Indonesia meluncurkan Bio-TCV, vaksin tifoid konjugat hasil pengembangan dalam negeri yang dapat diberikan mulai usia enam bulan. Kehadirannya menjadi langkah penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk biologis impor sekaligus memperkuat kemandirian vaksin Indonesia.
Produk ini diperkenalkan di sela Medical Expo FKUI di Jakarta dan disaksikan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia, Taruna Ikrar. Ia menilai Bio-TCV bukan hanya capaian riset, tetapi juga bukti bahwa tata kelola regulasi yang kolaboratif dapat mengantar inovasi kesehatan hingga siap digunakan.
Perlindungan Tifoid untuk Rentang Usia Lebih Luas
Bio-TCV dirancang untuk memicu kekebalan aktif terhadap demam tifoid, penyakit infeksi pencernaan yang disebabkan bakteri Salmonella typhi. Vaksin konjugat ini ditujukan bagi bayi berusia enam bulan hingga orang dewasa, sehingga berpotensi memperkuat perlindungan kelompok rentan.
Rentang pemberian yang luas menjadi salah satu nilai penting dari vaksin ini dalam konteks imunisasi. Perlindungan sejak usia dini diharapkan dapat menambah benteng pencegahan terhadap tifoid di masyarakat.
Menurut health.detik.com, pengembangan Bio-TCV melibatkan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dan PT Bio Farma. Kolaborasi tersebut dibangun melalui transfer teknologi bersama International Vaccine Institute sejak satu dekade lalu.
Setelah proses transfer teknologi, vaksin ini menjalani rangkaian uji klinis fase I hingga fase III di bawah pengawasan tim medis nasional. Tahapan tersebut menjadi bagian dari proses untuk memastikan aspek keamanan, mutu, dan khasiat produk.
Sinergi Akademia, Industri, dan Pemerintah
Taruna Ikrar mengaitkan lahirnya Bio-TCV dengan konsep ABG, yakni Academia, Business, dan Government. Skema ini menyatukan riset akademik, kemampuan produksi industri, serta pengawasan regulator dalam satu jalur pengembangan inovasi.
| Pilar ABG | Peran dalam Pengembangan Inovasi |
|---|---|
| Akademia | Menjalankan riset sains dasar dan pengujian ilmiah yang valid. |
| Dunia usaha | Mendorong komersialisasi serta produksi massal hasil riset. |
| Pemerintah/BPOM | Mengawal keamanan, mutu, dan khasiat produk melalui evaluasi ilmiah. |
Dalam model tersebut, akademisi tidak berhenti pada publikasi ilmiah, sementara industri memiliki dasar riset yang kuat untuk membangun produk kesehatan. BPOM berperan sebagai regulator sekaligus mentor dalam pengawalan pengembangan produk biologis.
Taruna menilai inovasi kesehatan dapat terhambat ketika masing-masing sektor berjalan sendiri-sendiri. “Ketika ketiga pilar ini bergerak dalam satu visi dan frekuensi yang sama, Indonesia terbukti mampu melahirkan produk bioteknologi kelas dunia yang menjawab kebutuhan riil masyarakat,” ujarnya.
Evaluasi Dipercepat Tanpa Menurunkan Standar
Dalam pengembangan Bio-TCV, BPOM menerapkan skema accelerated review untuk mempercepat evaluasi dan perizinan. Jalur tersebut memangkas proses birokrasi, tetapi tidak menurunkan standar keamanan maupun mengorbankan keselamatan masyarakat.
Percepatan evaluasi menjadi penting agar hasil riset yang telah melalui tahapan pengujian dapat lebih cepat masuk ke tahap pemanfaatan. Namun, pengawasan terhadap keamanan, mutu, dan khasiat tetap menjadi bagian utama dari proses regulator.
Bio-TCV juga dipersiapkan untuk memasuki pasar internasional melalui sertifikasi WHO Prequalification. Jika memenuhi standardisasi global tersebut, produk ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok vaksin dunia.
Langkah menuju sertifikasi internasional memperlihatkan bahwa pengembangan vaksin tidak berhenti pada kebutuhan domestik. Bio-TCV membawa harapan agar kapasitas riset, produksi, dan regulasi Indonesia dapat bergerak lebih terpadu dalam membangun kedaulatan kesehatan.







