Kenaikan harga iPhone di pasar Indonesia disebut sedang mengalami pola yang tidak biasa. Bukan hanya model lama yang ikut terdorong naik, iPhone 17 justru disebut telah menembus harga di atas banderol saat pertama kali rilis.
Fenomena ini menarik perhatian karena berlawanan dengan pola yang selama ini umum terjadi pada produk iPhone. Setelah beberapa bulan sejak peluncuran, harga biasanya bergerak turun, tetapi kali ini sejumlah model justru naik cukup tajam.
Konten kreator sekaligus penjual iPhone, Ko Mikey, menyebut kondisi tersebut sebagai pengalaman pertama yang ia temui selama berjualan iPhone. Menurut dia, selama ini harga iPhone cenderung turun seiring waktu, bukan melonjak dalam hitungan bulan.
Ia menyoroti bahwa kenaikan belakangan ini terjadi pada beberapa generasi sekaligus. Kenaikan itu disebut tidak hanya menyentuh model terbaru, tetapi juga model yang lebih lama dan biasanya sudah mulai terkoreksi setelah beberapa waktu beredar.
Kenaikan harga beberapa model
Ko Mikey menyebut iPhone 15 pada Februari masih berada di kisaran Rp11.250.000. Namun per hari sebelumnya, harga model itu sudah berada di level Rp13 juta, atau naik hampir Rp2 juta.
Pergerakan serupa juga disebut terjadi pada iPhone 16. Pada Februari, harga iPhone 16 masih sekitar Rp13 juta, lalu naik menjadi Rp15.500.000, yang berarti bertambah sekitar Rp1,5 juta.
Kondisi yang paling ia soroti adalah iPhone 17. Model ini disebut mengalami anomali karena harganya kini lebih tinggi dibanding harga rilis resminya di Indonesia.
Saat pertama kali rilis di Indonesia, iPhone 17 disebut dibanderol Rp17.250.000. Kini, menurut Ko Mikey, harga perangkat tersebut sudah berada di angka Rp18.000.000.
Kenaikan itu dinilai tidak lazim jika dibandingkan dengan pola harga iPhone pada umumnya. Dalam kondisi normal, perangkat yang sudah beberapa bulan dirilis akan bergerak turun, terutama saat memasuki periode seperti Februari.
Mengapa disebut anomali
Poin yang membuat fenomena ini menonjol adalah posisi iPhone 17 yang justru melampaui harga awal peluncurannya. Bagi pelaku pasar yang terbiasa melihat iPhone terdepresiasi secara bertahap, kondisi seperti ini dianggap sangat jarang, bahkan disebut belum pernah ia temui sebelumnya.
Ko Mikey menyebut lonjakan harga tersebut sebagai fenomena “naik segila-gilaan”. Ia bahkan melontarkan candaan bahwa iPhone lama-lama terasa seperti instrumen investasi karena nilainya bergerak naik, bukan turun.
Meski pernyataan itu disampaikan dengan nada ringan, data harga yang ia sebut menunjukkan ada perubahan tren yang nyata di lapangan. Setidaknya, pergerakan pada iPhone 15, iPhone 16, dan iPhone 17 memperlihatkan bahwa pasar sedang berada dalam fase yang tidak biasa.
Kenaikan paling mencolok secara nominal terjadi pada iPhone 15. Sementara itu, iPhone 17 menjadi model yang paling menyita perhatian karena naik dari harga rilis, sesuatu yang dianggap bertentangan dengan pola pasar iPhone selama ini.
Dampak bagi pemilik iPhone
Dalam pandangannya, situasi ini bisa menjadi momentum bagi pemilik iPhone yang membeli perangkat mereka sebelum harga melonjak. Ia menilai periode sekarang merupakan saat yang menarik bagi mereka yang ingin menjual unit lama karena harga pasar sedang terangkat.
Saran itu terutama ditujukan kepada konsumen yang membeli iPhone pada tahun lalu atau saat harga masih belum setinggi sekarang. Dengan kondisi pasar seperti ini, selisih harga jual kembali berpotensi menjadi lebih menarik dibanding periode normal.
Namun, fenomena ini tetap perlu dibaca sebagai kondisi pasar yang sedang berlangsung, bukan sebagai pola yang pasti bertahan lama. Harga perangkat elektronik, termasuk iPhone, bisa berubah mengikuti dinamika permintaan dan situasi distribusi di pasar.
Yang jelas, data harga yang disebutkan memperlihatkan adanya lonjakan yang tidak umum pada tiga model berbeda. Di tengah kebiasaan harga iPhone yang biasanya melandai setelah rilis, iPhone 17 justru bergerak ke arah sebaliknya dan kini berada di atas harga debutnya di Indonesia.







