Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan Senin pagi, 2 Maret 2026, rupiah diperdagangkan di level Rp16.831 per dolar AS, melemah 44 poin atau 0,26 persen dibanding hari sebelumnya.
Pelemahan rupiah ini dipicu oleh eskalasi konflik yang terjadi setelah serangan antara Israel dan Iran yang terjadi pada akhir Februari 2026. Iran membalas serangan dengan menembakkan rudal ke beberapa lokasi strategis termasuk Tel Aviv dan pangkalan militer Amerika Serikat di beberapa negara Teluk. Kondisi ini meningkatkan risiko pasar global dan menimbulkan tekanan pada mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Rupiah dan Harga Komoditas
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah akan menimbulkan gejolak besar pada nilai tukar rupiah dan harga komoditas global. Harga emas dunia berpotensi naik signifikan karena emas dianggap sebagai aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik. Saat ini, harga emas dunia berada di kisaran US$5.280 per troy ons dan diperkirakan dapat melonjak hingga US$5.365–US$5.500 per troy ons.
Kenaikan harga emas dunia ini juga akan langsung berimbas pada pasar domestik, khususnya harga emas per gram di dalam negeri yang kemungkinan naik ke rentang Rp3.150.000 hingga Rp3.400.000. Sementara rupiah diprediksi tidak menutup kemungkinan menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS apabila ketegangan berlanjut.
Faktor Pemicu Pelemahan Rupiah Lainnya
Selain konflik yang terjadi di Timur Tengah, rupiah juga mendapat tekanan dari isu tarif impor baru yang diterapkan oleh Presiden AS Donald Trump. Kebijakan ini menambah beban terhadap daya saing produk Indonesia di pasar ekspor dan meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi global.
Ibrahim menegaskan pentingnya peran Bank Indonesia (BI) untuk segera melakukan intervensi dan pengawasan kebijakan moneter guna menstabilkan rupiah. Intervensi yang tepat di pasar spot dan forex menjadi kunci meredam volatilitas yang disebabkan oleh faktor eksternal.
Ancaman Jangka Panjang untuk Stabilitas Rupiah
Konflik di Timur Tengah berpotensi memicu ketidakstabilan geopolitik yang lebih luas, terutama jika melibatkan negara-negara besar seperti Tiongkok dan Rusia sebagai pendukung Iran, serta Amerika Serikat dan sekutunya yang mendukung Israel. Kondisi ini diperkirakan akan memperburuk ketidakseimbangan pasar keuangan dunia.
Organisasi Maritim Internasional (IMO) sudah mengeluarkan peringatan agar kapal yang melintasi Selat Hormuz sangat berhati-hati dan diimbau untuk menghindari wilayah tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur strategis pengiriman minyak dunia, sehingga gangguan di sana dapat menyebabkan kenaikan harga minyak yang berdampak negatif pada perdagangan global.
Rangkuman Perkiraan Risiko Pasar
- Ruang pelemahan rupiah berpotensi melebar menembus Rp17.000 per dolar AS.
- Harga emas global dan dalam negeri akan mengalami kenaikan signifikan.
- Bank Indonesia perlu melakukan intervensi cepat untuk perlindungan nilai tukar.
- Konflik Timur Tengah berpotensi memperpanjang ketidakpastian pasar keuangan.
- Gangguan jalur minyak utama dapat memicu inflasi dan tekanan ekonomi global.
Pemantauan ketat terhadap dinamika geopolitik sekaligus langkah penyelamatan ekonomi menjadi sangat penting agar dampak pelemahan nilai tukar rupiah tidak semakin luas dan berjangka panjang. Bank Indonesia bersama pemerintah harus bersiap menyesuaikan kebijakan agar stabilitas moneter dapat terus terjaga.





