Blak-blakan Menko Pratikno: Dari Cita-cita Sekcam Menjadi Menteri Kecelakaan!

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, mengungkapkan pengakuan yang mengejutkan mengenai perjalanan hidupnya dan pandangannya tentang jabatan yang diembannya saat ini. Dalam sebuah acara peluncuran Gerakan Sejuta Beasiswa, Pratikno menyatakan bahwa cita-cita masa kecilnya sangat sederhana; ia hanya ingin menjadi seorang sekretaris camat (sekcam) karena profesi itu dipandangnya sebagai simbol kehormatan di desanya. “Saya bercita-cita jadi sekcam. Itu paling gagah kalau dulu datang ke desa saya,” ungkapnya dengan penuh nostalgia.

Sebelum meniti karier politik, Pratikno menghabiskan masa kecilnya dalam kondisi yang sederhana, bahkan sering berjalan kaki berkilo-kilo meter ke sekolah tanpa alas kaki. Ia baru bisa mengenakan sepatu ketika duduk di bangku SMP. Namun, pengalaman pertamanya bersepatu justru menjadi hal yang kurang menyenangkan. "Karena lebih sakit pakai sepatu daripada tidak pakai sepatu," katanya sambil mengenang saat-saat sulit tersebut.

Lebih lanjut, Pratikno menyatakan bahwa posisinya sebagai menteri, khususnya saat menjabat sebagai Menteri Sekretaris Negara di era pemerintahan Joko Widodo, adalah sesuatu yang tidak pernah ia impikan. Ia secara blak-blakan menyebutkan bahwa jabatan tersebut adalah “kecelakaan” yang tidak pernah ia bayangkan. Pernyataan ini menunjukkan sikap humorisnya serta menggarisbawahi betapa jauh perjalanan hidupnya dari cita-cita sederhana yang pernah ada.

Dalam acara tersebut, Pratikno juga menekankan perlunya pendidikan untuk mengangkat derajat kehidupan anak-anak di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa masih banyak anak-anak di Indonesia yang menghadapi tantangan serupa dengan yang ia alami. “Ini banyak sekali anak-anak SD yang harus jalan kaki berkilo-kilometer untuk sekolah tanpa sepatu,” ujarnya. Dengan meluncurkan Gerakan Sejuta Beasiswa, Kemenko PMK berharap dapat membuka akses pendidikan seluas-luasnya, terutama bagi anak-anak berbakat dari keluarga tidak mampu.

Gerakan ini merupakan hasil kolaborasi dengan Asosiasi Jaringan Beasiswa Indonesia dan diharapkan bisa menjangkau anak-anak yang memiliki talenta luar biasa tetapi terhalang oleh keterbatasan ekonomi. Pratikno menegaskan pentingnya memberikan peluang kepada generasi muda untuk melanjutkan studi mereka, sehingga mereka bisa mewujudkan impian yang lebih besar, bahkan melebihi sekcam yang menjadi cita-citanya di masa kecil.

Kisah inspiratif Pratikno bisa menjadi motivasi bagi banyak orang tua dan anak-anak di Indonesia. Ia menjadi contoh nyata bahwa dengan tekad dan semangat, kita bisa mengatasi berbagai rintangan. Melalui penggunaan pengalaman hidupnya, Pratikno berharap anak-anak yang memiliki potensi tidak terfasilitasi oleh kondisi sosial-ekonomi mereka.

Membangun Kesadaran Sosial

Pratikno menekankan bahwa pendidikan adalah kunci untuk mengentaskan kemiskinan. Ia berharap Gerakan Sejuta Beasiswa ini tidak hanya menjadi sekadar program, tetapi juga memicu kesadaran sosial mengenai pentingnya pendidikan. Ia percaya bahwa setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan yang layak guna mendukung impian dan aspirasi mereka.

Harapan untuk Masa Depan

Program ini diharapkan dapat menjadi jembatan bagi anak-anak yang tidak memiliki akses ke pendidikan yang baik untuk bisa mendapatkan beasiswa yang mendukung pendidikan mereka. Pratikno menyatakan, “Jangan sampai anak-anak yang punya talenta yang luar biasa justru tidak terfasilitasi untuk melakukan studi lanjut.” Dengan demikian, cita-cita besar yang lebih tinggi dari sekcam bukanlah hal yang mustahil bagi generasi mendatang.

Dalam konteks yang lebih luas, pengakuan Pratikno tentang kehidupannya yang sederhana dan perjalanan yang tak terduga untuk mencapai posisi tinggi merupakan cerminan dinamisnya perjalanan kehidupan dan harapan untuk memberi dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam bidang pendidikan.

Terkait