Jatim Bersiap Hadapi El Nino, BPBD Waspadai Kekeringan yang Meluas dan Karhutla

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mulai mengintensifkan antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan lebih kering karena fenomena El Nino. Peringatan ini tidak hanya terkait ancaman kekeringan, tetapi juga risiko kebakaran hutan dan lahan yang diprediksi meningkat di sejumlah wilayah.

Kepala Pelaksana BPBD Jatim Gatot Soebroto menyebut pengalaman tahun 2025 menjadi dasar kewaspadaan kali ini. Saat itu, 18 dari 38 kabupaten/kota di Jawa Timur menetapkan status kedaruratan akibat kekeringan dan karhutla, dengan dampak kekeringan tercatat terjadi di 12 kabupaten.

Ancaman kekeringan diperkirakan meluas

BPBD Jatim mencatat awal musim kemarau di sebagian wilayah Jawa Timur dimulai sejak April 2026. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juli hingga Agustus 2026, dengan kondisi yang berpotensi lebih kering dari biasanya.

Gatot mengutip prediksi BMKG yang menyebut kekeringan di Jawa Timur pada 2026 berpotensi lebih kering akibat El Nino. BPBD juga memetakan potensi terdampak kekeringan yang diperkirakan mencapai sekitar 916 desa di 29 kabupaten.

Sebagai pembanding, data yang disampaikan BPBD Jatim menunjukkan potensi terdampak kekeringan pada 2022 mencapai 917 desa, lalu 2023 sebanyak 877 desa, 2024 sebanyak 819 desa, dan 2025 sebanyak 129 desa di 12 kabupaten. Di tahun 2026, wilayah yang sudah menetapkan status siaga kekeringan disebut ada tujuh kabupaten.

Tujuh kabupaten itu adalah Bondowoso, Lamongan, Banyuwangi, Lumajang, Bangkalan, Blitar, dan Pasuruan. Di Bondowoso, BPBD Jatim menegaskan sudah ada wilayah yang menerima dropping air bersih.

Langkah darurat sudah berjalan

Pada 2025, dampak kekeringan tercatat terjadi di 12 kabupaten. Penanganan saat itu mencakup dropping air bersih dan bantuan tandon air sebanyak 1.000 unit ke lokasi terdampak.

Untuk Bondowoso, wilayah yang sudah menerima bantuan air bersih meliputi 4 kecamatan, 4 desa, 19 dusun, 5 RT, dan 777 KK. Data ini menjadi salah satu indikator bahwa kebutuhan suplai air bersih masih menjadi fokus utama dalam penanganan kemarau.

BPBD Jatim juga menyiapkan strategi penanganan darurat melalui rapat koordinasi teknis dengan dinas atau OPD terkait serta BPBD kabupaten/kota. Selain itu, apel siaga gabungan pengendalian kebakaran hutan dan lahan juga masuk dalam rangkaian kesiapsiagaan.

Karhutla jadi risiko serius di kawasan pegunungan

Selain kekeringan, sejumlah kawasan pegunungan dan hutan konservasi menjadi perhatian khusus karena rawan kebakaran. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru diprediksi mengalami kondisi sangat kering saat kemarau, sehingga masuk wilayah yang perlu pengawasan ekstra.

Tahura Raden Soerjo juga masuk kategori rawan karena memiliki wilayah luas, medan terjal, angin kencang, dan riwayat kebakaran besar. BPBD Jatim juga menyoroti Gunung Lawu di Nganjuk dan Magetan yang memiliki vegetasi kering, jalur pendakian, dan sisi timur yang sangat rawan.

Selain itu, Gunung Argopuro, Ijen, Kelud, dan Penanggungan juga dinilai berpotensi mengalami kondisi suhu kering. Kondisi ini membuat pemantauan hotspot dan respons cepat menjadi bagian penting dari mitigasi.

Menurut Gatot, kebakaran hutan dan lahan umumnya dipicu faktor manusia seperti pembukaan lahan dan kelalaian. Faktor alam juga berperan melalui cuaca kering dan gesekan vegetasi yang mudah memicu api.

Luas hutan menyusut, risiko ikut naik

Gatot menyebut luas kawasan hutan di Jawa Timur saat ini berada di kisaran 1,07 juta hingga 1,24 juta hektare. Namun dalam satu dekade terakhir, kawasan hutan di provinsi ini mengalami penyusutan sekitar 125 ribu hektare.

Ia menilai deforestasi menjadi salah satu tantangan besar karena berdampak pada meningkatnya risiko bencana dan kebakaran hutan. Karena itu, BPBD Jatim menekankan perlunya rehabilitasi hutan dan lahan serta penguatan perhutanan sosial.

Di sisi lain, BPBD Jatim telah menjalankan langkah mitigasi melalui pemantauan hotspot, pembentukan Satgas Karhutla, hingga koordinasi penanganan lewat water bombing bersama instansi terkait. Rangkaian langkah itu disiapkan untuk mempersempit peluang kebakaran meluas saat puncak kemarau tiba.

Source: www.detik.com

Berita Terkait

Back to top button