BYD M6 Bekas Masih Bertahan Di Rp 300 Jutaan, Ternyata Harga Jualnya Tak Jatuh

BYD M6 EV masih jadi salah satu model yang menarik perhatian di pasar mobil bekas. Alasannya sederhana, unit bekasnya banyak yang masih berusia muda, sementara harganya belum terlalu jauh dari mobil baru.

Kondisi itu membuat M6 berbeda dari banyak mobil listrik bekas lain. Di saat sejumlah model listrik lain bisa turun harga tajam setelah berpindah tangan, banderol M6 justru masih berada di kisaran yang relatif stabil.

Di dealer, BYD M6 EV ditawarkan mulai dari Rp 383 juta sampai Rp 433 juta. Sementara di pasar mobkas, harga yang muncul berada di sekitar Rp 300 jutaan dan kebanyakan masih di bawah Rp 350 juta.

Selisih harga itu membuat M6 bekas terlihat lebih masuk akal bagi konsumen yang ingin masuk ke segmen MPV listrik tanpa membayar harga unit baru. Namun, nilai akhirnya tetap sangat bergantung pada kondisi fisik mobil dan jarak tempuh yang sudah dilalui.

Unit muda, harga belum terlalu jatuh

Salah satu alasan harga bekas M6 masih bertahan adalah usianya yang belum terlalu lama di pasar. Karena itu, banyak unit yang dijual kembali masih tergolong baru dan odometernya pun bervariasi, dari yang masih rendah hingga ada yang sudah menembus lebih dari 1.000 km.

Faktor kondisi ini penting karena mobil bekas selalu membawa risiko berbeda pada tiap unit. Pembeli perlu cermat mengecek riwayat penggunaan, karena harga yang terlihat menarik belum tentu sebanding dengan kondisi sebenarnya.

Stabilnya harga M6 juga menandai posisi khusus model ini di pasar. Mobil listrik bekas umumnya lebih rentan anjlok, tetapi M6 justru masih punya daya tarik tersendiri di kalangan pencari MPV listrik.

Segmen yang sempat kosong jadi peluang

BYD M6 disebut sebagai MPV listrik entry level pertama di Indonesia. Di saat rival-rivalnya lebih banyak bermain di mobil hybrid murah, BYD memilih langsung mengisi segmen MPV listrik yang masih kosong.

Strategi itu membuat M6 mendapat sambutan baik sejak awal. Model ini bahkan tercatat sebagai mobil listrik terlaris sepanjang 2024, sehingga wajar kalau permintaan di pasar sekunder ikut terjaga.

Peminatnya juga datang dari kebutuhan yang cukup jelas. Banyak konsumen mencari MPV listrik seperti M6 karena menawarkan opsi keluarga dengan emisi lebih rendah tanpa harus bergantung pada bensin.

Berbeda dari banyak mobil listrik bekas lain

Pasar mobil listrik bekas di Indonesia sebenarnya tidak selalu ramah bagi pemilik. Beberapa model, seperti Wuling Air EV yang berada di kisaran Rp 200 jutaan, bisa turun hingga Rp 100 juta setelah dijual kembali, begitu juga Hyundai Ioniq 5 dan model listrik lainnya.

Kondisi itu sempat membuat sebagian konsumen ragu membeli mobil listrik. Kekhawatiran terbesar ada pada penurunan harga jual kembali yang dinilai bisa lebih tajam dibanding mobil jenis lain.

Namun, M6 justru berada di jalur yang berbeda. Harga jual kembalinya masih cukup stabil, bahkan tetap terlihat lebih terjangkau ketimbang unit baru tanpa jatuh terlalu dalam.

Bukan cuma soal harga

Di tengah harga bahan bakar yang mahal, mobil listrik masih dianggap menarik karena pemilik tidak perlu mengisi bensin. Cukup mengisi daya baterai, biaya harian bisa ditekan selama penggunaan sesuai kebutuhan.

Meski begitu, pembeli mobkas tetap harus berhati-hati. Pemeriksaan komponen dan status garansi baterai tetap penting agar mobil aman dipakai dan tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

Ketersediaan unit juga bisa menjadi pertimbangan. Jika stok di pasar tidak banyak, pembeli bisa saja harus bergerak cepat sebelum unit yang sesuai kebutuhan keburu diambil orang lain.

Source: ridertua.com

Berita Terkait

Back to top button