Jawa Timur menghadapi tekanan baru di tengah pelemahan ekspor pada awal 2026. Nilai ekspor daerah itu mencapai 10,91 miliar dolar AS pada Januari-Mei 2026, tetapi turun 2,92 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Bagi pelaku usaha, penurunan ini bukan sekadar angka. Kondisi itu ikut menekan pendapatan masyarakat, margin keuntungan industri, dan rasa pasti di sektor manufaktur serta logistik ekspor.
Tekanan datang dari pasar global
Badan Pusat Statistik Jawa Timur menilai penurunan ekspor dipicu perubahan permintaan global dan persaingan internasional yang makin ketat. Di saat yang sama, negara mitra dagang utama seperti Jepang, Singapura, dan Amerika Serikat terus meningkatkan efisiensi produksi lewat otomasi berbasis AI.
Perubahan itu membuat kebutuhan terhadap produk impor, termasuk dari Indonesia, ikut melemah. Dampaknya terasa ketika produktivitas domestik di negara tujuan naik, sementara produsen di daerah asal belum bergerak secepat perubahan pasar.
Sektor unggulan ikut terimbas
Industri tekstil, elektronik, dan agroindustri yang selama ini menjadi tulang punggung ekspor Jawa Timur mulai merasakan tekanan. Sektor-sektor itu menghadapi tantangan pada margin dan daya saing di tengah persaingan harga dan kualitas yang semakin ketat.
Pekerja manufaktur dan logistik juga berada dalam situasi yang lebih tidak pasti. Ketika otomasi makin luas, sektor tradisional yang masih bergantung pada tenaga kerja manual menghadapi risiko tergeser.
Dorongan agar ekspor naik kelas
Sejumlah pihak di Jawa Timur meminta pemerintah mengambil langkah konkret untuk menjaga daya saing ekspor daerah. Salah satu dorongan yang mengemuka adalah penggunaan AI untuk quality control dan predictive analytics agar produk bisa memenuhi standar internasional yang makin ketat.
Penerapan machine learning di inspeksi produk dinilai dapat membantu perusahaan menemukan bottleneck di rantai pasok. Dengan cara itu, pelaku industri tidak hanya mengejar volume, tetapi juga kualitas dan efisiensi yang lebih siap menghadapi pasar global.
Tiga arah perubahan yang dinilai mendesak
Strategi pertama yang muncul adalah peningkatan kualitas produk berbasis data AI. Pemerintah daerah dan asosiasi industri didorong mempercepat modernisasi infrastruktur digital sebagai langkah awal pemulihan.
Strategi kedua adalah diversifikasi pasar dan produk bernilai tambah. Jawa Timur dinilai perlu bergerak dari bahan baku ke produk finishing, atau dari manufaktur massal ke custom manufacturing yang didukung AI design tools.
Strategi ketiga adalah memperluas akses pasar lewat platform digital. E-commerce dan marketplace internasional membuka peluang bagi UMKM Jawa Timur untuk menjangkau pembeli langsung tanpa perantara, dengan dukungan digital marketing yang lebih hemat biaya.
Risiko sosial tidak bisa diabaikan
Tekanan ekspor juga bersinggungan dengan persoalan tenaga kerja. Data yang disorot dalam konteks ini menunjukkan tingkat pengangguran terbuka nasional mencapai 4,91 persen pada Agustus 2024, dan salah satu pemicunya adalah perpindahan kerja akibat otomasi tenaga manual.
Upah rata-rata sektor informasi dan komunikasi di Indonesia mencapai Rp5,24 juta per bulan pada Agustus 2024. Angka itu memperlihatkan arah pergeseran pasar kerja, sementara pekerja manufaktur tradisional perlu menyiapkan reskilling agar tidak tertinggal.
Penting bagi perekonomian nasional
Jawa Timur disebut sebagai contributor signifikan terhadap PDB nasional dan memiliki peran penting dalam menjaga momentum pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Q4 2025 mencapai 5,08 persen, tetapi laju itu tidak merata di semua daerah.
Jika ekspor Jawa Timur terus menurun, kontribusinya terhadap pertumbuhan nasional ikut melemah. Di sisi lain, gini ratio Indonesia mencapai 0,379 pada September 2025, sehingga penurunan ekspor berisiko memperlebar ketimpangan jika tidak diimbangi strategi inklusi ekonomi.
AI dipandang sebagai alat, bukan ancaman
Tantangan utama bagi pemerintah dan industri kini bergeser pada cara memanfaatkan AI sebagai pengungkit daya saing. Pendekatan data-driven dinilai dibutuhkan untuk membaca peluang pasar, mengoptimalkan produksi, dan mempercepat adaptasi bisnis ekspor.
Bagi pelaku usaha, investasi teknologi dan upskilling tenaga kerja disebut sudah menjadi keharusan. Bagi pekerja, program pelatihan dan reskilling perlu dipercepat agar transisi ke pekerjaan berbasis skill dan teknologi tidak berubah menjadi gelombang pengangguran struktural.
Source: bernas.id






