iRobot, perusahaan asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai pencipta penyedot debu robotik Roomba, resmi mengajukan perlindungan kebangkrutan pada akhir pekan lalu. Langkah ini diambil sebagai respons atas tekanan persaingan yang semakin ketat dari produsen asal Tiongkok serta dampak kebijakan tarif impor di AS yang meningkatkan beban biaya.
Perusahaan menghadapi tantangan besar dari rival utama seperti Ecovacs Robotics yang menawarkan produk dengan harga jauh lebih kompetitif. Selain itu, tarif impor AS sebesar 46% untuk produk dari Vietnam mengakibatkan iRobot harus menanggung biaya tambahan sekitar US$23 juta di tahun 2025.
Penyebab Kebangkrutan dan Dampaknya
iRobot mencatat penurunan drastis dalam nilai pasarnya dari US$3,56 miliar pada 2021 menjadi hanya sekitar US$140 juta saat ini. Penurunan ini dipengaruhi oleh persaingan harga yang ketat dan tarif impor yang memberatkan. Tekanan ini menyebabkan perusahaan kesulitan mempertahankan profitabilitas di tengah gempuran produk robot vacuum yang lebih murah dan mudah diakses.
Selain itu, kerugian finansial iRobot bertambah melalui kewajiban membayar utang sebesar US$190 juta dari pinjaman yang diambil pada 2023, serta utang perdagangan senilai US$74 juta kepada Picea Robotics, mitra produksi utama asal Tiongkok.
Perubahan Kepemilikan Saat Proses Kebangkrutan
Dalam kesepakatan restrukturisasi, Picea Robotics akan mengambil alih 100% saham iRobot setelah proses kebangkrutan rampung. Sebagai gantinya, perusahaan tersebut akan menghapus seluruh utang yang ada, termasuk pinjaman dan utang perdagangan. Proses ini menjadikan iRobot sebuah perusahaan privat di bawah kendali penuh Picea Robotics.
Meski terjadi perubahan kepemilikan, iRobot menegaskan bahwa operasional perusahaan seperti layanan pelanggan, dukungan produk, dan hubungan dengan mitra serta pemasok global akan tetap berjalan normal tanpa gangguan. Pembayaran kepada pemasok dan kreditur juga dipastikan tetap dilunasi secara penuh.
Jejak dan Posisi iRobot di Pasar Global
Didirikan sejak 1990 oleh tiga ahli robotika dari MIT, iRobot awalnya fokus pada teknologi pertahanan dan eksplorasi luar angkasa. Pada 2002, perusahaan ini menelurkan produk ikonik Roomba yang kemudian mendominasi pasar vacuum robot.
Roomba masih menguasai pangsa pasar penting dengan sekitar 42% di Amerika Serikat dan 65% di Jepang. Namun, upaya akuisisi oleh Amazon senilai US$1,4 miliar sempat gagal akibat hambatan regulasi kompetisi usaha dari Uni Eropa, yang memperlihatkan tantangan lain dalam pengembangan iRobot.
Dampak Kebangkrutan terhadap Konsumen dan Industri Robotik
Proses kebangkrutan iRobot menandai babak baru dalam industri robotik konsumen yang sangat kompetitif. Meski menghadapi kesulitan, merek Roomba tetap menjadi pemain utama di pasar vacuum robot yang semakin berkembang.
Pelanggan lama tetap dapat mengandalkan produk dan layanan purna jual mereka karena iRobot dan Picea Robotics menjamin kontinuitas dukungan teknis dan layanan. Hal ini menjadi penting agar kepercayaan konsumen tidak terganggu selama masa transisi kepemilikan.
Faktor Kunci dalam Transformasi iRobot
- Tekanan persaingan harga dari produsen asal China, terutama Ecovacs Robotics.
- Kebijakan tarif impor AS sebesar 46% yang meningkatkan biaya produksi dan distribusi.
- Penurunan nilai perusahaan drastis dari miliaran dolar menjadi ratusan juta dolar.
- Restrukturisasi utang melibatkan hapus utang oleh Picea Robotics sebagai imbalan kepemilikan saham.
- Kepastian kelangsungan layanan pelanggan dan operasional selama masa restrukturisasi.
Proses ini menandai berakhirnya era iRobot sebagai perusahaan publik asal AS, sekaligus membuka fase baru di bawah kepemilikan korporasi manufaktur besar dari China. Perkembangan ini juga menjadi gambaran nyata dampak perdagangan global dan dinamika persaingan teknologi tinggi dalam industri robotik rumah masa kini.
Baca selengkapnya di: www.suara.com






