Jembatan Akar Hidup Meghalaya, 5 Fakta yang Bikin Takjub Tentang Kekuatan Alamnya

Jingkieng Jri di Meghalaya, India, bukan jembatan biasa yang disusun dari semen, baja, atau kayu tebal. Struktur ini tumbuh dari akar pohon hidup dan menjadi salah satu contoh paling menarik dari arsitektur hijau yang masih digunakan hingga sekarang.

Keunikan itu membuat jembatan akar hidup ini menonjol di tengah wilayah hutan tropis yang basah dan terjal. Bagi masyarakat adat Khasi, Jingkieng Jri adalah hasil rekayasa hayati yang diwariskan turun-temurun untuk menjawab tantangan medan dan aliran sungai deras.

Memilih pohon yang tepat

Rahasia utama Jingkieng Jri ada pada pemilihan pohon beringin karet atau Ficus elastica. Pohon ini tumbuh subur di sepanjang tepi sungai di Meghalaya dan memiliki kemampuan menghasilkan banyak akar udara dari batang atasnya.

Akar udara itu lentur, kenyal, dan mudah dibentuk saat masih muda. Masyarakat Khasi memanfaatkannya dengan menarik, menjalin, lalu mengarahkan akar melewati sungai menggunakan bambu atau batang pinang yang dilubangi sebagai pemandu tumbuh.

Butuh waktu lama untuk siap dipakai

Jembatan ini tidak dibangun dalam hitungan bulan seperti jembatan konvensional. Proses mengarahkan akar dari satu sisi tebing ke sisi lain rata-rata memakan waktu 10 hingga 15 tahun.

Selama masa itu, akar kecil terus memanjang sampai menembus tanah di seberang sungai. Setelah mencengkeram tanah dengan kuat, struktur itu perlahan mengeras dan baru dinilai cukup stabil untuk dilewati manusia.

Semakin tua justru semakin kuat

Berbeda dengan jembatan beton atau besi yang bisa menurun kekuatannya seiring waktu, Jingkieng Jri justru menguat saat usianya bertambah. Akar yang saling dijalin mengalami fusi alami atau inosculation, yaitu penyatuan bagian akar yang saling bergesekan.

Proses itu membuat diameter akar terus menebal dan sistem ikatannya makin masif. Jembatan akar yang sudah matang bahkan terbukti mampu menahan beban hingga 50 orang dewasa sekaligus.

Tahan di wilayah paling basah

Meghalaya memiliki wilayah Cherrapunji dan Mawsynram yang dikenal sebagai tempat paling basah di Bumi dengan curah hujan tahunan ekstrem. Dalam kondisi seperti itu, kayu biasa mudah busuk dan besi cepat berkarat.

Jingkieng Jri mengatasi masalah itu karena strukturnya tetap hidup secara biologis. Sirkulasi air dan nutrisi di dalam xilem dan floem tetap berjalan, sehingga jembatan punya daya tahan alami terhadap pembusukan saat hujan terus-menerus mengguyur.

Bisa bertahan ratusan tahun

Sifat hidup dan adaptif membuat jembatan ini punya kemampuan self-healing atau memperbarui sel yang rusak secara mandiri. Karena itu, umur fungsionalnya bisa berlangsung sangat lama jika dirawat oleh komunitas adat.

Melansir laman resmi Meghalaya, beberapa jembatan akar hidup yang terkenal, termasuk Double Decker Root Bridge di Umshiang, diperkirakan sudah berusia lebih dari 180 tahun dan masih berfungsi baik. Fakta itu menunjukkan bahwa bio-arsitektur bisa menjadi solusi jangka panjang yang selaras dengan kelestarian hutan sekitar.

Source: www.idntimes.com
Terkait