
Indomobil melihat pasar motor listrik di Indonesia dengan pendekatan yang berbeda dari mobil listrik. Perusahaan menilai konsumen roda dua jauh lebih menuntut soal fungsi harian, sehingga strategi jualannya harus menonjolkan kegunaan langsung, bukan sekadar tampilan atau citra merek.
Direktur Indomobil Grup Andrew Nasuri mengatakan transaksi motor lebih sulit dibanding mobil karena motor dipakai sebagai alat transportasi utama. Ia menjelaskan bahwa motor di Indonesia umumnya dipakai untuk mobilitas harian yang lebih panjang, seperti perjalanan rumah ke kantor dan sebaliknya.
Fokus pada fungsi harian
Bagi Indomobil, karakter konsumen motor listrik cenderung lebih rasional. Pembeli akan lebih dulu menilai apakah motor bisa dipakai untuk aktivitas rutin tanpa hambatan, termasuk jarak tempuh, kemudahan isi daya, dan keandalan dalam pemakaian harian.
Andrew menegaskan bahwa aspek usability harus menjadi prioritas utama bagi siapa pun yang bermain di pasar motor listrik di Indonesia. Dalam pandangannya, motor bukan lagi sekadar kendaraan pelengkap, melainkan aset penting yang harus siap mengantar pengguna dari titik A ke titik B setiap hari.
Karena itu, produsen tidak bisa hanya menjual narasi teknologi atau tren kendaraan ramah lingkungan. Motor listrik harus benar-benar menjawab kebutuhan praktis pengguna, terutama bagi konsumen yang bergantung pada kendaraan roda dua untuk bekerja dan beraktivitas.
Berbeda dengan mobil listrik
Di sisi lain, pasar mobil listrik dinilai masih memiliki ruang bagi faktor emosional dalam keputusan pembelian. Andrew menyebut konsumen mobil kerap mempertimbangkan hal-hal seperti merek, tipe, dan desain, selain fungsi dan efisiensi.
Perbedaan ini membuat strategi pemasaran motor listrik tidak bisa disamakan dengan mobil listrik. Jika mobil bisa menarik minat lewat desain, kenyamanan, dan citra produk, maka motor listrik harus lebih dulu membuktikan bahwa kendaraan itu benar-benar berguna dalam penggunaan sehari-hari.
Indomobil membaca situasi tersebut sebagai tantangan sekaligus peluang. Tantangannya ada pada kebiasaan konsumen yang sangat praktis, tetapi peluangnya terbuka jika produk mampu memberi solusi mobilitas yang jelas dan mudah diterima.
Nilai jual yang harus terasa langsung
Dalam konteks motor listrik, efisiensi saja tidak cukup. Konsumen juga ingin tahu apakah kendaraan bisa diisi daya di rumah, apakah jarak tempuhnya sesuai kebutuhan, dan apakah motor tetap andal saat dipakai rutin.
Pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pasar motor listrik membutuhkan komunikasi yang lebih spesifik. Pabrikan harus menjelaskan manfaat nyata dalam bahasa yang sederhana agar konsumen melihat motor listrik sebagai pilihan yang aman dan masuk akal untuk aktivitas sehari-hari.
Indomobil E-Motor menjadi salah satu merek yang berada di bawah naungan Indomobil Grup dalam pengembangan kendaraan listrik roda dua. Kehadiran merek ini memperlihatkan bahwa perusahaan tidak hanya masuk ke pasar listrik, tetapi juga mencoba menyesuaikan strategi penjualan dengan pola penggunaan masyarakat Indonesia.
Pasar roda dua dan roda empat tidak identik
Pernyataan Andrew juga menegaskan bahwa transisi kendaraan listrik di Indonesia tidak berjalan seragam. Pasar roda dua memiliki dinamika sendiri, terutama karena sepeda motor masih menjadi kendaraan utama bagi banyak orang untuk menempuh jarak harian yang cukup jauh.
Dengan karakter seperti itu, pelaku industri perlu memahami bahwa motor listrik harus menawarkan kemudahan pemakaian yang terasa sejak awal. Jika pengguna masih ragu soal pengisian daya, jarak tempuh, atau keandalan produk, maka keputusan membeli bisa tertunda meski minat terhadap kendaraan listrik terus tumbuh.
Strategi Indomobil pada akhirnya bertumpu pada satu hal penting, yaitu membuktikan bahwa motor listrik mampu memenuhi kebutuhan mobilitas sehari-hari secara praktis. Di pasar yang menilai fungsi sebagai pertimbangan utama, kejelasan manfaat menjadi kunci agar motor listrik tidak hanya menarik secara konsep, tetapi juga relevan dalam rutinitas pengguna Indonesia.
Source: otomotif.kompas.com








