun signifikan, cairan dapat berpindah ke dalam sel tubuh dan memicu pembengkakan.
Karena itu, kebutuhan air putih sebaiknya dipenuhi secara teratur dengan menyesuaikan kondisi tubuh. Memperhatikan jumlah minum, warna urine, serta perubahan yang tidak biasa dapat membantu mengenali kebutuhan cairan dan tanda gangguan lebih awal.
