Zebra cross bergaya Pac-Man yang dibuat Ijoel di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, ramai dibicarakan karena tampil mencolok sekaligus fungsional. Di balik tampilannya yang viral, biaya pengerjaannya ternyata tergolong rendah untuk ukuran perbaikan marka jalan di ruang publik.
Sorotan terbesar datang dari nilai modal yang dikeluarkan. Ijoel menyebut pengerjaan satu ruas zebra cross seperti yang terakhir ia kerjakan hanya membutuhkan biaya cat spray sekitar Rp 200.000 sampai Rp 300.000.
Angka itu kemudian bertambah ketika kebutuhan lapangan ikut dihitung. Menurut Ijoel, jika ditambah makan dan minum untuk tim kecilnya, total biaya sekitar Rp 350.000 dan masih tidak sampai Rp 500.000 untuk satu ruas.
Biaya yang relatif hemat itu membuat aksinya memantik perhatian luas. Banyak orang melihatnya sebagai contoh bahwa fasilitas publik yang aman dan estetis tidak selalu harus menunggu anggaran besar.
Ijoel dikenal setelah membuat zebra cross yang semula tampak kaku menjadi area penyeberangan ikonik dengan visual karakter gim Pac-Man. Lokasinya berada di Jalan Dr. Soepomo, Tebet, dan karya itu sempat viral di media sosial.
Tampilan zebra cross tersebut mengubah marka yang pudar menjadi lebih mencolok secara visual. Efeknya bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga mengangkat kembali fungsi marka agar lebih terlihat oleh pengguna jalan.
Biaya Murah, Respons Cepat
Ijoel menjelaskan bahwa seluruh modal pengerjaan berasal dari kantong pribadi. Ia menekankan bahwa pengeluaran utamanya ada pada cat spray, sedangkan biaya lain hanya pendukung operasional sederhana di lapangan.
Poin ini menjadi penting karena menunjukkan skala pengerjaan yang ringkas. Dengan modal ratusan ribu rupiah, satu ruas penyeberangan bisa diperbarui tanpa biaya yang mendekati jutaan rupiah.
Efisiensi itu sekaligus menjadi alasan kenapa aksinya cepat menarik simpati publik. Di tengah kondisi marka yang memudar, respons cepat dengan dana terbatas dinilai memberi dampak langsung pada keselamatan pengguna jalan.
Meski demikian, Ijoel juga menyadari ada batas kewenangan dalam urusan fasilitas jalan. Ia mengakui bahwa secara administratif, pemeliharaan jalan bukan ranah warga sipil.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa aksinya bukan dimaksudkan untuk mengambil alih peran otoritas. Langkah tersebut ia lakukan sebagai respons terhadap kondisi lapangan yang menurutnya sudah mendesak.
Alasan Marka Pac-Man Dibuat
Menurut Ijoel, keputusan untuk mengeksekusi ide itu muncul karena rasa geregetan melihat marka yang sudah “mati” atau pudar. Kondisi tersebut ia nilai berbahaya karena berada di area yang padat lalu-lalang.
Ia memilih bertindak lebih cepat daripada menunggu proses yang lama. Baginya, makin lama marka dibiarkan memudar, makin besar pula risiko bagi orang yang menyeberang atau melintas di lokasi itu.
Logika inilah yang membuat zebra cross Pac-Man bukan sekadar karya visual. Di balik tampilannya yang unik, ada dorongan untuk mengembalikan perhatian publik pada fungsi dasar marka penyeberangan.
Warna-warni dan bentuk yang mudah dikenali membantu zebra cross itu menonjol di jalan. Dalam konteks kawasan ramai, visibilitas seperti ini menjadi elemen penting agar area penyeberangan tidak diabaikan.
Dari Estetika ke Fungsi Publik
Aksi Ijoel juga memperlihatkan bahwa pendekatan kreatif bisa memberi nilai tambah pada fasilitas publik. Marka jalan tidak hanya diperjelas, tetapi juga diubah menjadi elemen kota yang lebih hidup dan mudah diingat.
Karena itu, pembicaraan mengenai zebra cross Pac-Man tidak berhenti pada sisi viral semata. Banyak perhatian justru tertuju pada kombinasi antara kreativitas, urgensi keselamatan, dan biaya yang ternyata sangat terjangkau.
Di saat yang sama, Ijoel tetap menempatkan posisinya sebagai warga sipil yang sadar batas administratif. Ia tidak menutup fakta bahwa pemeliharaan jalan seharusnya menjadi bagian dari kewenangan pihak terkait.
Namun kondisi marka yang hilang di area padat membuatnya menilai tindakan cepat lebih penting saat itu. Pilihan tersebut lahir dari pertimbangan praktis di lapangan, bukan dari proses formal.
Zebra cross Pac-Man di Tebet pun menjadi contoh bagaimana intervensi kecil bisa memicu percakapan besar. Dengan modal kurang dari Rp 500.000 untuk satu ruas, aksi itu berhasil menyorot isu keselamatan, perawatan fasilitas publik, dan pentingnya kehadiran marka yang jelas di jalan ramai.
Source: otomotif.kompas.com






