Keputusan Elon Musk menunda perubahan skema monetisasi di X langsung meredakan kekhawatiran banyak kreator digital. Langkah ini datang setelah rencana pembobotan impresi dari wilayah lokal memicu protes karena dinilai bisa menekan pendapatan kreator yang punya audiens lintas negara.
Bagi kreator, isu ini bukan sekadar soal teknis pembagian pendapatan, tetapi menyangkut keberlanjutan sumber penghasilan. Selama ini, banyak akun tumbuh dari audiens global dan memakai bahasa Inggris untuk menjangkau pasar yang lebih luas, sehingga perubahan berbasis wilayah dianggap berisiko mengubah pola monetisasi secara drastis.
Rencana awal yang memicu penolakan
Kepala Produk X, Nikita Bier, sempat mengumumkan penyesuaian program insentif creator revenue sharing yang direncanakan mulai Kamis (26/3/2026). Inti kebijakan itu adalah memberi bobot lebih besar pada impresi yang berasal dari wilayah lokal kreator.
X menyatakan perubahan tersebut bertujuan mendorong konten yang lebih relevan secara lokal. Perusahaan juga ingin menekan kebiasaan kreator mengejar trafik dari pasar besar seperti Amerika Serikat dan Jepang.
Namun, banyak kreator menilai pendekatan itu tidak cocok untuk ekosistem digital yang memang bersifat lintas negara. Di sejumlah wilayah, basis pengguna X masih kecil, sehingga audiens lokal belum cukup kuat untuk menopang pendapatan yang stabil.
Gelombang kritik dari kreator global
Seorang pengguna asal Portugal menjadi salah satu suara yang banyak dibagikan ulang setelah menyoroti kecilnya jumlah pengguna X di negaranya. Ia menilai kreator tidak seharusnya kehilangan pendapatan hanya karena audiens mereka tersebar di berbagai negara.
Kritik serupa datang dari Deborah, kreator asal Prancis, yang menyebut sekitar 43 persen audiensnya berasal dari Amerika Serikat. Menurut dia, penggunaan bahasa Inggris adalah strategi menjangkau pembaca global, bukan upaya memanipulasi sistem.
Masalah ini menunjukkan adanya benturan antara logika platform dan realitas para kreator. Di satu sisi, X ingin memperkuat ekosistem lokal, tetapi di sisi lain banyak kreator justru bergantung pada interaksi global untuk bertahan.
Mengapa penundaan ini penting bagi kreator
Elon Musk kemudian mengumumkan penundaan kebijakan tersebut lewat balasan singkat di X. Ia menyebut perubahan monetisasi dijeda sampai ada pertimbangan lebih lanjut.
Untuk sementara, sistem lama tetap berlaku. Artinya, kreator masih dibayar berdasarkan impresi dari akun Premium terverifikasi tanpa pembobotan geografis yang ketat.
Berikut dampak langsung penundaan itu bagi kreator:
- Pendapatan tetap mengacu pada sistem lama, sehingga risiko penurunan mendadak bisa dihindari.
- Kreator dengan audiens internasional masih bisa memonetisasi jangkauan global mereka.
- Kreator punya waktu lebih panjang untuk menyesuaikan strategi konten.
- Debat soal keadilan monetisasi belum selesai dan kemungkinan muncul lagi di kemudian hari.
Bagi banyak kreator, jeda kebijakan ini memberi ruang bernapas. Mereka bisa mempertahankan model pertumbuhan yang sudah dibangun tanpa harus buru-buru mengubah arah konten.
Dampak besar bagi kreator kripto
Efek penundaan ini juga terasa pada kreator kripto yang sangat bergantung pada audiens internasional. Banyak konten seputar Bitcoin, Ethereum, dan Decentralized Finance memakai bahasa Inggris karena topiknya memang tidak dibatasi oleh wilayah tertentu.
Menurut laporan BeInCrypto, jika skema pembobotan wilayah diterapkan, kreator dari negara dengan pasar iklan kecil seperti Kenya, Nigeria, atau Portugal bisa mengalami penurunan pendapatan. Risiko itu muncul meski mereka punya audiens besar dari Amerika Serikat.
Saat ini, X disebut masih membayar kreator berdasarkan impresi dari akun Premium terverifikasi dengan rata-rata sekitar 8,50 dolar AS per satu juta impresi. Platform juga telah menggandakan dana bagi hasil kreator untuk tahun 2026.
Arah kebijakan X masih akan diuji
Penundaan ini memperlihatkan bahwa X masih mencari formula yang pas antara dukungan untuk konten lokal dan kepentingan kreator global. Tantangannya adalah membuat sistem yang adil tanpa menghukum kreator yang tumbuh secara organik di pasar internasional.
X juga masih berupaya menekan spam dan manipulasi engagement, dua persoalan yang kerap mengganggu kualitas distribusi konten di platform. Karena itu, kebijakan monetisasi yang baru kemungkinan akan dirancang lebih ketat, tetapi juga harus mempertimbangkan kenyataan bahwa banyak kreator kini menjadikan X sebagai sumber penghasilan utama.
Source: www.idntimes.com