Monyet Likweli di Kongo Bersuarakan Dengkur Babi, Habitatnya Sangat Sempit

Author: Qoo Media

Hutan hujan di Republik Demokratik Kongo menyimpan primata yang lama luput dari identifikasi ilmiah. Monyet bernama Likweli ini menarik perhatian karena memiliki suara menggelegar yang disebut menyerupai katak atau dengkuran babi.

Spesies tersebut hanya diperkirakan hidup di area sekitar 1.700 kilometer persegi di bagian tengah Kongo. Sebaran yang amat terbatas membuat keberadaannya rentan terhadap perburuan liar dan perubahan fungsi lahan di sekitar habitatnya.

Primata baru dari Cekungan Kongo

Penelitian mengenai spesies ini dimuat dalam jurnal PLOS melalui studi berjudul Likweli: A remarkable new species of Colobus monkey from the Lomami National Park, Democratic Republic of Congo. Warga setempat telah mengenalnya sebagai monyet Likweli, sementara nama ilmiahnya adalah Colobus congoensis.

Penamaan congoensis dipilih untuk menghormati Cekungan Kongo yang dikenal kaya keanekaragaman hayati. Likweli menjadi spesies monyet Afrika baru kelima yang ditemukan dalam 75 tahun terakhir.

Petunjuk awal keberadaan satwa ini muncul pada 2008 saat tim ekspedisi menyusuri Sungai Lomami. Foto yang diperoleh ketika itu hanya memperlihatkan sebagian tubuh seekor monyet, tetapi cukup untuk memunculkan dugaan adanya primata yang berbeda.

Jejaknya kemudian tidak terlihat lagi hingga November 2018, ketika peneliti lapangan Jean Pierre Kapale berhasil memotretnya kembali. Kapale dan tim dari Lukuru Wildlife Research Foundation lalu melakukan patroli pemantauan selama 10 bulan dan mencatat tujuh penampakan tambahan.

Aspek Keterangan
Warna dan bulu Bulu hitam jabrik, kulit oranye krem di sekitar mulut, serta bercak putih di pinggul
Ukuran Bobot sekitar 7 kilogram dengan panjang dari hidung hingga ujung ekor sekitar 1,2 meter
Kelompok sosial Umumnya hidup dalam kelompok kecil berisi sekitar enam ekor
Wilayah jelajah Diperkirakan sekitar 1.700 kilometer persegi di bagian tengah Kongo

Ciri fisik dan perilaku yang berbeda

Monyet Likweli berbulu hitam lebat dengan warna oranye krem di sekitar mulut serta bercak putih pada bagian pinggul. Tubuhnya berbobot sekitar 7 kilogram, sedangkan panjangnya dari hidung hingga ujung ekor mencapai kurang lebih 1,2 meter.

Satwa ini hidup di kanopi hutan yang rapat dan biasanya bergerak dalam kelompok kecil. Mereka digambarkan tenang, tetapi tetap waspada ketika manusia memasuki area tempat mereka berada.

“Saat kami berpapasan dengan kelompok ini, mereka tidak langsung kabur seperti jenis primata lainnya,” kata para peneliti. “Mereka justru memanjat lebih tinggi ke kanopi hutan dan sekadar mengamati kami.”

Untuk memastikan statusnya, ilmuwan memeriksa sampel kulit, rangka, dan jaringan dari tiga individu yang mati setelah disita dari pemburu liar. Perbandingan anatomi dengan koleksi museum, termasuk bentuk tengkorak dan pola bulu, memperkuat dugaan bahwa Likweli merupakan spesies tersendiri.

Uji DNA juga menunjukkan Likweli berbeda secara genetik dari primata lain. Kerabat terdekatnya adalah kolobus hitam yang hidup lebih dari 1.100 kilometer dari wilayahnya di Afrika barat-tengah.

Kedua spesies diperkirakan berpisah dari nenek moyang yang sama sekitar lima juta tahun lalu. Likweli masuk genus Colobus, kelompok monyet Afrika Barat dan Tengah yang memiliki empat jari pada setiap tangan.

Ancaman di luar kawasan perlindungan

Menurut laporan www.cnnindonesia.com, wawancara di 52 desa yang berbatasan dengan wilayah jelajah Likweli menunjukkan hanya warga dari delapan desa yang mengenali monyet tersebut. Kondisi ini menegaskan bahwa primata itu langka, tersembunyi, dan tidak tersebar luas meski masyarakat lokal memahami jenis primata di sekitarnya.

Sebagian besar populasi Likweli berada di dalam Taman Nasional Lomami, kawasan konservasi seluas 8.800 kilometer persegi. Area perlindungan itu dibentuk setelah penemuan monyet Lesula pada 2012.

Perburuan dilarang di dalam taman nasional, tetapi kawasan penyangga tetap menjadi perhatian konservasionis. Alih fungsi lahan dan aktivitas perburuan liar di sekitar taman dapat mengganggu populasi yang hanya menempati wilayah sempit.

Para peneliti telah mencatat 114 pengamatan lapangan sepanjang 2018 hingga 2022, namun pola makan dan perilaku Likweli masih belum sepenuhnya terungkap. Kajian genomik lebih lanjut diharapkan dapat menjelaskan sejarah evolusi spesies ini serta perannya dalam ekosistem primata Afrika.

Source: www.cnnindonesia.com
Terbaru