Pre-Order Black Flag Resynced Melaju Kencang, Lampaui Skull and Bones di Steam

Assassin’s Creed Black Flag Resynced memulai langkahnya di Steam dengan sambutan yang sangat kuat dari pasar. Data yang dibagikan analis industri Alinea Analytics, Rhys Elliot, menunjukkan pre-order game ini mencapai 5,39 kali lebih tinggi dibanding Assassin’s Creed Shadows.

Lonjakan itu membuat Black Flag Resynced bukan hanya unggul di atas ekspektasi, tetapi juga mencatat capaian yang menyalip total penjualan seumur hidup Skull and Bones di Steam. Perbandingan ini menjadi sorotan karena keduanya sama-sama terkait dengan tema bajak laut, namun menempuh perjalanan pengembangan yang sangat berbeda.

Peminat Tinggi untuk Remake Black Flag

Black Flag Resynced hadir sebagai versi remake total dari salah satu judul Assassin’s Creed yang paling dikenal. Minat awal yang besar di Steam menunjukkan bahwa nama Black Flag masih punya daya tarik kuat di kalangan pemain.

Ubisoft tampaknya mendapat dorongan positif dari respons tersebut, terutama di tengah situasi pasar yang tidak selalu menguntungkan bagi perusahaan. Sementara itu, performa pre-order yang tinggi juga memberi sinyal bahwa nostalgia dan pembaruan visual masih menjadi kombinasi yang efektif untuk menarik perhatian pemain.

Ironi di Balik Perbandingan dengan Skull and Bones

Pencapaian Black Flag Resynced terasa ironis jika dibandingkan dengan Skull and Bones. Game bertema bajak laut itu disebut sebagai proyek ambisius yang menyerap biaya besar dan waktu pengembangan panjang sebelum akhirnya rilis di 2024.

Menariknya, Skull and Bones awalnya dikembangkan dari basis teknologi pertempuran laut milik Black Flag asli. Keterkaitan itu membuat perbandingan penjualan kedua game ini semakin menonjol, apalagi keduanya bersinggungan dengan identitas kapal, laut, dan bajak laut.

Ubisoft Singapore Kembali Menjadi Sorotan

Ubisoft Singapore memegang peran penting dalam dua proyek tersebut. Studio itu menangani Skull and Bones, dan kini juga menjadi studio utama di balik pengembangan Black Flag Resynced.

Versi remake ini membangun ulang pertempuran laut dan atmosfer bajak laut dengan grafis modern. Ubisoft juga disebut menambahkan mekanik permainan yang diperbarui dan konten narasi baru, meski mode multipemain serta bagian cerita masa depan dari game asli tidak ikut dipertahankan.

Tekanan untuk Ubisoft di Tengah Hasil yang Beragam

Angka pre-order yang besar datang pada saat Ubisoft menghadapi periode yang sulit. Perusahaan disebut berhadapan dengan gelombang PHK berkala, penutupan studio, dan performa Assassin’s Creed Shadows yang belum memuaskan pasar.

Gambaran industri yang disajikan dalam artikel referensi menunjukkan bahwa proyek game baru berskala besar kini bisa menjadi taruhan jangka panjang. Pengembangannya dapat memakan waktu enam hingga delapan tahun dengan biaya mencapai ratusan juta dolar AS.

Dalam konteks itu, hasil penjualan Assassin’s Creed Shadows menjadi perhatian tersendiri. Game tersebut disebut baru meraih sekitar 5,7 juta kopi sejak dirilis, jauh di bawah Assassin’s Creed Odyssey yang menembus 10 juta kopi dan Assassin’s Creed Valhalla yang mencatat pendapatan masif sebesar US$1 miliar atau sekitar Rp17,9 triliun.

Jadwal Rilis dan Ekspektasi Pemain

Assassin’s Creed Black Flag Resynced dijadwalkan meluncur resmi pada 9 Juli 2026. Game ini akan membawa pemain kembali ke Karibia pada era kejayaan bajak laut, dengan kehadiran karakter ikonik seperti Edward Kenway, Blackbeard, dan Charles Vane.

Tingginya pre-order di Steam membuat proyek ini langsung menjadi salah satu rilis yang paling diperhatikan musim panas ini. Jika minat awal tersebut bertahan, Black Flag Resynced berpeluang menjadi salah satu penanda penting bagi strategi Ubisoft dalam menghidupkan kembali seri klasiknya.

Source: mediaindonesia.com
Terkait