Jawa Barat mulai menegaskan posisi barunya di peta wisata religi dengan meluncurkan Pariwisata Ramah Muslim di Masjid Jami’ At-Thohir, Depok. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat identitas Jawa Barat sebagai destinasi wisata religi nasional sekaligus internasional.
Pemerintah provinsi tidak hanya ingin menambah jumlah kunjungan, tetapi juga menaikkan kualitas layanan wisata yang lebih selaras dengan kebutuhan wisatawan Muslim. Fokusnya ada pada standar layanan, fasilitas ibadah, dan kemudahan sertifikasi halal bagi pelaku usaha.
Penguatan Identitas Pariwisata Jawa Barat
Wakil Gubernur Jawa Barat Erwan Setiawan mengatakan penduduk Jawa Barat mayoritas Muslim, sehingga pemerintah daerah dan pelaku industri pariwisata didorong memenuhi standar layanan wisata ramah Muslim. Pernyataan itu ia sampaikan dalam acara Peluncuran Bersama Pariwisata Ramah Muslim dan Publikasi Capaian Pembangunan Kepariwisataan (IPKN) Jawa Barat di Depok, Kamis (9/7).
Erwan juga menyebut program Smiling West Java-Muslim Friendly Tourism (SWJ-MFT) menjadi salah satu penggerak capaian Jawa Barat di tingkat nasional. Program itu membawa Jawa Barat meraih gelar juara umum dua kali berturut-turut pada ajang Anugerah Adinata Syariah tahun 2025 dan 2026.
| Tahun | Capaian Jawa Barat | Catatan |
|---|---|---|
| 2025 | Juara pada 9 dari 12 kategori | Anugerah Adinata Syariah |
| 2026 | Juara pada 12 dari 14 kategori | Anugerah Adinata Syariah |
Menurut Erwan, pencapaian itu menunjukkan arah pengembangan wisata halal di Jawa Barat mulai mendapat pengakuan lebih luas. Karena itu, ia mendorong percepatan sertifikasi halal agar pelaku UMKM bisa lebih mudah memperoleh layanan tersebut.
Depok Didorong Jadi Destinasi Unggulan
Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah menyambut peluncuran itu dengan apresiasi kepada Pemprov Jawa Barat karena mempercayakan agenda tersebut digelar di Depok. Ia menilai wisata ramah Muslim bisa memperkuat sinergi antara pusat, provinsi, dan pemerintah daerah.
Chandra juga menekankan pentingnya promosi bersama agar pengembangan wisata tidak berhenti pada konsep, tetapi ikut membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat. Menurut dia, penguatan promosi menjadi bagian penting untuk mewujudkan wisata kelas dunia.
Ia menjelaskan bahwa pembangunan pariwisata saat ini tidak lagi hanya berorientasi pada jumlah kunjungan. Yang lebih penting adalah kualitas destinasi, termasuk sarana dan prasarana yang menunjang kenyamanan wisatawan.
Chandra menegaskan program pariwisata ramah Muslim bukan untuk membatasi jumlah wisatawan. Tujuannya adalah meningkatkan kualitas fasilitas ibadah dan produk halal agar pengalaman wisata tetap inklusif dan lebih nyaman bagi banyak pengunjung.
Depok, kata dia, memiliki potensi besar sebagai tujuan wisata religi, wisata pendidikan, wisata budaya, dan wisata ekonomi kreatif. Dengan dukungan kebijakan dan promosi yang lebih terarah, kota ini dinilai punya peluang besar masuk dalam peta destinasi unggulan Jawa Barat.
