Ratusan kasus unidentified anomalous phenomena atau UAP yang baru dirilis pemerintah Amerika Serikat kembali memicu bayangan lama tentang kemungkinan makhluk luar angkasa mengunjungi Bumi. Survei di Australia, Amerika Serikat, dan negara lain juga menunjukkan sekitar sepertiga masyarakat percaya alien memang ada di sini.
Namun, sampai saat ini belum ada bukti yang terlihat gamblang tentang kehadiran mereka di Bumi. Laporan ilmiah dari The University of New South Wales menyoroti tiga penjelasan yang lebih masuk akal mengapa alien belum juga datang, setidaknya sejauh yang bisa dijelaskan oleh fisika dan biologi saat ini.
Angkasa terlalu luas untuk ditembus dengan cepat
Jarak antarbintang menjadi penghalang pertama yang sangat besar. Proxima Centauri, bintang terdekat dari Matahari, berada sekitar 40 triliun kilometer atau 4,3 tahun cahaya jauhnya.
Sebagai perbandingan, cahaya menempuh jarak 300.000 kilometer per detik, sedangkan wahana tercepat seperti Parker Solar Probe hanya mencapai sekitar 191 kilometer per detik. Pada kecepatan itu, perjalanan ke Proxima Centauri tetap memakan waktu sekitar 6.650 tahun.
Masalahnya tidak berhenti di jarak. Jika sebuah pesawat ruang angkasa melaju sangat mendekati kecepatan cahaya, waktu bagi para penumpangnya akan berjalan lebih lambat dibandingkan waktu di Bumi, sesuai konsep dilatasi waktu yang dijelaskan Albert Einstein.
Artinya, perjalanan pulang pergi dari sistem bintang yang jauh bisa membuat sebuah peradaban kembali ke planet yang jauh lebih tua. Selisih waktunya bahkan bisa mencapai satu abad atau lebih.
Energi yang dibutuhkan nyaris tak masuk akal
Alasan kedua berkaitan dengan kebutuhan energi yang sangat besar. Massa pesawat ruang angkasa meningkat seiring kecepatannya, sehingga percepatan menuju kecepatan sangat tinggi memerlukan energi yang makin besar.
Pada kecepatan cahaya, massa pesawat menjadi tak terhingga dan energinya juga menjadi tak terhingga. Kondisi itu jelas tidak mungkin dipenuhi oleh teknologi yang dikenal saat ini.
Masalah lain muncul dari lingkungan antariksa itu sendiri. Ruang angkasa memang hampa, tetapi tetap memiliki partikel yang bisa berubah menjadi ancaman berbahaya saat benda melaju sangat cepat.
Atom hidrogen yang jarang tersebar dapat berubah menjadi radiasi intens pada kecepatan mendekati cahaya. Panas yang muncul juga bisa mengikis lambung pesawat dan pada akhirnya menghancurkannya.
Fisikawan Miguel Alcubierre pernah mengemukakan bahwa perjalanan lebih cepat dari cahaya secara teori mungkin saja terjadi. Tetapi gagasan itu tetap membawa problem tersendiri dan membutuhkan energi yang saat ini belum bisa dipenuhi.
Bumi punya biosfer yang sangat unik
Penghalang ketiga justru datang dari planet kita sendiri. Biosfer Bumi terbentuk lewat evolusi bersama antara kehidupan dan planet ini, sehingga kondisi di sini sangat khas dibanding tempat lain yang dikenal manusia.
Kehidupan kompleks di Bumi tidak akan ada tanpa sianobakteri, mikroba bersel tunggal yang memompa oksigen ke atmosfer sekitar 2,4 miliar tahun lalu. Karena proses itu, oksigen menjadi aman bagi manusia, meski pada dasarnya tetap reaktif dan bisa korosif bagi makhluk luar angkasa.
Makhluk dari luar Bumi memang bisa saja memakai perlindungan seperti manusia saat masuk ke lingkungan berbahaya. Tetapi kisah-kisah tentang kunjungan alien tidak pernah memuat deskripsi jelas soal pakaian luar angkasa seperti itu.
Pada saat yang sama, alam semesta tetap menyimpan peluang hidup yang besar. Sekitar 6.200 eksoplanet telah ditemukan di lebih dari 4.700 sistem bintang, dan sebagian besar bintang diperkirakan memiliki setidaknya satu planet.
Meski begitu, belum ada planet yang benar-benar mirip Bumi atau Tata Surya. Jumlah bintang di galaksi kita sendiri lebih dari 100 miliar, sehingga planet layak huni mungkin memang ada, tetapi jaraknya bisa terlalu jauh, energinya terlalu mahal, dan lingkungannya terlalu asing untuk kunjungan yang mudah.
Source: www.idntimes.com






