Armada Taksi Changan Eado Di Chongqing Dijuluki Ferrari Kuning, Sopirnya Tembus Macet Lebih Cepat Dari ETA Aplikasi

Author: Qoo Media

Armada taksi di Chongqing, China, menarik perhatian karena mendapat julukan Ferrari Kuning. Sebutan itu muncul bukan karena mobil sport benar-benar dipakai, melainkan karena gaya mengemudi para sopirnya yang dikenal cekatan saat menembus jalanan kota pegunungan yang padat dan menantang.

Fenomena ini mulai banyak dibicarakan ketika Changan mengundang kunjungan ke pusat operasional mereka di Chongqing. Di kota dengan kontur berbukit dan gedung-gedung tinggi, taksi berwarna kuning cerah itu tampil sebagai bagian penting dari wajah transportasi lokal.

Julukan yang lahir dari reputasi sopir

Regional Deputy Chief of CHANGAN Automobile SEA, Arie Hermawan, menegaskan bahwa istilah tersebut memang sudah melekat di masyarakat setempat. “Nih yang ikonik banget dari Chongqing. Biasanya disebut ‘Ferrari Kuning’,” ujarnya saat menjelaskan fenomena transportasi itu.

Julukan Ferrari Kuning merujuk pada keberanian dan keterampilan para pengemudi dalam melewati rute yang sempit, menanjak, dan penuh tikungan. Dalam kondisi tertentu, taksi-taksi ini bahkan disebut kerap tiba lebih cepat dari estimasi waktu yang ditampilkan aplikasi pemetaan digital.

Bukan mobil sport, tetapi sedan listrik

Di balik citra agresif itu, armada yang digunakan ternyata bukan kendaraan sport. Mayoritas taksi di Chongqing memakai model sedan Changan Eado yang telah mengadopsi teknologi ramah lingkungan.

Ciri yang menandai teknologi tersebut terlihat dari pelat nomor berwarna hijau, yang digunakan untuk kendaraan listrik murni atau plug-in hybrid. Identitas ini menunjukkan bahwa operasional taksi tidak hanya mengandalkan ketangkasan di jalan, tetapi juga mengikuti arah penggunaan kendaraan yang lebih efisien.

Warna kuning menyala pada seluruh armada juga menjadi pembeda utama. Berbeda dengan transportasi umum di banyak kota lain yang punya variasi warna, taksi di Chongqing tampil seragam dan mudah dikenali di tengah padatnya lalu lintas perkotaan.

Kapasitas penumpang dan aturan operasional

Meski dikenal berani, operasional taksi ini tetap dibatasi oleh aturan yang jelas. Sebagai sedan, setiap unit hanya diperbolehkan mengangkut maksimal empat penumpang dalam satu perjalanan.

Batasan tersebut penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan penumpang saat kendaraan bergerak di medan jalan yang tidak biasa. Dalam konteks kota seperti Chongqing, kepatuhan terhadap aturan menjadi faktor yang sama pentingnya dengan kecepatan layanan.

Tarif awal dan struktur biaya perjalanan

Dari sisi biaya, sistem tarif taksi ini dimulai dari ongkos minimal 10 RMB, atau sekitar Rp 25 ribu. Setelah itu, penumpang akan dikenakan tambahan biaya sekitar 2 hingga 3 CNY per kilometer, setara Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu.

Struktur tarif tersebut memberi gambaran bahwa layanan taksi di Chongqing disusun dengan pola yang sederhana dan mudah dipahami. Bagi pengguna, informasi ini menjadi relevan karena kota tersebut dikenal tidak hanya lewat medan jalan yang ekstrem, tetapi juga lewat layanan transportasi yang sudah menyatu dengan karakter wilayahnya.

Dalam praktiknya, Ferrari Kuning kini tidak hanya menjadi sebutan yang terdengar unik, tetapi juga simbol cara warga Chongqing beradaptasi dengan kondisi geografis kotanya. Armada Changan Eado yang berwarna kuning itu menunjukkan bagaimana transportasi publik bisa membangun identitas kuat lewat perpaduan antara kendaraan, medan jalan, dan keahlian pengemudi.

Terbaru