Nio Inc sedang mengupayakan perubahan besar pada struktur pencatatannya di Hong Kong. Perusahaan kendaraan listrik itu ingin beralih dari secondary listing menjadi primary listing agar jalur menuju Stock Connect terbuka lebih lebar bagi investor daratan China.
Langkah ini menjadi penting karena status secondary listing saat ini membuat Nio belum memenuhi syarat masuk Stock Connect. Akibatnya, investor mainland belum bisa membeli saham Hong Kong Nio melalui mekanisme tersebut.
Manajemen Nio menyampaikan rencana itu dalam rapat pemegang saham 2026 pada Rabu, menurut catatan pertemuan yang dibagikan oleh beberapa otomotif blogger yang mengaku hadir. Mereka menyebut perusahaan sudah berbicara dengan regulator Hong Kong sambil tetap mempertahankan struktur tata kelola berbasis pengguna yang ada sekarang.
Kunci akses ke modal investor daratan
Bagi Nio, perubahan status pencatatan bukan sekadar urusan administratif. Jika berhasil, perusahaan akan mendapatkan akses yang lebih langsung ke dana investor mainland melalui Stock Connect, seperti yang sudah dinikmati beberapa emiten sejenis.
Saat ini, aturan Stock Connect memang menutup pintu bagi perusahaan dengan secondary listing. Karena itu, saham Hong Kong Nio belum masuk dalam daftar yang bisa dibeli lewat kanal tersebut oleh investor daratan China.
Situasi itu berbeda dengan dua pesaing domestik Nio. Xpeng dan Li Auto sama-sama tercatat di Hong Kong lewat dual primary listing, dan keduanya sudah masuk Stock Connect.
Masuknya dua perusahaan itu memberi mereka aliran modal southbound dari investor mainland. Kondisi tersebut juga memperluas basis pemegang saham mereka di pasar Hong Kong.
Mengurangi ketergantungan pada status listing AS
Primary listing juga memberi manfaat lain yang dinilai penting oleh manajemen perusahaan. Dengan status itu, Nio tidak lagi terlalu bergantung pada perubahan status pencatatan eksternalnya, termasuk ketergantungan pada status listing di Amerika Serikat.
Ada contoh dari perusahaan China lain yang sudah menempuh jalur serupa. Alibaba, misalnya, sebelumnya juga kembali ke Hong Kong melalui secondary listing sebelum kemudian mengubah Hong Kong menjadi primary listing venue pada Agustus 2024.
Setelah perubahan itu, Alibaba ikut masuk Stock Connect. Langkah tersebut memudahkan investor mainland untuk berinvestasi langsung di perusahaan itu.
Namun, akses ke Stock Connect tetap memiliki ambang batas. Hanya investor daratan dengan aset akun sekuritas di atas 500.000 yuan yang memenuhi syarat untuk berpartisipasi.
Di tengah tekanan pasar dan fokus operasional
Di rapat yang sama, manajemen Nio juga menyinggung soal valuasi pasar. Mereka menyatakan bahwa nilai pasar tidak banyak bergantung pada apa yang bisa dikendalikan perusahaan, dan waktu maupun level valuasi datang bukan sesuatu yang bisa diatur.
Nio saat ini memiliki kapitalisasi pasar sekitar 12,8 miliar dolar AS. Angka itu berada dekat dengan Li Auto yang bernilai 12,9 miliar dolar AS, dan sedikit di atas Xpeng yang bernilai 12,2 miliar dolar AS.
Manajemen juga menjelaskan arah investasi riset dan pengembangan. Pada 2025, Nio memang memangkas 10.000 karyawan dibanding 2024, dan skala tenaga kerja R&D ikut menyusut.
Meski begitu, investasi pada R&D dasar disebut tetap dipertahankan. Pemangkasan biaya lebih banyak terjadi di lapisan aplikasi, sementara semua proyek akan diperingkat ketat berdasarkan pengembalian investasi.
Bisnis baterai dan ekspansi luar negeri
Di bisnis baterai, pengadaan baterai Nio tahun ini sudah melampaui 30 miliar yuan. Manajemen memperkirakan angka itu akan naik lagi tahun depan dan bisa mencapai 50 miliar yuan dalam dua tahun.
Nio juga menilai keunggulan kompetitif model BaaS atau battery as a service belum sepenuhnya keluar. Mereka melihat standar baterai yang lebih seragam dan peluncuran baterai berumur panjang dapat mendorong terbentuknya konsensus baru di industri.
Untuk bisnis battery swap, perusahaan mengatakan margin kotor bisnis energi sudah mencapai 20% sejak kuartal pertama. Meski fasilitas battery swap gratis untuk pengguna awal masih menimbulkan kerugian tahunan sekitar 1 miliar yuan, perusahaan menyebut beban itu terus menyusut.
Soal ekspansi luar negeri, manajemen menegaskan pasar China tetap menjadi fokus selama periode 2025-2028. Mereka menilai pasar luar negeri juga sangat kompetitif dan bukan lahan kosong yang mudah dimasuki.
