AI Diduga Mendorong Kembalinya Nostalgia 80-an, Banyak Orang Mulai Lelah Dengan Dunia Digital

Ledakan generative AI ikut mendorong sebagian orang melirik kembali era 1980-an. Di tengah internet yang makin ramai oleh konten sintetis, banyak pengguna justru mencari teknologi yang lebih sederhana, lebih nyata, dan tidak selalu terhubung ke jaringan.

Perubahan ini bukan sekadar nostalgia biasa terhadap format lama. Ada rasa lelah yang tumbuh dari kebiasaan hidup serba online, dari layar yang tak pernah padam hingga aliran konten AI yang terus mendorong perhatian pengguna.

Mengapa nostalgia analog kembali kuat

Bagi banyak orang, internet dan perangkat modern kini terasa agresif dalam memonetisasi perhatian. Perangkat utama diminta selalu tersambung, lalu terus mengirim notifikasi, dorongan interaksi, dan gangguan yang tak putus.

Di saat yang sama, generative AI dipakai untuk memproduksi konten demi engagement. Hasilnya bisa berupa karya seni palsu atau informasi yang sengaja dibengkokkan untuk memancing reaksi, sehingga batas antara yang nyata dan yang palsu menjadi makin kabur.

Kondisi ini ikut memicu dorongan untuk kembali ke teknologi yang dianggap lebih tenang. Influencer bahkan menyebut tren itu sebagai “analog lifestyle”, yakni gaya hidup yang memilih perangkat lama dengan fungsi lebih sederhana dan jejak digital yang lebih kecil.

1980-an jadi simbol pelarian dari kompleksitas

Ketertarikan pada era 80-an muncul karena periode itu dipandang mewakili masa sebelum teknologi terasa serumit sekarang. Dalam konteks ini, nostalgia bukan hanya soal estetika, tetapi juga soal keinginan untuk hidup dengan lebih sedikit gangguan.

Vinyl menjadi salah satu contoh paling jelas dari pergeseran ini. Album vinyl mengalami kebangkitan penggunaan yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya, karena banyak pengguna mencari media fisik tanpa iklan dan tanpa koneksi internet.

Peminat musik digital pun tidak sepenuhnya meninggalkan barang lama. Model asli iPod kembali dicari, dan pencarian untuk perangkat itu meningkat di platform seperti eBay.

AI mempercepat rasa tidak percaya pada teknologi

Kekhawatiran terhadap AI bukan hanya soal konten palsu. Seiring kemampuannya berkembang, semakin sulit bagi orang untuk membedakan mana yang nyata, mana yang dibuat mesin, dan bahkan siapa yang benar-benar manusia.

Pada tahap awal, AI sempat dikenali lewat hasil yang kikuk seperti tangan berkuku enam. Namun masalahnya kini justru semakin serius karena sistem itu menjadi lebih baik dalam menipu persepsi pengguna.

Situasi tersebut membuat sebagian orang memandang teknologi modern sebagai sesuatu yang tidak lagi netral. Bagi mereka, perangkat dan platform digital tidak hanya membantu aktivitas harian, tetapi juga aktif mendorong ketergantungan dan kebisingan.

Pandemi ikut meninggalkan jejak psikologis

Rasa lelah terhadap dunia digital juga diperkuat oleh pengalaman masa pandemi COVID-19. Saat interaksi daring menjadi satu-satunya bentuk kontak bagi banyak orang, kebiasaan itu meninggalkan jejak traumatis yang masih terasa hingga sekarang.

Karena itu, dorongan untuk “disconnect” tidak lagi dipandang sebagai gaya hidup sementara. Sebagian pengguna mulai melihatnya sebagai upaya untuk kembali punya ruang yang lebih tenang, lebih manusiawi, dan lebih mudah dipahami.

Pola seperti ini memang kerap muncul setiap kali teknologi memasuki fase perubahan besar. Namun, dengan AI yang makin hadir di hampir semua sektor teknologi, dorongan untuk menjauh dari jaringan bisa menjadi lebih kuat dari sekadar tren nostalgia sesaat.

Berita Terkait

Back to top button