Pemerintah mulai menyelidiki aplikasi BAT-BMS setelah video yang memperlihatkan e-rickshaw bisa dimatikan dari jarak dekat lewat ponsel menyebar luas di media sosial. Isu ini cepat memicu kekhawatiran karena aksi tersebut tidak hanya mengganggu kendaraan di jalan, tetapi juga berpotensi membahayakan penumpang dan pengguna jalan lain.
Risikonya juga tidak berhenti pada sisi teknis. Menurut pakar hukum siber Pavan Duggal, upaya mengakses atau mematikan e-rickshaw orang lain melalui aplikasi semacam itu merupakan pelanggaran hukum yang dapat berujung hukuman penjara hingga 3 tahun dan denda Rs 5 lakh.
Duggal, yang juga menjabat chairman International Commission on Cyber Security Law, menyatakan tindakan itu masuk dalam ranah pelanggaran berdasarkan Section 66 dibaca bersama Section 43 dari Information Technology Act 2000. Ia menegaskan perbuatan tersebut dilakukan secara tidak sah ketika seseorang masuk ke sistem komputer e-rickshaw tanpa persetujuan atau sepengetahuan pemiliknya.
Peringatan itu muncul setelah sejumlah video memperlihatkan orang diduga memakai aplikasi seperti BAT-BMS dan Epoch Li-ion untuk terhubung ke kendaraan roda tiga listrik melalui Bluetooth. Setelah terhubung, kendaraan dapat dinonaktifkan di tengah jalan dengan memutus fungsi yang memasok tenaga ke motor.
Aplikasi ditarik, pemerintah bergerak
Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India atau MeitY sudah mengambil langkah awal. BAT-BMS, Epoch Li-ion, dan Lossigy telah dihapus dari Google Play Store dan Apple App Store, sementara pemerintah juga berencana memblokir aplikasi lain yang bisa disalahgunakan dengan pola serupa.
MeitY kini memeriksa BAT-BMS dan Epoch Li-ion sambil menelusuri celah yang memungkinkan pengguna mengambil alih fungsi pada kendaraan roda tiga tersebut. Fokus penanganannya bukan hanya pada distribusi aplikasi, tetapi juga pada kerentanan yang membuat akses jarak dekat itu mungkin terjadi.
Tekanan publik ikut menguatkan isu ini. Sekretaris nasional sayap muda BJP, Tajinder Bagga, mengunggah suratnya kepada Menteri TI Ashvini Vaishnav di X yang meminta pelarangan segera atas BAT-BMS karena disebut disalahgunakan untuk mematikan e-rickshaw dan kendaraan listrik melalui Bluetooth.
Bagaimana celah ini bisa dipakai
BAT-BMS sebenarnya dibuat untuk tujuan yang sah. Aplikasi itu dikembangkan oleh perusahaan China, Shenzhen Grenergy Technology, sebagai aplikasi pemantauan Battery Management System atau BMS untuk baterai lithium berfitur Bluetooth.
Pada penggunaan normal, aplikasi ini dapat menampilkan informasi seperti level baterai, tegangan, arus, suhu, siklus pakai, dan kesehatan masing-masing sel baterai. Aplikasi itu juga dapat mengendalikan fungsi pengisian dan pengosongan daya pada baterai yang kompatibel melalui Bluetooth.
Masalah muncul ketika sebagian e-rickshaw dan kendaraan roda dua di India menggunakan unit BMS Bluetooth dari pemasok China dengan perlindungan kata sandi yang minim atau bahkan tidak ada. Dalam kondisi seperti itu, pemilik kendaraan bisa jadi tidak mengaktifkan perlindungan atau tidak mengetahui bahwa sistem tersebut seharusnya diamankan.
Jika baterai dibiarkan tanpa pengamanan, orang yang berada dalam jangkauan Bluetooth, sekitar 10 hingga 15 meter, bisa mencoba terhubung ke sistem itu. Setelah berhasil masuk, mereka dapat mematikan fungsi discharge baterai yang memasok daya ke motor, sehingga kendaraan bisa langsung berhenti.
Mandar Patil, executive vice president di Cyble, mengatakan tindakan itu tidak memerlukan kemampuan peretasan tingkat tinggi. Ia menyebut pelaku tidak membutuhkan malware dan juga tidak membutuhkan akses internet untuk menjalankan aksi tersebut.
Bukan sekadar gangguan, tetapi ancaman keselamatan
Video-video yang beredar sempat diperlakukan sebagian orang sebagai lelucon. Namun menghentikan kendaraan di tengah jalan dapat menciptakan situasi berbahaya bagi penumpang, pengemudi, dan kendaraan lain di sekitar.
Dampaknya juga menyentuh sisi ekonomi para pengemudi e-rickshaw. Ketika kendaraan yang dipakai untuk mencari nafkah tiba-tiba mati di jalan, operasional mereka terganggu dan pendapatan harian bisa ikut terpengaruh.
Tidak semua kendaraan terdampak
Kerentanan ini tidak otomatis berlaku untuk semua e-rickshaw. Banyak kendaraan masih memakai baterai timbal-asam tradisional yang tidak mendukung konektivitas Bluetooth.
Sejumlah produsen juga menggunakan sistem manajemen baterai proprietary yang hanya bisa diakses melalui aplikasi khusus mereka sendiri. Pada kendaraan seperti itu, aplikasi universal seperti BAT-BMS belum tentu dapat dipakai untuk mengendalikan baterai.
Meski begitu, kasus ini memunculkan pertanyaan lebih luas untuk industri kendaraan listrik. Bharat Krishna Rao, co-founder dan CEO startup EV Emobi, menilai kerentanan serupa bisa muncul pada kendaraan roda dua, mobil penumpang, hingga armada komersial ketika Bluetooth, telematika, atau kontrol baterai jarak jauh makin banyak digunakan.
Rao mendorong adanya mekanisme evaluasi teknologi yang lebih ketat dari otoritas. Ia menekankan pentingnya keterbukaan pengungkapan, pengujian keamanan siber, pengaturan aman sebagai default, dan mekanisme pengaduan yang jelas.
Mandar Patil menilai insiden ini juga menjadi peringatan bagi pabrikan kendaraan listrik untuk mulai mengadopsi desain yang lebih aman. Sementara itu, Anirban Mukherji, founder dan CEO miniOrange, menyarankan pengemudi menonaktifkan Bluetooth saat tidak diperlukan, memakai aplikasi servis resmi, memasang pembaruan firmware dari produsen, dan segera melaporkan perilaku kendaraan yang tidak biasa.
Source: www.indiatoday.in






