Nissan sedang mengubah cara kerja pengembangan mobilnya dengan meniru kecepatan produsen China. Presiden Nissan Motor Ivan Espinosa ingin memangkas setengah waktu pengembangan model baru lewat pemanfaatan AI dan alat digital di desain, pengujian, hingga manufaktur.
Langkah itu muncul karena pola lama membuat Nissan kesulitan menghadirkan model populer dan ikut menekan pendapatan. Espinosa, yang menjabat presiden sejak April, menargetkan waktu pengembangan baru turun menjadi 30 bulan atau 2,5 tahun.
AI jadi kunci pemangkasan waktu
Espinosa menyebut strategi baru ini bertumpu pada kemampuan AI dan penggunaan alat-alat baru yang lebih banyak di setiap tahap pengembangan. Dengan cara itu, Nissan ingin bergerak lebih cepat membaca preferensi konsumen dan perubahan kebijakan negara.
Model pertama yang akan lahir dari strategi ini adalah generasi anyar Skyline. Masa pengembangannya dipangkas menjadi 26 bulan, atau 55 bulan lebih singkat dari sebelumnya.
Nissan juga menyiapkan penerapan pendekatan ini untuk 90 persen pengembangan kendaraan pada tahun fiskal 2026. Perusahaan melihat kecepatan pengembangan sebagai syarat penting untuk tetap kompetitif di pasar yang bergerak cepat.
Belajar dari China, lalu dibawa global
Nissan mengakui banyak pelajaran datang dari mitra usahanya di China, Dongfeng Motor. Mobil listrik Dongfeng Nissan N7 yang meluncur pada April 2025 disebut lahir lebih cepat setelah periode pengembangannya dipangkas menjadi hanya dua tahun.
Espinosa menilai China kini menetapkan standar industri masa depan dalam teknologi, daya saing biaya, dan waktu pengembangan. Ia menyebut Nissan perlu belajar dari Tiongkok lalu mengekspor pengetahuan itu ke pasar global.
Strategi baru ini juga akan mengubah cara Nissan menyusun platform kendaraan. Perusahaan akan membuat standar sasis dan komponen inti, lalu mengembangkan beberapa model dari keluarga yang memakai komponen serupa.
Sasis pertama dalam skema itu akan dipakai untuk mobil keluarga yang diproduksi di pabrik Nissan di Canton, Mississippi, Amerika Serikat. Dengan pendekatan ini, Nissan berharap proses pengembangan dan produksi bisa lebih efisien.
Target besar di tengah penjualan yang melemah
Dorongan efisiensi ini datang saat performa penjualan Nissan masih tertekan. Penjualan global pada tahun fiskal 2025 turun 6 persen dibanding 2024 menjadi 3,15 juta unit, sementara penjualan di Jepang turun 13 persen menjadi sekitar 400 ribu unit.
Nissan menargetkan penjualan 550.000 unit per tahun di Jepang pada tahun fiskal 2030. Untuk mencapai itu, perusahaan perlu mengejar kenaikan 40 persen dalam lima tahun ke depan.
Karena itu, Nissan menyiapkan gelombang peluncuran model baru untuk membalikkan keadaan. Perusahaan berencana meluncurkan tujuh model baru dalam kurun waktu sekitar satu tahun, dimulai dari Leaf EV terbaru yang mulai dijual pada Januari, lalu disusul Skyline yang dihidupkan kembali.
Espinosa menyebut laju peluncuran itu sebagai yang tercepat dalam sejarah Nissan. Di saat yang sama, perusahaan juga mempertimbangkan model baru yang posisinya berada di antara mobil ringkas Note dan minivan Serena.
Portofolio dipadatkan, volume dijaga
Ke depan, Nissan menargetkan 80 persen penjualan global datang dari total tiga keluarga model, termasuk mobil keluarga ringkas di Jepang. Perusahaan juga menyiapkan lima SUV dan pikap, termasuk di bawah merek mewah Infiniti, serta satu model untuk Mitsubishi Motors sebagai produksi OEM.
Seluruh model itu dijadwalkan meluncur setidaknya pada tahun fiskal 2028. Nissan juga sedang mengerjakan penerus mobil sport ikonik GT-R, meski detail lanjutannya belum diungkap.
Dengan pendekatan yang lebih cepat dan platform yang lebih seragam, Nissan berharap bisa mengejar efisiensi tanpa kehilangan daya tarik produk. Strategi ini menjadi salah satu upaya paling agresif perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan ritme industri otomotif yang semakin ditentukan oleh AI dan kecepatan inovasi.
