Bitcoin mining menghadapi tekanan besar akibat krisis di Selat Hormuz yang menyebabkan lonjakan harga energi global. Harga minyak Brent melewati angka $113 per barel setelah ultimatum yang diberlakukan terhadap Iran. Hal ini langsung mendorong biaya listrik naik, yang menjadi komponen terbesar dalam biaya operasional penambangan Bitcoin.
Rata-rata biaya produksi Bitcoin saat ini berada di sekitar $88.000 per keping, jauh melampaui harga pasar yang berkisar di angka $69.200. Kondisi ini membuat margin keuntungan penambang semakin menipis bahkan sebelum adanya lonjakan biaya energi yang lebih besar.
Dampak Lonjakan Harga Energi pada Operasional Penambangan
Listrik menyumbang 60-80% dari total biaya operasional penambang. Ketika harga minyak merangkak naik, tarif listrik industri secara otomatis mengikuti kenaikan tersebut. Di pusat-pusat penambangan seperti Texas yang mengandalkan gas alam, harga listrik terikat pada harga minyak yang bergejolak.
Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak Brent akan rata-rata berada di angka $110, dengan potensi melonjak hingga $147 bila jalur pelayaran di Selat Hormuz terus terhambat. Setiap kenaikan satu dolar pada harga minyak turut mendorong tarif listrik per kilowatt-jam naik, memperberat beban biaya para penambang.
Perpecahan Dalam Sektor Penambangan
Penambang yang bergantung pada jaringan listrik komersial di pasar yang tidak diatur seperti Amerika Serikat menghadapi tekanan langsung. Mereka terpaksa melakukan pengurangan operasi atau bahkan menghentikan aktivitas saat jam puncak demi menghindari kerugian besar.
Sebaliknya, penambang yang menggunakan sumber energi terisolasi, seperti hidroelektrik di Islandia, Quebec, atau wilayah Skandinavia, memiliki keunggulan struktural. Mereka terhindar dari fluktuasi harga energi global dan dapat mempertahankan biaya operasional tetap rendah.
Analisis menunjukkan bahwa jika harga minyak bertahan di atas $120 per barel, sekitar 10-15% dari kapasitas hash Bitcoin global akan terhenti, terutama dari operasi yang tergantung pada bahan bakar fosil. Dampaknya adalah migrasi daya hashing ke operasi yang lebih efisien secara energi.
Keunggulan Baru: Keamanan Energi dan Vertikal Integrasi
Dalam konteks ini, efisiensi perangkat keras saja sudah tidak cukup sebagai keunggulan kompetitif. Keamanan dan kestabilan pasokan energi menjadi faktor utama baru yang menentukan kelangsungan usaha penambangan.
Penambang yang memiliki akses langsung ke sumber energi, seperti gas yang dihasilkan dari flaring atau instalasi hidroelektrik terpencil, kini lebih dipandang menguntungkan. Contohnya adalah operasi di Bhutan, El Salvador, atau fasilitas yang secara vertikal terintegrasi.
Risiko Likuiditas dan Tekanan Pasar Bitcoin
Biaya energi yang melonjak menyebabkan beberapa penambang mengalami masalah solvabilitas, bukan hanya margin keuntungan. Mereka terpaksa menjual cadangan Bitcoin dalam jumlah besar untuk membayar tagihan listrik. Tekanan jual ini memperburuk volatilitas pasar pada saat yang sangat tidak menguntungkan.
Data dari Santiment menunjukkan saldo Bitcoin milik penambang secara konsisten menurun selama periode lonjakan harga energi. Meskipun ada aliran masuk dari investor institusional lewat ETF, tekanan jual dari penambang belum sepenuhnya terserap pasar.
Dampak Pada Jaringan dan Harga Bitcoin
Krisis ini memicu pergeseran struktural dalam jaringan Bitcoin. Penurunan jumlah penambang yang tidak efisien akan menurunkan tingkat kesulitan jaringan (network difficulty). Hal ini memperbaiki margin keuntungan bagi penambang yang masih bertahan.
On-chain data menunjukkan bahwa penyesuaian tingkat kesulitan jaringan sedang mendekat, yang dapat memberi sedikit kelegaan sementara pada penambang. Namun, dampak positif ini belum terlihat jelas di pasar saat ini. Harga Bitcoin masih terkoreksi dan sulit menembus level sekitar $70.000 karena tekanan dari biaya energi dan volatilitas geopolitik.
Krisis energi yang dipicu oleh konflik di Selat Hormuz menguji narasi Bitcoin sebagai “emas digital”. Tekanan akibat faktor fisik seperti biaya energi menunjukkan bahwa bukan hanya teknologi dan inovasi, tetapi juga faktor geopolitik dan ekonomi energi yang kini menjadi kunci dalam menentukan masa depan penambangan Bitcoin.
