Era elektrifikasi dinilai tidak cukup hanya mengalihkan pembeli dari mobil konvensional ke mobil listrik, hybrid, atau plug-in hybrid. Pelaku industri menilai perubahan ini harus dipakai untuk menciptakan konsumen baru agar pasar otomotif nasional benar-benar membesar.
Pandangan itu muncul saat pilihan kendaraan elektrifikasi di Indonesia makin beragam. Di saat yang sama, data penjualan menunjukkan pasar memang bergerak ke fase elektrifikasi yang lebih luas, tetapi ruang pertumbuhan industri otomotif nasional masih dinilai sangat besar.
Chief Operating Officer BAIC Indonesia Dhani Yahya menilai pasar otomotif Indonesia seharusnya tidak berhenti di level penjualan saat ini. Menurut dia, fokus industri jangan hanya pada perebutan ceruk pasar yang sudah ada.
Dhani mengatakan, pasar atau segmen otomotif di Indonesia masih punya ruang untuk berkembang. Ia menilai kehadiran teknologi baru dan pemain baru semestinya mendorong pertumbuhan pasar secara keseluruhan, bukan sekadar menggantikan transaksi yang sebelumnya sudah terjadi.
Menurut dia, konsumen pada akhirnya akan diuntungkan jika pasar berkembang lebih luas. Persaingan akan membuat harga semakin kompetitif, teknologi membaik, dan layanan ikut meningkat.
Ruang pasar masih besar
Dhani mengacu pada rasio kepemilikan mobil di Indonesia yang masih rendah. Dari 1.000 penduduk, baru sekitar 99 orang atau kepala keluarga yang memiliki kendaraan roda empat.
Angka itu dinilai menunjukkan bahwa basis konsumen mobil di Indonesia masih bisa diperluas. Karena itu, ia mendorong industri agar tidak terjebak pada angka penjualan sekitar 1 juta unit saja.
Menurut Dhani, pasar otomotif Indonesia seharusnya bisa berkembang menjadi 2 juta unit. Setidaknya, dari level saat ini yang berada di kisaran 1,1 juta sampai 1,2 juta unit, peluang untuk naik menuju 1,5 juta unit masih terbuka.
Ia juga menilai Indonesia masih tertinggal dibanding beberapa negara lain di kawasan Asia dalam hal rasio kepemilikan mobil per 1.000 penduduk. Thailand dan Malaysia disebut memiliki rasio yang lebih tinggi, sedangkan Singapura tidak bisa dijadikan pembanding langsung karena keterbatasan wilayah.
Elektrifikasi mulai tumbuh beragam
Gambaran perluasan pasar itu muncul ketika penjualan kendaraan elektrifikasi mulai menguat di beberapa segmen sekaligus. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) menunjukkan total penjualan mobil elektrifikasi sepanjang Januari–Mei 2026 mencapai 93.839 unit.
Jumlah itu berasal dari gabungan mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV), hybrid electric vehicle (HEV), dan plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Komposisi tersebut menunjukkan elektrifikasi di Indonesia tidak lagi bertumpu pada satu teknologi saja.
Kontributor terbesar masih datang dari mobil listrik murni. Pada lima bulan pertama 2026, penjualan BEV tercatat 57.087 unit atau tumbuh sekitar 80 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Segmen hybrid juga terus berkembang. Penjualannya mencapai 34.151 unit atau naik 49,7 persen secara tahunan dari 22.819 unit.
Sementara itu, PHEV menjadi segmen dengan laju pertumbuhan paling agresif. Penjualannya melonjak lebih dari empat kali lipat, dari 504 unit menjadi 2.097 unit.
Peran kebijakan dinilai penting
Di tengah tren itu, Dhani menilai pemerintah perlu ikut memastikan pertumbuhan industri tidak berhenti pada bertambahnya jumlah merek, distributor, atau manufaktur. Menurut dia, banyaknya pemain baru belum cukup bila hanya saling mengambil pasar yang sudah ada.
Ia menekankan perlunya kebijakan yang benar-benar mendorong pasar baru. Salah satu contoh yang ia sebut adalah dukungan terhadap kendaraan hybrid, selain bentuk dukungan lain yang bisa memperbesar pasar otomotif nasional.
Pendekatan seperti itu dinilai penting agar elektrifikasi memberi dampak lebih luas pada industri. Bukan hanya menciptakan variasi produk, tetapi juga membuka akses bagi lebih banyak konsumen untuk masuk ke pasar mobil.
Dengan kata lain, era elektrifikasi dipandang sebagai momentum ekspansi, bukan sekadar transisi teknologi. Saat pilihan BEV, HEV, dan PHEV terus bertambah, tantangan berikutnya adalah memastikan pertumbuhan itu ikut menaikkan jumlah pemilik mobil di Indonesia.
Source: otomotif.kompas.com






