93 Persen Jabar Diprediksi Sangat Kering, Kemarau Datang Lebih Awal dan Lebih Panjang

Author: Qoo Media

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memprediksi sebanyak 93 persen wilayah Jawa Barat akan mengalami musim kemarau sangat kering pada tahun ini. Kondisi tersebut diperkirakan datang lebih cepat, berlangsung lebih panjang, dan lebih kering dibanding pola normal.

Prakirawan Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Vivi Indhira, menyebut tanda-tanda kemarau sudah terlihat sejak Maret di sejumlah wilayah utara Jabar, termasuk Bekasi dan Karawang bagian utara. Memasuki April, penyusutan curah hujan bergeser ke Karawang bagian tengah, Subang tengah, dan sebagian Indramayu.

Sebaran awal kemarau di Jawa Barat

BMKG mencatat pola masuknya musim kemarau tidak terjadi serentak di seluruh wilayah. Sebanyak 56 persen wilayah Jawa Barat diperkirakan baru memasuki kemarau pada Mei, sementara Bandung Raya, sebagian besar Bogor, Sukabumi, dan Pangandaran baru mengalaminya pada Juni.

Data BMKG juga menunjukkan 66 persen wilayah Jabar mengalami kemarau yang datang lebih cepat dari jadwal semestinya. Anomali ini menjadi perhatian karena memperkuat risiko berkurangnya pasokan air di sejumlah daerah.

Wilayah yang lebih dulu terdampak

Urutan wilayah yang lebih dulu memasuki kemarau memberi gambaran tentang sebaran kekeringan di provinsi ini. Berikut rangkumannya:

  1. Bekasi bagian utara
  2. Karawang bagian utara
  3. Karawang bagian tengah
  4. Subang tengah
  5. Sebagian Indramayu
  6. Sebagian besar wilayah lain menyusul pada Mei dan Juni

Pola ini menunjukkan pergeseran musim yang tidak merata dan perlu diwaspadai oleh pemerintah daerah maupun warga. Kondisi tersebut juga berpengaruh pada pengelolaan air untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian, dan kegiatan publik.

Puncak kekeringan diprediksi terjadi pada Agustus

BMKG memperkirakan puncak kekeringan akan melanda 90 persen wilayah Jawa Barat pada Agustus. Pada fase ini, risiko krisis air bersih diperkirakan meningkat, terutama di daerah yang bergantung pada sumber air permukaan dan cadangan waduk.

Durasi kemarau yang panjang juga dapat memengaruhi produktivitas pertanian dan memperbesar potensi kebakaran lahan. Situasi ini menuntut langkah mitigasi yang cepat agar dampak sosial dan ekonomi tidak melebar.

Imbauan BMKG untuk pemerintah dan warga

BMKG meminta pemerintah daerah memperkuat pengelolaan sumber air sejak dini, termasuk mengoptimalkan operasi waduk dan bendungan. Langkah ini dinilai penting untuk menjaga ketersediaan air saat puncak kemarau tiba.

Untuk masyarakat dan petani, BMKG memberikan sejumlah imbauan berikut:

  1. Menyesuaikan kalender tanam agar tidak bertabrakan dengan puncak kemarau
  2. Memilih varietas tanaman yang tahan kekeringan
  3. Menggunakan varietas berumur pendek untuk mengurangi risiko gagal panen
  4. Tidak melakukan pembakaran lahan saat cuaca sangat kering
  5. Menghemat penggunaan air di rumah tangga dan lingkungan sekitar

Vivi menegaskan penyesuaian pola tanam menjadi salah satu langkah paling penting bagi sektor pertanian. Dengan cuaca yang makin kering dan datang lebih cepat, kewaspadaan warga Jawa Barat perlu meningkat sejak awal musim agar tekanan kekeringan tidak berkembang menjadi krisis yang lebih luas.

Source: www.metrotvnews.com
Terbaru