Pasar Asia dibuka dengan ketidakpastian yang meningkat, di mana harga Bitcoin turun ke kisaran $75.000. Tren negatif ini diikuti oleh pelemahan pasar saham Asia dan volatilitas tinggi pada logam mulia, yang memicu kekhawatiran investor menjelang pekan penuh dengan pengumuman laba perusahaan dan pertemuan bank sentral.
Bitcoin sempat menyentuh di bawah $76.000 selama akhir pekan yang sepi dan kembali ke level yang terakhir terlihat saat dampak tarif "Liberation Day" Donald Trump tahun lalu. Pada pembukaan pasar di Asia, Bitcoin diperdagangkan sekitar $75.549, turun sekitar 4%. Ether juga terdampak dengan penurunan signifikan sebesar 9,3% ke level $2.210, sementara XRP turun 6% menjadi $1,56. Secara keseluruhan, kapitalisasi pasar crypto menurun 4,3% menjadi $2,62 triliun.
Pergerakan Pasar Saham Asia
Indeks saham Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 0,7%, dengan pasar Saham Korea Selatan turun 1%. Sebaliknya, Jepang menjadi pengecualian dengan indeks Nikkei 225 naik 0,7%. Kenaikan ini didorong oleh hasil survei opini yang menunjukkan dukungan kuat terhadap partai Liberal Demokrat pimpinan Perdana Menteri Sanae Takaichi. Investor optimistis terkait kemungkinan stimulus besar dan pelemahan nilai yen yang dapat mendorong ekspor.
Volatilitas di Pasar Komoditas
Logam mulia mengalami tekanan yang sangat berat. Harga perak terus anjlok hingga 5% pada satu titik setelah penurunan sekitar 30% pada hari Jumat lalu. Kerugian tersebut menjadi yang terburuk dalam sejarah perdagangan perak, menyebabkan likuidasi besar pada posisi leverage. Emas juga masih berada dalam tren penurunan setelah mengalami penurunan harian paling tajam sejak tahun 1983.
Sementara itu, harga minyak turun hampir 3% setelah pernyataan Donald Trump bahwa Iran sedang melakukan pembicaraan serius dengan Washington. Pernyataan ini membuat para pedagang menilai bahwa risiko serangan militer AS terhadap Iran menurun, meskipun kondisi geopolitik tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi harga energi.
Pengaruh Pergerakan Mata Uang dan Kebijakan Moneter
Dolar AS tetap kuat setelah pengumuman nominasi Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve berikutnya. Pasar menilai Warsh cenderung lebih berhati-hati terhadap pemotongan suku bunga secara cepat dan lebih fokus pada kebijakan penyeimbangan neraca bank sentral. Hal ini menambah tekanan pada pasar modal global.
Futures indeks saham di Eropa dan AS juga cenderung melemah. S&P 500 turun 0,2%, sedangkan Nasdaq turun 0,4%, di tengah antisipasi hasil laporan keuangan perusahaan teknologi besar seperti Alphabet, Amazon, dan AMD. Sentimen pasar terhadap pengeluaran di bidang kecerdasan buatan (AI) juga mulai mendapat perhatian, terutama setelah Microsoft menghadapi respons pasar yang kurang positif.
Jadwal Kebijakan dan Data Penting Minggu Ini
Pekan ini menjadi sangat krusial karena sejumlah bank sentral utama akan menggelar pertemuan kebijakan, termasuk Reserve Bank of Australia, European Central Bank, dan Bank of England. Pasar memperkirakan peluang sekitar 75% bahwa Reserve Bank of Australia akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 3,85% untuk mengendalikan inflasi yang kembali meningkat.
Investor menghadapi minggu yang penuh tantangan dengan perluasan volatilitas di berbagai aset, mulai dari Bitcoin, saham, dan komoditas. Berbagai perkembangan makroekonomi dan kebijakan akan menjadi fokus utama yang mempengaruhi dinamika pasar dalam beberapa hari ke depan.







