Harga Plastik Melonjak Hingga 100 Persen, Laba UMKM Terkikis 25 Persen

Author: Qoo Media

Kenaikan harga plastik mulai menekan pelaku UMKM di berbagai daerah karena biaya kemasan ikut terkerek tajam. Dampaknya tidak hanya terasa pada pedagang makanan dan minuman, tetapi juga pada usaha kebutuhan pokok yang sulit menaikkan harga jual tanpa kehilangan pelanggan.

Sejumlah pelaku usaha mengaku laba mereka menyusut hingga 16 persen sampai 25 persen akibat lonjakan biaya plastik. Kondisi ini membuat banyak UMKM terpaksa menahan harga produk, meski modal operasional terus membesar dari hari ke hari.

Tekanan biaya paling terasa di lapangan

Di Pasar Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Timan yang berjualan beras merasakan tekanan langsung dari mahalnya plastik kemasan. Ia menyebut keuntungan berkurang sekitar Rp 5.000 per karung beras karena harus menambah modal untuk membeli plastik.

Timan tidak bisa sekadar menaikkan harga jual. Beras masuk dalam pengawasan Harga Eceran Tertinggi atau HET, sehingga ruang untuk menyesuaikan harga menjadi sangat terbatas.

Kondisi serupa dialami Sata, pedagang pukis di pasar yang sama. Harga plastik kemasan pukis naik dari Rp 8.000 menjadi Rp 12.000 per pack, sementara mika melonjak dari Rp 18.000 menjadi Rp 25.000.

Untuk menjaga pelanggan, Sata memilih mempertahankan harga jual. Pilihan itu menolong daya saing produk, tetapi membuat laba usahanya merosot hingga 25 persen.

Harga berubah cepat dan membuat pedagang sulit menyesuaikan

Lonjakan harga plastik juga dirasakan para pedagang perlengkapan kemasan. Halimah, pemilik toko plastik di Pasar Lenteng Agung, mengatakan harga barang bisa berubah setiap hari dan bahkan berbeda antara siang serta malam.

Perubahan harga yang cepat ini disebut mulai terjadi sejak Ramadan atau awal Maret. Dalam satu kasus, plastik yang dibeli dari distributor seharga Rp 9.500 per pack bisa naik menjadi Rp 11.000 per pack dalam waktu singkat.

Situasi tersebut membuat pedagang dan pembeli sama-sama berhati-hati. Banyak UMKM kini membeli barang kemasan hanya untuk kebutuhan satu hari agar tidak menanggung risiko kerugian dari stok yang telanjur mahal.

Dampak bagi UMKM yang bergantung pada kemasan

Kenaikan harga plastik punya efek berantai terhadap usaha kecil yang sangat bergantung pada kemasan. Bagi pedagang makanan, minuman, beras, dan produk harian lain, plastik bukan lagi biaya pelengkap, melainkan komponen penting dalam harga pokok penjualan.

Tekanan ini memunculkan beberapa penyesuaian di lapangan, antara lain:

  1. Mengurangi volume pembelian agar modal tetap terkendali.
  2. Menahan harga jual walau margin menyusut.
  3. Mencari kemasan alternatif yang lebih murah.
  4. Membatasi stok harian untuk menghindari kerugian dari harga distributor yang berubah cepat.

Langkah-langkah tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan masalah, karena kenaikan harga bahan kemasan tetap menekan arus kas UMKM. Pada banyak usaha kecil, margin memang tipis sejak awal sehingga kenaikan biaya sekecil apa pun bisa langsung terasa di laba.

Pemerintah mencari solusi pasokan dan bahan baku

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengakui tekanan yang dirasakan pelaku usaha kecil akibat kenaikan harga plastik. Ia menyebut banyak UMKM memilih tidak menaikkan harga jual demi menjaga pelanggan, namun konsekuensinya keuntungan menjadi semakin menipis.

Pemerintah bersama industri plastik kini mengkaji dua jalur solusi. Untuk jangka pendek, pasokan bahan baku nafta dicari dari negara selain Asia Barat, termasuk Afrika, India, dan Amerika Serikat.

Langkah ini dilakukan karena nafta, bahan dasar plastik, selama ini banyak dipasok dari Asia Barat yang terdampak konflik. Gangguan pasokan inilah yang ikut mendorong harga bahan baku dan merembet ke harga plastik di pasar.

Dalam jangka panjang, pemerintah melihat perlunya bahan baku alternatif dari dalam negeri. Maman Abdurrahman menyebut singkong dan rumput laut sebagai opsi yang sedang dikaji, sementara Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menilai minyak sawit mentah atau CPO juga dapat menjadi sumber diversifikasi.

Mengapa isu ini penting bagi UMKM

Lonjakan harga plastik menunjukkan betapa rapuhnya struktur biaya UMKM ketika satu komponen produksi naik tajam. Selama harga kemasan belum stabil, pelaku usaha kecil akan terus berhadapan dengan dilema antara menjaga harga jual atau mempertahankan margin.

Di pasar tradisional, gangguan harga seperti ini bisa langsung memengaruhi perputaran barang, keputusan belanja pedagang, dan daya tahan usaha harian. Selama pasokan bahan baku belum membaik, tekanan pada UMKM kemungkinan masih berlanjut dan menuntut respons yang lebih cepat dari rantai pasok industri kemasan.

Terbaru