Maling Rekening Makin Ganas, Rp 13 Triliun Raib Sekejap, Ancaman Ransomware Mengguncang Keamanan Digital 2026

Author: Qoo Media

Maling online yang menguras rekening bank semakin marak di 2025. Serangan ransomware, yakni pencurian data sekaligus penguncian untuk meminta tebusan, dikabarkan mengalami lonjakan hingga 50%.

Aktivitas ransomware tahun ini mencapai puncaknya, namun ada kecenderungan korban mulai enggan membayar tebusan. Total pembayaran pada pelaku mencapai lebih dari US$820 juta atau sekitar Rp13,9 triliun melalui transaksi on-chain.

Meski jumlah pembayaran sedikit menurun 8% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai US$892 juta (Rp15 triliun), estimasi Chainalysis menunjukkan jumlah sebenarnya bisa lebih besar. Ada kemungkinan pembayaran tebusan mencapai US$900 juta atau setara Rp15,2 triliun, karena tidak semua kejadian tercatat secara resmi.

Fenomena Penurunan Pembayaran Tebusan

Persentase uang tebusan yang berhasil didapatkan oleh pelaku justru tercatat anjlok ke titik terendah tahun ini, yakni hanya 28%. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun serangan makin banyak, efektivitas tindakan kriminal tersebut mulai berkurang.

Menurut eCrime.ch, serangan ransomware lebih banyak menyasar usaha kecil dan menengah. Alasannya, korban jenis usaha ini cenderung membayar tebusan lebih cepat agar usahanya tetap berjalan. Namun, data Chainalysis mengungkapkan pembayaran tebusan secara keseluruhan malah menurun.

Pendiri eCrime.ch, Corsin Camichel, menegaskan bahwa meski klaim publik tentang serangan meningkat, pelaku malware justru mendapatkan hasil lebih kecil. "Penyerang harus bekerja lebih keras, namun pendapatan mereka semakin menurun," ujarnya.

Peran Regulasi dan Teknologi dalam Menekan Ancaman

Penurunan pembayaran ini juga terkait dengan respons yang lebih baik dari berbagai pihak serta peningkatan pengawasan regulasi di tingkat internasional. Upaya pembatasan aliran dana kepada operator ransomware dan jaringan pencucian uang mulai berhasil mengurangi frekuensi pembayaran tebusan.

Kemunculan varian ransomware baru seperti Volklocker menghadirkan kelemahan kriptografi yang dapat dimanfaatkan untuk mendekripsi data secara gratis pada beberapa kasus. Hal ini turut mengganggu efisiensi serangan dan mengurangi nilai tebusan yang diterima pelaku.

Tren Perkembangan Kejahatan Siber ke Arah Desentralisasi

Laporan terbaru mencatat perubahan pola kejahatan siber yang semakin terdesentralisasi dan mudah berubah. Kondisi ini menyulitkan upaya pelacakan dan penanggulangan jangka panjang. Oleh karena itu, atribusi dan respon terhadap insiden siber perlu lebih diperkuat untuk menjaga keamanan digital.

Daftar Fakta Penting tentang Ransomware 2025:

  1. Lonjakan serangan ransomware mencapai 50%.
  2. Total pembayaran tebusan sekitar US$820 juta hingga US$900 juta.
  3. Persentase pembayaran turun menjadi 28%.
  4. Usaha kecil dan menengah jadi target utama.
  5. Regulasi dan pengawasan memperkuat pencegahan.
  6. Varian ransomware baru memudahkan dekripsi gratis.
  7. Kejahatan siber semakin terdesentralisasi dan dinamis.

Meningkatnya kasus maling online yang menguras rekening bank menjadi peringatan serius. Diperlukan kerja sama antara regulator, pelaku usaha, hingga masyarakat luas untuk memperkuat pengawasan dan meningkatkan kesadaran keamanan digital. Dengan pendekatan yang tepat, kerugian besar dalam skala triliunan rupiah bisa diminimalisasi di masa depan.

Baca selengkapnya mengenai topik ini di: www.cnbcindonesia.com
Terbaru