Peta kanker pada perempuan Indonesia mengalami perubahan besar dalam dua dekade terakhir. Kanker payudara kini menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan, menggantikan kanker leher rahim atau serviks yang sebelumnya berada di posisi teratas.
Pergeseran ini menjadi perhatian karena angka kanker payudara masih berpotensi meningkat di masa depan. Salah satu faktor yang disoroti adalah pola hidup modern yang membuat aktivitas fisik masyarakat semakin terbatas.
Dokter See Hui Ti, Konsultan Senior Onkologi Medis di Parkway Cancer Centre Singapura, menyebut perubahan tersebut terlihat dari data kasus maupun prevalensi kanker pada perempuan. Ia menilai pencegahan kanker serviks yang semakin kuat ikut memengaruhi perubahan peta penyakit ini.
Kasus kanker payudara lebih tinggi
Data Globocan 2022 mengestimasi sekitar 66 ribu kasus kanker payudara pada perempuan di Indonesia. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan estimasi sekitar 37 ribu kasus kanker leher rahim pada periode yang sama.
Gambaran serupa tampak dalam data prevalensi kanker pada perempuan peserta Jaminan Kesehatan Nasional pada 2022. Kanker payudara menyumbang lebih dari separuh seluruh kasus kanker perempuan yang tercatat.
| Jenis Data | Kanker Payudara | Kanker Serviks |
|---|---|---|
| Estimasi kasus Globocan 2022 | Sekitar 66 ribu kasus | Sekitar 37 ribu kasus |
| Prevalensi pada peserta JKN 2022 | 51% kasus kanker perempuan | 10,2% kasus kanker perempuan |
Perbedaan angka itu menunjukkan kanker payudara telah menjadi beban kesehatan yang lebih dominan bagi perempuan Indonesia. Data tersebut juga menjadi alasan pentingnya perhatian terhadap pengenalan perubahan pada payudara sejak dini.
Pencegahan kanker serviks dinilai makin kuat
Menurut See Hui Ti, meluasnya vaksinasi HPV di berbagai negara, termasuk Indonesia, dinilai berkontribusi terhadap penurunan jumlah kasus kanker serviks secara signifikan. Upaya pencegahan tersebut diharapkan terus menekan kejadian kanker leher rahim pada dekade berikutnya.
“Kita berharap kejadian kanker serviks akan terus berkurang dalam setiap dekade dan menjadi sangat rendah dalam 20 tahun mendatang,” kata See dalam pernyataan di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Penurunan kasus kanker serviks tidak serta-merta membuat risiko kanker pada perempuan berkurang secara keseluruhan. Perhatian kini bergeser pada kanker payudara, yang dinilai masih dapat mengikuti tren peningkatan.
Aktivitas fisik yang berkurang menjadi perhatian
See menjelaskan generasi sebelumnya cenderung lebih aktif secara fisik karena banyak bekerja di lapangan. Sebaliknya, masyarakat modern lebih sering bekerja di kantor dan menghabiskan waktu dalam posisi duduk.
Kondisi itu membuat ruang untuk bergerak dan beraktivitas fisik menjadi lebih terbatas. “Kurangnya aktivitas fisik menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kanker,” kata See, seperti dikutip lifestyle.bisnis.com.
Pernyataan tersebut menempatkan gaya hidup sedentari sebagai salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam pembahasan risiko kanker payudara. Perubahan pola kerja dan kebiasaan harian membuat aktivitas fisik menjadi isu yang makin relevan bagi banyak perempuan.
SADARI sejak usia 25 hingga 30 tahun
See menganjurkan perempuan membiasakan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI setiap bulan sejak sekitar usia 25 hingga 30 tahun. Kebiasaan itu dinilai penting sebagai langkah awal untuk mengenali perubahan pada payudara sedini mungkin.
Risiko kanker payudara, menurutnya, terus meningkat seiring bertambahnya usia. Risiko pada awal usia 20-an masih relatif rendah, tetapi dapat semakin besar ketika memasuki usia 30-an, 40-an, hingga 50-an.
Pengenalan perubahan pada payudara melalui SADARI menjadi bagian dari perhatian dini yang ditekankan dokter. Di tengah pergeseran tren kanker pada perempuan Indonesia, kebiasaan tersebut dinilai semakin relevan untuk dilakukan secara rutin.
