Is Ripple (XRP) quantum-safe menjadi pertanyaan yang makin sering dicari setelah kekhawatiran soal komputasi kuantum kembali menguat di pasar kripto. Sebuah audit penuh dari salah satu validator utama XRPL menunjukkan bahwa risiko XRP dari ancaman ini jauh lebih kecil daripada Bitcoin, tetapi ancamannya belum sepenuhnya hilang.
Audit itu menemukan hanya 0,03% dari total pasokan XRP yang terekspos secara langsung melalui akun dorman dengan kunci publik yang sudah terbuka. Temuan ini kontras dengan Bitcoin, yang menurut data dalam referensi dapat memiliki hingga 35% pasokan pada alamat lama dengan kunci yang terekspos secara permanen.
Apa yang sebenarnya ditemukan auditor XRPL
Validator XRPL bernama Vet melakukan pemeriksaan penuh pada XRP Ledger dan menelusuri akun-akun yang belum pernah bertransaksi. Hasilnya, sekitar 300.000 akun disebut belum pernah mengirim satu transaksi pun, sehingga kunci publiknya belum pernah terekspos di jaringan.
Dari audit itu juga ditemukan hanya dua akun besar yang dorman dengan kunci terbuka. Total XRP di dua akun tersebut setara kira-kira 0,03% dari pasokan, angka yang kemudian menjadi sorotan karena jauh lebih kecil dari eksposur aset kripto lain.
Namun, angka itu perlu dibaca dengan hati-hati. Persentase tersebut hanya menghitung akun dorman, sedangkan akun aktif yang pernah mengirim XRP juga memiliki kunci publik yang sudah terbuka dan secara teknis tetap rentan terhadap serangan kuantum di masa depan.
Mengapa kunci publik menjadi titik lemah
Dalam blockchain, setiap transaksi dapat membuka kunci publik ke jaringan. Jika suatu saat komputer kuantum cukup kuat untuk menjalankan algoritma tertentu, perangkat itu berpotensi menelusuri kunci publik dan menebak kunci privat yang terkait.
Jika kunci privat bocor, dompet bisa dikendalikan pihak luar. Risiko ini belum aktif hari ini, tetapi banyak pihak di industri menilai waktunya semakin mendekat karena riset kuantum berkembang lebih cepat dari yang dulu diperkirakan.
Perbandingan XRP dengan Bitcoin
Perbedaan paling penting ada pada fleksibilitas jaringan. Di XRP Ledger, pengguna aktif dapat mengganti signing key tanpa harus mengubah alamat dompet, sehingga ada jalur mitigasi sebelum ancaman benar-benar matang.
Bitcoin tidak memiliki kemudahan serupa. Pemegang BTC yang ingin menghindari risiko harus memindahkan dana ke alamat baru, dan proses itu sendiri kembali membuka permukaan serangan pada saat perpindahan dilakukan.
Berikut ringkasan sederhananya:
| Aspek | XRP / XRPL | Bitcoin |
|---|---|---|
| Porsi yang terdampak langsung menurut audit | 0,03% dari total pasokan | Hingga 35% pasokan di alamat lama |
| Akun aktif | Kunci publik sudah terekspos, tetapi dapat rotasi key | Kunci lama tetap bermasalah jika alamat lawas |
| Opsi mitigasi | Rotasi kunci tanpa ubah alamat | Harus pindah ke alamat baru |
| Status perlindungan kuantum di mainnet | Belum sepenuhnya post-quantum | Belum sepenuhnya post-quantum |
Langkah XRPL menuju keamanan pasca-kuantum
XRPL juga sudah menguji enkripsi tahan-kuantum di testnet pengembangnya, AlphaNet. Pada Desember 2025, jaringan uji itu beralih ke CRYSTALS-Dilithium, algoritma yang disetujui National Institute of Standards and Technology atau NIST sebagai standar post-quantum.
Pengujian itu mencakup akun, transaksi, dan proses konsensus validator. Artinya, XRPL tidak hanya menguji lapisan dompet, tetapi juga cara jaringan beroperasi secara keseluruhan.
Masalahnya, seluruh peningkatan itu belum aktif di mainnet. Jaringan utama XRP masih memakai skema enkripsi yang umum dipakai blockchain saat ini, sehingga perlindungan penuh dari ancaman kuantum belum benar-benar diterapkan.
Mengapa pasar perlu melihat isu ini dengan proporsional
Ripple sendiri tidak menempatkan ancaman ini sebagai risiko langsung. Kepala riset Ripple, Aanchal Malhotra, menyebut, “No wallets are getting cracked tomorrow. But the trendline is compressing faster than most of the industry is prepared for.”
Pernyataan itu sejalan dengan pandangan bahwa ancaman kuantum belum bersifat mendesak, tetapi perlu diantisipasi lebih dini. Ripple CTO David Schwartz sebelumnya juga menyebut pendekatan algoritma tahan-kuantum akan diadopsi saat risiko diperkirakan berada dalam jarak sekitar lima tahun dari momen material.
Google sendiri menetapkan target 2029 untuk migrasi ke enkripsi tahan-kuantum di sistem keamanannya, dan Grayscale dalam laporan terbarunya menyebut XRPL sebagai salah satu jaringan kripto yang sudah menguji standar tersebut. Dalam konteks ini, XRP tampak lebih siap dibanding banyak jaringan lain, meski status “quantum-safe” sepenuhnya masih bergantung pada implementasi di mainnet.
