
Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) sekaligus anggota DPR RI, Bambang Soesatyo, mengungkapkan pengalaman pribadinya terkait penurunan harga jual kembali mobil listrik Tesla Model X miliknya yang terbilang drastis. Dalam peresmian dealer mobil bekas di Gading Serpong, Tangerang, pada Rabu (27/8/2025), Bambang Soesatyo menyampaikan bahwa kendaraan listriknya kini hanya mampu dijual dengan harga Rp 1,2 miliar, jauh di bawah harga beli awalnya sebesar Rp 3,5 miliar.
Penurunan Harga Mobil Listrik Bekas yang Signifikan
Harga jual kembali Tesla Model X milik Bambang Soesatyo anjlok lebih dari 60 persen. Kondisi ini mencerminkan tren penurunan nilai pasar mobil listrik bekas di Indonesia yang belun stabil. Bambang mengakui bahwa pasar mobil listrik bekas masih sangat muda dan belum secara optimal berkembang di tanah air. Hal ini menyebabkan potensi buyer yang bersedia merogoh kocek cukup besar untuk kendaraan listrik bekas tetap minim.
“Bagi yang membeli mobil listrik, harus siap menghadapi risiko penurunan nilai jual kembali yang cukup signifikan seperti pengalaman saya,” ucap Bambang dengan sedikit candaan. Pernyataan ini bukan tanpa alasan, mengingat mobil listrik masih dianggap sebagai teknologi baru dan belum sepenuhnya diterima secara luas oleh masyarakat.
Faktor Pasar dan Kesadaran Konsumen
Rudy Salim, CEO Prestige Motorcars yang juga turut hadir di acara tersebut, juga mengakui kondisi penurunan harga jual kembali kendaraan listrik, khususnya Tesla Model X. Menurut Rudy, penurunan harga ini wajar mengingat masih minimnya permintaan pasar terhadap mobil listrik bekas.
“Ini adalah konsekuensi dari pasar mobil listrik yang masih dalam tahap pembentukan. Pembeli harus memahami bahwa dengan menjadi pionir di teknologi kendaraan listrik, risiko harga jual kembali akan jauh berbeda dibanding kendaraan konvensional,” jelas Rudy.
Ia menambahkan bahwa Tesla Model X milik Bambang Soesatyo merupakan unit pertama yang masuk ke Indonesia dan bahkan menjadi mobil pertama yang dinaiki oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengenal teknologi Tesla. Momen tersebut menunjukkan bagaimana mobil listrik masih dianggap sebagai barang istimewa dan belum masif digunakan oleh masyarakat.
Dampak Harga Jual Kembali Bagi Pengembangan Mobil Listrik
Penurunan harga jual kembali mobil listrik bekas menjadi permasalahan yang harus diantisipasi agar pasar mobil listrik bisa berkembang secara berkelanjutan di Indonesia. Banyak konsumen masih ragu untuk beralih total pada kendaraan ramah lingkungan ini jika risiko kerugian finansial cukup besar saat hendak menjual kembali mobilnya.
Beberapa poin penting yang menjadi perhatian antara lain:
- Belum terbentuknya jaringan pasar mobil listrik bekas yang tersebar luas.
- Keterbatasan infrastruktur, seperti ketersediaan stasiun pengisian listrik (charging station).
- Kebijakan dan regulasi pemerintah yang mendukung penggunaan mobil listrik masih berkembang.
- Persepsi konsumen yang masih membutuhkan edukasi agar yakin bahwa kendaraan listrik adalah investasi jangka panjang yang menguntungkan.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan sinergi antara pemerintah, pelaku industri otomotif, dan komunitas pengguna kendaraan listrik agar ekosistem mobil listrik semakin matang dan nilai jual kembali bisa terjaga.
Tren Mobil Listrik di Indonesia dan Tantangan Kedepan
Indonesia tengah gencar mengembangkan kendaraan listrik sebagai bagian dari strategi transisi energi dan pengurangan emisi karbon. Berbagai produsen kendaraan besar mulai memasuki pasar lokal dengan model-model kendaraan listrik dengan harga yang semakin kompetitif.
Namun, anjloknya harga mobil listrik bekas yang dialami tokoh publik seperti Bambang Soesatyo memperlihatkan bahwa masih ada tantangan besar di sektor ini, terutama dalam hal kepercayaan pasar dan kestabilan nilai kendaraan.
Ke depan, tambahan insentif fiskal, perluasan infrastruktur pengisian daya, serta peningkatan promosi kepada masyarakat diharapkan dapat mengakselerasi adopsi mobil listrik. Hal ini selaras dengan upaya Pemerintah Indonesia untuk mencapai target elektrifikasi kendaraan pribadi hingga 20 persen pada tahun 2030.
Meski menghadapi kendala, pengalaman Bambang Soesatyo menjadi cermin nyata bahwa perkembangan mobil listrik di Indonesia masih memerlukan waktu dan kerja keras bersama untuk mencapai pasar yang sehat dan berkelanjutan. Masyarakat akan semakin percaya diri berinvestasi pada kendaraan listrik apabila harga bekas dapat bertahan dan jaringan penjualan dapat difasilitasi dengan baik.





