
Inflasi tahunan Jawa Timur pada Mei 2026 naik ke level 3,49 persen year-on-year. Angka ini masih dinilai aman oleh Badan Pusat Statistik karena masih berada dalam rentang target inflasi pemerintah, yakni 2,5 persen plus minus 1 persen.
Kenaikan itu menunjukkan tekanan harga belum mereda sepenuhnya di Jatim. Meski begitu, BPS menilai kondisi tersebut belum sampai mengganggu daya beli masyarakat secara berat.
Pelaksana Tugas Kepala BPS Jawa Timur, Herum Fajarwati, mengatakan inflasi Jatim pada Mei 2026 lebih tinggi dibanding inflasi nasional yang berada di 3,08 persen. Ia juga membandingkannya dengan April 2026 yang masih 2,85 persen dan Mei 2025 yang hanya 1,22 persen.
Pendorong utama inflasi
Herum menjelaskan kenaikan indeks terjadi di hampir seluruh kelompok pengeluaran dalam setahun terakhir. Kontributor utamanya berasal dari kelompok makanan, minuman, tembakau, perawatan pribadi, jasa lainnya, serta transportasi.
Komoditas yang paling mendorong inflasi antara lain emas perhiasan, angkutan udara, cabai rawit, dan beras. Di sisi lain, bawang putih, kelapa, dan pisang berperan menahan laju inflasi.
Tekanan harga juga datang dari meningkatnya biaya bahan baku industri yang berasal dari impor. Kenaikan harga produk berbahan plastik ikut memberi tekanan pada berbagai komoditas, mulai dari peralatan elektronik hingga air minum kemasan.
Harga pangan dan transportasi ikut berperan
Herum menyebut harga pangan yang bergejolak turut memberi andil pada inflasi Mei. Pasokan sejumlah komoditas seperti beras, cabai, dan bawang terbatas sehingga harga terdorong naik.
Di saat yang sama, pasokan daging dan telur ayam ras disebut masih tercukupi meski permintaan menurun dibanding bulan sebelumnya. Kondisi ini ikut membedakan dampak inflasi antar-komoditas di pasar.
Dari sisi bulanan, inflasi Jatim pada Mei 2026 tercatat 0,28 persen month to month. Kota Surabaya mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,37 persen, sedangkan Kota Probolinggo menjadi yang terendah dengan 0,03 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan andil 0,11 persen. Kenaikan harga angkutan udara menjadi pemicunya, dipengaruhi kenaikan harga faktor domestik di seluruh wilayah Indonesia dengan rentang 14,81 persen hingga 16,16 persen dibanding bulan sebelumnya.
Sebaran inflasi di seluruh daerah
Inflasi tahunan juga terjadi di seluruh kabupaten dan kota di Jawa Timur. Kabupaten Sumenep mencatat inflasi tertinggi pada Mei 2026 sebesar 5,12 persen, sementara Kabupaten Tulungagung menjadi daerah dengan inflasi tahunan terendah sebesar 2,84 persen.
Herum menegaskan angka 3,49 persen masih berada dalam batas aman karena target inflasi pemerintah adalah 2,5 persen plus minus 1 persen. Ia menilai perkembangan global, termasuk perang dan faktor geopolitik, ikut memengaruhi arah inflasi di banyak negara.
Meski inflasi tahunan Jatim tergolong tinggi dibanding seluruh provinsi di Pulau Jawa pada Mei 2026, inflasi year-to-date Jatim masih tergolong rendah di level 1,43 persen. BPS berharap pemerintah terus menyiapkan kebijakan untuk meredam tekanan harga agar kondisi tetap kondusif pada bulan-bulan berikutnya.
Source: surabaya.bisnis.com








