515.345 Laporan Penipuan Digital, VIDA Dorong Edukasi Lewat Video

Author: Qoo Media

Lonjakan transaksi digital ikut diikuti kenaikan ancaman penipuan yang semakin sulit dikenali. Data Otoritas Jasa Keuangan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat ada 515.345 laporan kasus penipuan digital sejak 22 November 2024 hingga 31 Maret 2026.

Angka itu menunjukkan risiko kejahatan siber terus membesar di tengah kebiasaan masyarakat yang semakin terhubung dengan layanan digital. Di saat yang sama, pelaku juga memanfaatkan momen lengah pengguna untuk menyamarkan modus yang terlihat biasa, mendesak, atau bahkan menguntungkan.

Modus makin variatif dan menyasar kebiasaan harian

Founder & Group CEO VIDA, Niki Luhur, menilai penipuan digital tidak hanya muncul pada situasi tertentu, tetapi bisa hadir dalam berbagai aktivitas sehari-hari. Pelaku kerap memakai pesan berisi tautan, file berbahaya yang disamarkan sebagai informasi pengiriman, hingga skema lain yang menargetkan kebiasaan pengguna.

Menurut Niki, jebakan semacam ini sering berhasil karena memanfaatkan celah kecil dalam perilaku digital. Ia menyebut banyak orang sebenarnya sudah tahu penipuan digital itu nyata, tetapi kewaspadaan bisa turun dalam hitungan detik ketika pesan terlihat relevan atau menjanjikan keuntungan.

OTP masih jadi titik rawan

Salah satu temuan yang terus muncul adalah pencurian kode OTP. Metode ini menunjukkan bahwa sisi perilaku pengguna masih menjadi titik krusial dalam rantai keamanan digital, meski teknologi perlindungan terus berkembang.

Kondisi itu membuat ancaman tidak hanya bergantung pada kecanggihan pelaku, tetapi juga pada respons pengguna saat menerima permintaan yang tampak meyakinkan. Ketika seseorang sedang terburu-buru atau lengah, peluang untuk tertipu biasanya meningkat.

Teknologi baru ikut memperluas ancaman

Perkembangan teknologi juga ikut membuka ruang baru bagi penipu digital. Penggunaan deepfake mulai dimanfaatkan untuk meningkatkan keberhasilan penipuan dan membuat tampilan atau pesan palsu terlihat lebih meyakinkan.

Di tengah situasi tersebut, kesadaran dasar masyarakat terhadap risiko penipuan digital memang sudah terbentuk. Namun, kesadaran itu belum selalu cukup ketika pengguna berhadapan dengan konten yang terasa personal, mendesak, atau seolah memberi manfaat langsung.

VIDA dorong edukasi lewat video

Untuk menjawab tantangan itu, VIDA menghadirkan video edukasi bertajuk “The World of VIDA”. Konten ini dibuat untuk menggambarkan bagaimana perlindungan identitas digital bekerja dalam berbagai aktivitas sehari-hari.

Pendekatan tersebut tidak hanya ditujukan untuk memberi informasi, tetapi juga membentuk kebiasaan baru dalam beraktivitas digital. VIDA menekankan pentingnya berhenti sejenak, memeriksa ulang, dan tidak langsung percaya saat menerima pesan atau permintaan yang mencurigakan.

Niki menegaskan, kebiasaan sederhana seperti verifikasi ulang bisa menjadi langkah penting di tengah makin canggihnya modus penipuan. Edukasi semacam ini dinilai relevan karena ancaman digital kini hadir bukan hanya dalam bentuk serangan teknis, tetapi juga lewat manipulasi perilaku dan kepercayaan pengguna.

Source: teknologi.bisnis.com
Terbaru